Menikah Karna Kesalah Pahaman

Menikah Karna Kesalah Pahaman
Kebenaran 4


__ADS_3

Syilla meringis sambil memegangi perutnya yang terasa sakit. Mungkin ini sudah waktunya dia akan melahirkan.


"MAS!! MAS DEVAN !! " teriak Syilla sambil memegangi perutnya.


Devan masuk kedalam kamar ketika namanya dipanggil.


"Kenapa Syilla? Kamu ngompol? " tanya Devan.Karna yang Devan lihat lantai yang basah, tepat dimana Syilla berdiri dan berpikir gadis ini mengompol.


"Aku bukan ngompol, tapi ini air ketubannya pecah, aku mau lahiran mas" lirih Syilla.


"Apa melahirkan!! Ayo mas gendong " Devan mengangkat Syilla dengan sekuat tenaga, karna bobot tubuh Syilla yang berat karna kehamilannya.


Devan menjalankan mobil dengan cepat, untung jalanan sepi.


"Mas cepat sakit hiks.. " jerit Syilla sambil meremas tangan Devan yang menggenggam tangannya. Devan meringis merasakan remasan tangan Syilla pada tangannya.


Tidak butuh lama mobil Devan sudah sampai didepan rumah sakit.


"DOKTER!! SUSTER!! TOLONG DIA MAU LAHIRAN!!" teriak Devan.


"Ayo pak, bawa istrinya ke ruang persalinan" ucap suster tersebut. Devan mengikuti suster tersebut dan membawa masuk Syilla kedalam ruangan persalinan.


Devan hendak keluar dari ruangan tersebut, tapi Syilla menahan pergelangan nya.


"Mas jangan tinggalin aku, temenin " lirih Syilla.


Devan terdiam sejenak, dan kemudian mengangguk.


"Ayo buk, narik napasnya ".


" Akkkkhh, sakit mas hiks.. "jerit Syilla


" Syilla ayo kamu pasti bisa yah, kamu harus kuat demi dedek"Devan memberi semangat. Gadis itu menangis sambil berusaha melahirkan bayinya . Peluh membanjiri seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Ayo buk, sedikit lagi " ujar dokter tersebut.


"Mas aku gak kuat, aku nyerah aja" keluh Syilla. Devan menggeleng kuat dengan air mata yang membasahi pipi nya. Dia tidak tega melihat wajah Syilla yang kesakitan. Devan mengusap peluh yang membanjiri wajah Syilla. Dia tidak menyangka ternyata tidak mudah seorang wanita untuk melahirkan, apalagi melihat Syilla yang begitu kesakitan saat melahirkan.


Syilla berusaha melahirkan bayinya dengan terus memegang lengan Devan. Pria itu mengusap lembut kepala Syilla sambil membisikkan doa-doa yang dia hafal ditelinga Syilla agar sedikit tenang. Dan akhirnya Syilla melahirkan bayi nya.


"Selamat bayinya Laki-laki" ucap dokter tersebut.


Syilla tersenyum bahagia, setelah berhasil melahirkan bayinya.


"Ulululuh, lucunya anak ayah " Devan menggendong bayi yang masih memerah tersebut, setelah suster tadi membersihkan bayinya.


"Aduh, gantengnya tapi kok mukanya mirip Vano sih" ucap Devan kesal. Seharusnya mirip dia ,karna dia yang paling tersiksa disini selalu menuruti permintaan Syilla saat mengidam.


Devan mencium pipi gembul bayi tersebut . Bayi itu diam anteng, hanya menampilkan wajah datar persis kaya Vano.


"Mas, aku mau liat bayiku" ucap Syilla.


Devan menyerahkan bayi tersebut ke Syilla. Gadis itu nampak terlihat bahagia menggendong bayinya untuk pertama kalinya.


"Kenapa, melihat aku kaya gitu ? " Devan yang merasa heran dengan tatapan Syilla.


"Ini bayinya mukanya gak mirip aku, cuma matanya aja yang mirip. Tapi wajahnya juga gak mirip kamu " ujar Syilla. Devan meneguk ludahnya kasar. Bagaimana mau mirip kalau ayahnya Vano.


"Gak usah dipikirin dia mirip siapa, sekarang kita pikirin nama yang cocok buat bayi lucu ini " ujar Devan sambil mencubit pipi gembul bayi tersebut.Sontak bayi itu menangis karna cubitan Devan .


"Mas! " Syilla menatap tajam Devan. Sedangkan yang ditatap hanya cengengesan.


*****


Devan , dengan kaki lebarnya berjalan cepat, dengan menenteng satu kantong plastik berisi bubur. Karna tergesa-gesa dia menabrak seseorang.


Brakk

__ADS_1


Bubur yang dibawa Devan jatuh kelantai dan dia juga terjatuh dengan orang yang menabraknya.


"Aww, kalau jalan pakai mata" gerutu Nilam sambil membersihkan roknya dan menatap kearah orang yang menabraknya.


"Devan! " Nilam kaget melihat Devan yang berada di rumah sakit dan Devan pun sama kagetnya.


"Kamu ngapain disini? " tanya Nilam. Devan terdiam mematung, tidak mungkin dia mengatakan sedang menemani Syilla dirumah sakit.


"Kenapa nanya? Ini rumah sakit siapa saja boleh kesini " ketus Devan.Pria ini bersikap ketus dengan Nilam karna memang dari dulu dia tidak menyukainya.


"Aku cuma tanya , gak usah ketus" ucap Nilam.


"Kepala kamu kenapa? " sekarang Devan yang bertanya.


"Ini karna Vano benturin kepala aku ke tembok " ucap Nilam. Sedangkan Devan tertawa, dia tidak menyangka Vano akan sekejam itu, tapi memang pantas Nilam mendapatkannya.


"Kenapa kamu malah ketawa? " tanya Nilam dengan wajah tak suka.


"Enggak, cuma lucu saja, kenapa tidak sekalian dia mematahkan tanganmu, hahaha... " ucap Devan diselingi tawa dan beranjak pergi meninggalkan Nilam. Wanita itu menatap kepergian Devan dengan tatapan sinis.


******


Vano terus mendengarkan penjelasan Devan, tapi sesekali dia tertawa mendengar kepala Devan yang di botaki karna Syilla. Dimas dan Riana pun juga mendengarkan penjelasan Devan.


"Maaf, aku menuduh kamu, tapi kenapa tidak kamu beritahu aku. Aku juga bisa melindungi Syilla dan anakku" ujar Vano.


"Cih, kalau kamu bisa melindungi Syilla, tidak mungkin istrimu itu sampai kecelakaan" ejek Devan.


Vano menatap tajam Devan,membuat pria itu yang tadinya tertawa kini terdiam.


"Vano kita harus memberi pelajaran pada Nilam dan mamanya " ucap Riana. Dia pikir Nilam wanita baik-baik tapi dia orang yang memakai topeng untuk menutupi sifat aslinya yang busuk.


"Tenang mah, Vano sudah menyiapkan sesuatu yang pantas mereka dapatkan, untuk membayar semua yang telah mereka lakukan" ucap Vano dengan tersenyum miring.

__ADS_1


"Aku setuju Van, itu wanita ular gak akan jera, bila tidak dikasih pelajaran " timpal Devan. Sedangkan Vano duduk di sofa sambil menopang dagu,memikirkan hukuman apa yang pantas untuk Nilam dapatkan .


Bersambung....


__ADS_2