
Di sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dengan pencahayaan yang minim, terdapat seorang pria yang tidak dapat dikatakan baik-baik saja, bagaimana tidak wajahnya babak belur dengan luka yang memenuhi wajah dan badanya.
Tangan dan kakinya dirantai, dia dalam keadaan tidak sadarkan diri setelah dipukul habis -habisan dan tidak ada tenaga lagi.
Byurrr
Dion mulai membuka matanya saat wajah dan badanya disiram air. Seorang pria dengan pakaian jas putih dan celana hitam masuk kedalam ruangan tersebut, senyuman yang terukir dibibirnya begitu mengerikan bagi anak buahnya. Dia mengambil sarung tangan hitamnya dan berjalan kearah Dion.
"Bagaimana? Hadiah yang kuberi padamu? " tanya Vano sambil tersenyum smirk.
"Lepaskan aku sialan " teriak Dion didepan wajah Vano.
"Tidak semudah itu, kau harus menerima hukuman dariku ,karna telah berani menyentuh gadisku" ujar Vano menatap tajam dengan tatapan penuh amarah ketika mengingat Dion menyentuh dan menyiksa Syilla.
"Ambilkan pisau " perintah Vano dengan tatapan yang tak beralih dari Dion.
Anak buah Vano mengambilkan pisau yang disuruh Vano .
"Wah, sudah lama sekali saya tidak memainkan pisau ini, bagaimana kita buat maha karya di tanganmu" ujar Vano sambil menggoreskan pisau itu ditangan Dion.
"Akkkkh, hentikan" teriak Dion saat Vano menggoreskan pisau itu ditangan Dion, darah segar menetes dari tangan Dion. Vano tertawa puas mendengar jeritan Dion yang dianggap nyanyian yang merdu.
"Arrrggghhh, hentikan tolong! " jerit Dion saat telapak tangannya ditusuk oleh pisau hingga tembus.
Ciko yang melihatnya memalingkan wajahnya merasa jijik dan ngeri melihat bagaimana Vano menyiksa Dion tanpa ada rasa takut ataupun kasian diwajah Vano yang dia lihat tuannya itu begitu menikmati apa yang dia lakukan sekarang.
"Iblis kau Vano" lirih Dion saat Vano menusuk perut Dion berkali-kali hingga pria itu menghembuskan napas terakhirnya dengan keadaan mengenaskan. Vano melepaskan sarung tangan yang penuh darah, hingga jasnya juga terkena cipratan darah Dion.
"Buang jasadnya dihutan, jangan meninggalkan jejak, apa kalian paham" perintah Vano yang mendapat anggukan dari anak buahnya yang berjumlah sepuluh orang. Ciko menutup hidung yang tak kuat mencium bau anyir.
πππππππππππ
Brakkk
Nilam membanting pas bunga dan membanting semua barang yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Kenapa Tuhan gak adil, kenapa? " teriak Nilam sambil mengacak rambutnya frustasi.
"Aku cinta sama kamu mas Vano! "
"Kenapa kamu tolak aku!!aku benci kamu "
"Aaaaaa, hiks.. hiks aku benci kamu "
Seorang wanita paruh baya yang merupakan mama dari Nilam masuk kedalam kamar putrinya ketika dia mendengar suara bantingan dan teriak putrinya.
Nesa masuk dan kaget melihat kamar yang sudah berantakan, pecahan kaca berserakan dimana-mana. Matanya mengarah pada putrinya yang menelungkupkan kepalanya yang berada di sudut kamar.
"Nilam kamu kenapa nak? " lirik Nesa . Nilam mendongakkan kepalanya dengan keadaan mata sembab dan rambut yang acak-acakkan.
"Kamu kenapa? Kenapa kamu jadi gini Nilam? "Nesa menarik Nilam kedalam pelukannya .
" Mas Vano nolak aku mah, dia udah menikah "lirik Nilam dengan air mata yang membasahi pipi nya.
" Aku gak mau kehilangan mas Vano lagi hiks.. Aku cinta banget sama dia mah hiks.. "adu Nilam.
"Iya mah, bantu aku supaya bisa dapeti Vano please mah, aku mohon" pinta Nilam yang melepaskan pelukan mamanya dan menyatukan kedua tangannya dan memohon agar mamanya mau membantu.
Nesa memandang anaknya iba, dia tak tega melihat putrinya seperti ini. Dia hanya punya Nilam sekarang setelah kepergian suami dan anaknya Rania.
"Iya mama bakal bantu kamu nak"ujar Nesa
Nilam terdiam dan memandang mamanya sejenak, senyumannya terukir.
" Beneran mah, mama bakal bantu aku ? "tanya Nilam.
" Iya nak, demi kamu mama akan lakuin apa aja yang penting kamu bahagia"ujar Nesa.
"Terus apa yang harus kita lakuin mah, biar aku bisa dapetin mas Vano? " tanya Nilam.
"Kita singkirkan istrinya dulu, dan setelah itu kamu dekati Vano secara perlahan dan luluhkan hatinya " ujar Nesa .
__ADS_1
"Gimana caranya mah? " tanya Nilam.
Nesa membisikan rencananya, membuat Nilam tersenyum dengan ide mamanya yang begitu dia setujui.
*********
"Mas, kamu tadi kemana ? " tanya Syilla.Vano berbalik menghadap Syilla.
"Saya ada urusan, jadi tidak sempat untuk memberitahu kamu" balas Vano. Pria itu mendekat kearah Syilla dan memeluknya.
"Jangan begadang, ayo tidur sudah malam" ajak Vano, meraih tangan Syilla. Tangan Vano dicekal Syilla, Vano menoleh kearah Syilla mengangkat satu alisnya.
"Kenapa? " tanya Vano.
"B-baju mas kok ada darah? " tanya Syilla yang menatap bercak darah dibaju Vano.
"Ini tadi saya menolong orang yang tadi kecelakaan, mungkin saat saya mengangkatnya darahnya kena saya" ujar Vano bohong.
"Ayo kita tidur, sudah malam " Vano menarik tangan Syilla, menggiring nya kekamar.
*******
Vano dan Syilla menuruni tangga menuju meja makan, untuk sarapan pagi. Syilla mengernyitkan dahinya , melihat banyaknya makanan dimeja makan.
"Kenapa banyak sekali makanannya? " tanya Syilla pada pelayanan disana.
"Aku yang memasak makanan ini" jawab seorang wanita yang baru muncul dari arah dapur.
Syilla dan Vano menatap kearah wanita tersebut, Vano menatap tajam Nilam sedangkan Syilla bingung melihat wanita yang belum dia kenal sebelum berada di mension ini.
"Perkenalkan aku Nilam dan merupakan adik dari mendiang kak Rania" Nilam menjulurkan tangannya kearah Syilla dan langsung disambut Syilla.
Nilam memandang remeh Syilla yang tak sebanding dengannya. Nilam memiliki tinggi 170 cm dan memiliki tubuh ramping , rambut sebahu dan kulit kuning langsat.
Sedangkan Syilla hanya tinggi 156 cm, kulit putih, rambut panjang yang sedikit kecoklatan dan memiliki wajah yang tak kalah cantik dari Nilam.
__ADS_1
Bersambung....