
Vano mengepalkan tangannya , rahangnya mengeras setelah mendapat informasi bahwa sopir yang membawa Syilla terkapar dijalan dengan keadaan babak belur dan istrinya dibawa pergi.
"Kurang ajar, beraninya mereka menculik istriku" teriak Vano dengan suara menggelegar memenuhi ruangan dan membuat para pelayan ketakutan.
Vano menelpon asistennya ciko.
"Ciko siapkan anak buah dan cepat lacak dimana Syilla sekarang " ujar Vano dan langsung memutuskan sambungan panggilannya .
"Baiklah kau tidak tau sedang berhadapan dengan siapa, menyentuh milikku sama saja menyerahkan nyawamu padaku" ujar Vano sambil menyeringai.
Syilla mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya di ruangan tersebut. Dia memegangi kepalanya yang terasa pusing. Matanya menyapu seluruh ruangan yang asing baginya.Gadis itu berusaha bangun dari ranjang tapi kakinya terasa lemas tak sanggup untuk menahan berat tubuhnya membuat dia terjatuh ke lantai.
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok Dion yang berjalan kearah Syilla yang tengah berusaha berdiri. Pria itu berjongkok dihadapan Syilla.
"Mau kabur? Tapi sayang aku takkan membiarkannya" ujar Dion sambil membelai pipi Syilla.
"Lepas, jangan sentuh gue dengan tangan kotor lo" ketus Syilla dengan menatap tajam Dion.
Namun pria itu tak mendengarkan ucapan Syilla, dia mengangkat tubuh Syilla dan meletakkannya dikeranjang.
"Jangan seperti itu bicara dengan gue, karna sebentar lagi gue bakal jadi suami lo " ujar Dion membuat Syilla kaget.
"Lo gila Dion, gue udah nikah dan bila gue belum nikah pun gue gak bakal nikah sama pria brengsek kaya lo" teriak Syilla dihadapan Dion dengan napas turun naik.
"Gue gak peduli, mau ataupun tidak kita akan tetap menikah " timpal Dion
"Gak akan, lihat saja pasti mas Vano bakal datang kesini dan ngajar lo " ujar Syilla.
Plakk
Dion menampar pipi kanan Syilla dengan wajah penuh emosi karna tidak suka gadis itu menyebut nama Vano.Syilla memegangi pipinya yang terasa perih akibat tamparan Dion dan tak dapat membendung air mata yang mulai tumpah.
"Jangan sebut nama pria sialan itu" Dion dengan penuh penekanan.
"Kenapa hah? Semarahnya mas Vano dia gak pernah main fisik sama gue , gak kaya lo pria bajingan" ujar Syilla dengan tubuh gemetar.
Plakk
Pria itu kembali menampar pipi kiri Syilla, hingga sudut bibir Syilla mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Sakit Dion hiks.. " Syilla memegangi pipinya yang terlihat lebam.
"Akhhh.. sakit lepasin, sakit" jerit Syilla ketika Dion menarik rambutnya dengan kuat.
"Gue bakal lepasin asal lo mau nikah sama gue" ujar Dion.
Syilla meludahi wajah Dion membuat pria itu meradang .
"Dasar wanita sialan ,lihat apa yang akan gue lakuin sama lo" Ujar Dion yang memanggil anak buahnya untuk mengambil sebuah suntikan.
"Kita lihat bagaimana bila cairan obat perangsang ini gue suntikan ketubuh lo"ujar Dion sambil tersenyum mesum.
Syilla menggelengkan kepalanya, dia tau betul obat perangsang itu apa.
"J-jangan Dion gue mohon, jangan " ujar Syilla beringsut menjauh, tapi tangannya sudah dipegang oleh anak buah Dion membuat dia tak bisa bergerak.
Dion menyuntikkannya dileher Syilla, Gadis itu hanya menangis sesegukan dia pasrah dengan apa yang akan Dion lakukan padanya.
"Kalian boleh keluar, kunci pintunya dari luar dan jaga jangan sampai ada yang masuk" perintah Dion.
"Mari kita nikmati malam ini sayang" ujar Dion mendekat kearah Syilla.
Dion mencium kening Syilla ,dan pindah kepipi gadis itu. Hingga pria itu mencium bibir Syilla.
Syilla mendorong dengan tenaga yang tersisa dan tiba-tiba kesadarannya mulai hilang.
ππππππππ
Gadis itu mulai membuka matanya perlahan sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dia merasakan area sensitifnya yang terasa perih.Gadis itu menangis sesegukan karna dia fikir Dion sudah memperkosanya.
"Kenapa nangis, masih sakit sayang" Syilla tersentak mendengar suara lembut yang dikenal.
Syilla mendongak dan dia kaget melihat Vano menatapnya sambil mengusap kepalanya. Ditatapnya suaminya yang juga sama-sama telanjang dengan tubuh yang tidak tertutup benang pun dan hanya ditutupi selimut.
"Mas ini beneran kamu? " tanya Syilla yang tak percaya, gadis itu mengucek matanya dan benar itu memang Vano.
"Iya sayang, apa masih sakit pipinya? " tanya Vano sambil mengusap pipi Syilla lembut. Gadis itu membalas dengan anggukan.
"Katakan dibagian mana saja si brengsek itu menyentuhmu? " tanya Vano.
__ADS_1
Syilla menunjuk dahi, pipi dan bibir. Vano mencium dahi , pipi Syilla dengan lama hingga beralih ke bibir Syilla ,menciumnya dengan lembut.
"Mas kenapa bisa ada disini bukannya Dion mau... " ucapan Syilla terjeda, dia tak sanggup melanjutkannya.
"Sudah jangan difikirkan, sekarang tidur besok kita pulang dan ternyata kamu ganas juga ya" ujar Vano sambil terkekeh.
"Mas.. " rengek Syilla sambil menyembunyikan wajahnya didada telanjang Vano.
flashback
*Brakk
Vano menendang pintu kamar itu hingga terbuka. matanya memanas, rahangnya mengeras hingga urat di lehernya terlihat.
Vano menarik tubuh Dion yang mencumbu istrinya dan menghanjar Dion membabi buta.
Bugh
Bugh
Bugh
"kurang ajar beraninya kau menyentuh istri sialan" umpat Vano dan kembali menghajar Dion. Sedangkan pria itu tak dapat melawan Vano yang seperti orang kesetanan.
"Ciko urus si brengsek ini bawa dia ketempat biasanya, jangan sampai di kabur" perintah Vano. Ciko menyuruh anak buahnya membawa Dion.
"sepertinya tuan Vano akan seperti dulu" batin Ciko.
Vano menghampiri Syilla yang tak sadarkan diri. Dia begitu sakit melihat pipi gadisnya lebam akibat perbuatan Dion.
"Lihat saja akan aku patahkan tanganmu Dion" gumam Vano.
"Panas, panas "jerit Syilla ketika obat perangsang itu mulai beriaksi.
" Sialan kau Dion, untung aku datang tepat waktu"gumam Vano.
Vano melakukan hubungan b*d*n dengan Syilla ,karna dengan cara ini pengaruh obat itu mulai menghilang.
Bersambung*...
__ADS_1