
"Eeugh" Syilla mulai melenguh dan mulai membuka matanya perlahan. Dia merasa ada beban berat yang menindih kaki dan perutnya. Gadis itu menatap sebelahnya, matanya membola melihat seorang pria memeluknya erat dan itu pria asing yang mengurung dia tadi.
Mata menyapu sekeliling kamar mencari anaknya Vino yang tidak ada disini.
"Hey, dimana anakku" Syilla memukul badan Vano.
"Sudah sayang jangan dipukul, saya masih ngantuk " gumam Vano dengan suara serak khas bangun tidur yang terdengar sexy ditelinga Syilla membuat dia mendengar merinding. Pria itu kembali tertidur lagi.
Gadis itu berusaha melepaskan pelukan erat Vano di perutnya dan akhirnya terlepas. Vano hanya melirik Syilla sekilas dan kembali melanjutkan tidurnya.
"Kenapa gak bisa dibuka pintunya, pasti dikunci sama pria itu" Syilla berjalan kearah Vano dan mengoyangkan badan pria itu kasar. Mau tidak mau Vano terpaksa membuka matanya dan melihat Syilla sudah berdiri di depannya.
"Kenapa hmm? mau cium? " ucap Vano. Syilla mengubah raut wajahnya menjadi marah pada Vano dan melayangkan tangannya ke pipi pria yang masih berbaring itu.
Plakk
Vano memegangi pipinya terasa panas, ketika mendapat tamparan dari Syilla. Apa salahnya dia hanya bilang seperti itu.
"Dasar pria brengsek, pertama kamu kurung aku dikamar , dan kedua tidur dengan aku, sekarang minta cium dasar bajingan kamu" makian keluar dari mulut Syilla. Gadis itu ngambil bantal dan memukul Vano tanpa henti. Vano yang sudah mulai geram dengan tingkah Syilla, menarik tangan gadis itu dan langsung menindihnya. Entah mengapa keberaniannya mulai menghilang dan Syilla mulai menciut. Vano memegangi kedua tangan Syilla, membuat gadis itu tidak bisa berkutik.
__ADS_1
"Sekarang ayo pukul saya" ejek Vano.
"Bagaimana bisa mukul kamu pegang dua tangan aku. Sekarang lepasin gak, aku teriak nih" ancam Syilla. Vano malah tertawa sambil menatap wajah Syilla.
"Kenapa ketawa hah? " ketus Syilla.
"Kamu kalau teriak gak akan orang denger karna kamar ini kedap suara, jadi kalau saya apain kamu tidak ada yang tau"ujar Vano.
Syilla meneguk ludahnya kasar , pria itu malah makin tertawa melihat wajah takut istrinya. Entah sudah berapa lama dia tidak tertawa lepas seperti ini.
" Syilla kamu beneran gak ingat sama saya? "Vano mengubah raut wajahnya menjadi serius.
" Kan saya sudah bilang saya suami kamu, masa kamu gak percaya, saya tanya kamu merasa nyaman gak deket sama saya "ujar Vano. Syilla mengangguk, dia tidak bisa membohongi perasaannya bila dekat dengan Vano, dia merasa nyaman dan jantungnya berdegup kencang. Vano tersenyum dan mendekatkan wajahnya, Syilla menutup matanya ketika wajah Vano makin dekat.
" VANO!!! BUKA PINTUNYA KALAU GAK BUKA MAMA DOBRAK NIH PINTU!! "ancam Riana yang berada di luar.
" Shit "umpat Vano. Sedikit lagi, tapi mamanya seperti tidak ingin melihat anaknya senang. Vano bangkit dari tubuh Syilla, gadis itu membuka matanya.
"Kamu jangan keluar, awas keluar saya buat kamu gak bisa jalan kalau kamu gak nurut" ancam Vano. Syilla mengangguk, menuruti perintah pria itu.
__ADS_1
Vano baru membuka pintu kamar tapi langsung mendapat jeweran dari Riana.
"Aaaaa, sakit mah, aduh lepasin mah" mohon Vano sambil meringis.
"Mama gak akan lepasin, sekarang jawab? siapa anak kecil itu? " Riana menunjuk Vino yang berdiri disebelah Riana yang tengah makan permen.
"D-dia anak Vano mah" sahut Vano .
"Muka gilee. Terus kamu buat anaknya sama siapa hah"ketus Riana menatap tajam Vano.
" Sama syilla mah, masa sama janda sebelah sih"ujar Vano kesal mendengar mamanya yang tak percaya .
"Kamu jangan ngada-ngada, kamu pikir Syilla beranak dalam kubur. Syilla itu udah meninggal, sepertinya kamu harus dibawa ke psikiater deh Van"ujar Riana khawatir .
" Hahaha, kacian om nya dijewer"ucap Vino sambil tertawa melihat Vano yang masih dijewer Riana.
"Jangan diketawain ayah nak, tolongin ayah" mohon Vano pada putranya itu.
"Gak, Ino mau kekamal, nonton upin -ipin " ujar Vino meninggalkan Vano yang melongo melihat anaknya yang tak memperdulikannya.
__ADS_1
Bersambung...