
Vano duduk dikursi dengan dibatasi meja dan menghadap sang papa yang juga duduk di kursi kebesarannya.
"Jadi, kamu sudah temui Devan? Untuk meminta penjelasan kenapa dia melakukan ini? " tanya Dimas.
"Vano belum melakukan itu, tapi Vano ingin sekali memukul wajahnya itu. Yang telah berani sembunyikan istri dan anak Vano pah" ujar Vano.
Dimas menghela napas pelan, melihat kelakuan Vano yang selalu ingin menyelesaikan masalah dengan berkelahi.
"Vano, kamu ini kenapa di otak kamu itu pikirannya berkelahi terus. Bukan seperti itu menyelesaikan masalah, tapi membicarakannya secara baik-baik. Mungkin Devan memiliki alasannya" jelas Dimas dengan tegas.
"Iya, pah" jawab Vano singkat.
"Papa akan telpon Devan, untuk menyuruh dia kesini" ujar Dimas. Vano hanya mengangguk saja.
******
Syilla tengah berada dikamar Vano dan tentunya bersama dengan Vino. Riana tengah ada urusan dan menyuruhnya untuk berada di kamar.
"Oh, iya aku belum kabarin mas Devan. Pasti dia khawatir" monolognya. Syilla mengambil ponsel di meja dan mulai menghubungi Devan.
Devan yang tengah duduk bersandar , terlihat kaget mendengar bunyi di ponselnya. Dia melihat nama pemanggil dan buru-buru mengangkatnya.
"Hallo, syilla kamu dimana? Aku khawatir! " ujar Devan, dengan nada yang memang sangat khawatir.
"Aku baik-baik aja kok mas, kamu gak usah khawatir. Aku ada di rumah V-vano kalau gak salah namanya" balas Syilla.
__ADS_1
Devan terdiam, kenapa Syilla bisa berada disana pikirnya.
"Mas, kamu masih disanakan " ujar Syilla yang berada di sebrang sana.
"Iya Syilla aku masih disini, kamu kenapa bisa ada disana? " tanya Devan.
"Aku dibawa paksa dia kesini mas, tapi katanya dia suami aku dan orang tuanya Vano juga mengatakan seperti itu juga, apa itu benar. Kalau benar kenapa mas Devan bohongin aku, kenapa mas? " tanya Syilla lirih.
Devan terdiam, dia bingung harus menjelaskan dari mana. Pria itu menghembuskan napasnya kasar.
"Syilla, aku akan jelasin semuanya, tapi bukan sekarang ya" ujar Devan lembut.
Vino yang tengah asyik memakan es krim nya menatap sang bunda, terlihat diwajah syilla raut kesedihan. Bahkan Vino anak kecil umur empat tahun pun tau kalau bundanya sedang bersedih.
"Mana gak papa sayang, oh iya , katanya Vino kangen ayah ya. Ini bunda lagi telponan sama ayah" Syilla berusaha mengalihkan perhatian Vino. Dia tidak ingin putranya juga merasa sedih karna dirinya.
Dengan semangat Vino mengambil ponsel yang di kasih Syilla padanya.
"Hallo ayah, Ino kangen ayah" ujar Vino.
Devan tersenyum mendengar suara Vino. Dia juga sangat merindukan Vino yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
"Iya nak, ayah juga kangen Vino. Vino sekarang lagi apa? " tanya Devan lembut.
"Ino lagi macan es krim, tadi di beliin sama nenek" jawabnya.
__ADS_1
Vano yang baru masuk kekamar, mendekat kearah Syilla dan anaknya.
"Vino lagi telpon sama siapa? " tanya Vano.
"Dia telponan sama Devan " balas Syilla. Vano yang mendengar itu langsung merebut ponsel itu ditangan Vino dan langsung mematikannya. Pria itu menampilkan raut wajah marah, dia tidak suka anaknya atau istrinya berhubungan lagi yang namanya Devan.
"Om, kok diambil sih, Ino mau telponan sama ayah" ujar Vino. Sedangkan Syilla menarik putranya itu kedekapannya, dia takut Vano melakukan sesuatu yang mencelakai putranya.
"Vino Devan bukan ayah kamu, Saya yang ayah kandung kamu nak" ujar Vano.
"Enggak! Om bukan ayah aku, ayah aku namanya Devan! " bantah Vino, karna yang selalu bersama dia dan bunda nya Devan dan dia sudah menganggap Devan sebagai ayah kandungnya.
Vano terdiam sambil mengepalkan tangannya, dia benar -benar sedang emosi dengan ucapan anaknya sendiri. Vano berjalan keluar kamar tanpa berkata apapun, dia takut tidak bisa mengendalikan dirinya.
Syilla melihat itu merasa sedih, dia bisa melihat di raut wajah Vano yang terlihat marah, sedih dan kecewa.
"Sayang, gak boleh ngomong gitu lagi ya" ujar Syilla lembut pada putranya.
"Emang kenapa? Kan ayah Ino namanya Devan bukan om itu" ujar Vino dengan wajah cemberut.
"Iya, bunda tau, tapi gak seharusnya kamu jawab kaya gitu ya. Gak boleh , kasihan om nya" ujar Syilla.
"Iya bunda" jawab Vino singkat. Syilla tersenyum lembut dan memeluk putranya tersebut.
Bersambung...
__ADS_1