
Menikah Yang Ke-dua
Chapter 10
Suasana di dalam mobil tampak hening, mereka bertiga terdiam membisu. Mereka saling menyimpan kekesalannya.
Sesampainya di pemakaman, mereka semua turun dari mobil, tidak lupa Fina dan Aisyah membawa dua keranjang kecil yang berisi beberapa jenis bunga ziarah.
Aisyah melangkah di belakang Fina, lalu Farid berjalan di belakang sendiri. Saat melangkah menghindari salah satu batu nisan, ia malah terpeleset oleh nisan lainya. Dengan cekatan Farid langsung menopang tubuh Aisyah dari belakang, sehingga tubuh mungil Aisyah tidak sampai jatuh ke tanah.
"Maaf" ucap Aisyah, secepatnya ia berdiri dari dekapan Farid, ia sangat malu dengan lelaki yang baru saja menolongnya.
"Kamu nggak papa kan Is?" Tanya Fina khawatir
"Aku nggak papa kok, terimakasih ya mas" kata Aisyah sembari setengah menunduk pada Farid.
"Lain kali hati-hati, jangan sampai kamu merepotkan kami" terang Farid dengan keangkuhan nya
"Ayo cepat kak, panas nih" ajak Fina sambil menutupi atas kepalanya dengan tangan. Ia benar-benar sudah menjadi wanita kota, dengan cahaya matahari pagi saja ia merasa kepanasan.
🍁🍁🍁
Mereka telah usai berziarah di makam, kemudian Fina mengajak Aisyah kembali berkunjung ke rumahnya, besok adalah hari terakhirnya di kampung. Karena besok ia dan Farid harus kembali ke Jakarta, banyak pekerjaan yang harus dikerjakan oleh kakaknya.
Di rumah, Fina kembali mengobrol bercanda ria bersama, bahkan mereka terlihat asik memasak di dapur untuk berbuka puasa. Aisyah menunjukkan keahlian dapurnya, ia memasak rendang dan juga sayur sop.
Setelah selesai memasak, mereka menyiapkana hidangan itu di atas meja makan. Fina memanggil kakaknya untuk makan malam bersama.
"Tunggu bedug magrib dulu ya mas, meskipun mas Farid tidak berpuasa setidaknya menghormati umat yang sedang menjalani ibadah puasa." Terang Aisyah, ini pertama kalinya ia menyebut nama Farid, meski sedikit canggung, ia berani mengungkapkan pemikirannya.
"Iya betul itu kak, mending kakak belajar agama sama Aisyah deh, aku aja mau belajar shalat sama Aisyah" imbuh Fina, ia memang belum menguasai tuntunan shalat. Hanya setiap bulan ramadhan saja ia rajin beribadah.
"Buat apa sholat, tanpa sholat aku juga sudah memiliki segalanya" jawab Farid sambil mengambil nasi beserta lauk rendang kesukaannya. Ia kembali tak menggubris Aisyah dan adiknya, dengan lahap ia menyantap makan malamnya.
"Enak banget rendang ini" kata Farid dalam hati, ia melahap habis sepiring rendang yang dimasak Aisyah.
Aisyah menggeleng tak percaya, lelaki didepannya sungguh tidak berakhlak.
"Tanpa sholat mas Farid sudah memiliki segalanya, lalu apa pernah mas memohon meminta sesuatu pada Allah. Apa segalanya yang mas miliki ini bukan dari kehendak Allah" Aisyah memberikan sedikit masukan pada Farid, berharap dia sadar Allah lah yang memutuskan.
"Ngapain berdoa, aku lebih mengandalkan kekuatan dan kecerdasan ku ketimbang meminta minta seperti pengemis" elak Farid lagi
Farid memang pandai berkata-kata, ia lebih mempercayai kemampuannya sendiri, ia mempercayai keberhasilannya itu atas usaha kerasnya sendiri, tidak ada campur tangan Allah.
__ADS_1
"Itulah sifat buruk manusia seperti mas Farid, karena harta dan tahta bisamembutakan mata hati seseorang.
Kekayaan dan kecerdasan yang mas miliki itu bukanlah anugrah, itu adalah ujian yang harus mas lalui, suatu saat nanti mas Farid akan sadar, tanpa kehendaknya mas Farid bukanlah siapa-siapa" jelas Aisyah
"Hentikan ceramah mu, nggak usah sok suci belaga nggak punya dosa begitu."
"Alhamdulillah" ucap Aisyah ketika mendengar bedug magrib berkumandang, ia dan Fina mulai menyantap makanan yang tersisa di atas meja, sebagian makanan telah dihabiskan oleh Farid.
Aisyah dan Fina telah menyantap makanan yang ada, sedangkan Farid mendorong kursinya ke belakang, ia mau beranjak dari tempat duduknya, tetapi tiba-tiba ia urungkan, entah kenapa ada perasaan ingin mengobrol dengan Aisyah.
"Kak Farid emang jahat, masak rendangnya dihabisin sendiri" ujar Fina semakin kesal, ia hanya kebagian sayur Sop dengan lauk tempe saja.
"Kamu itu harus banyak-banyak makan sayur, cewek itu nggak boleh over weight, harus diet, ngerti nggak?" Ujar Farid melarang adiknya sambil melirik ke arah Aisyah
"Siap kak Farid sayang" jawab Fina, pura-pura tersenyum dan mengangguk, padahal hatinya sangat jengkel, ingin sekali ia menjitak kepala kakaknya, tapi apa daya ia harus menuruti semua perintah kakaknya yang over protektif itu.
"Fin... Setelah ini anterin aku pulang ya?" Ajak Aisyah sembari membereskan meja makan.
"Oke Is"
"Kamu anterin sendiri aja Fin, aku mau tidur..." Kata Farid menyela pembicaraan mereka
"Mas tidak perlu nganterin aku, biar Fina saja" ungkap Aisyah,ia juga tidak mau merepotkan Farid, apa lagi ia sudah mengetahui sedikit tentang lelaki didepannya itu, baginya Farid tidak lah lebih dari lelaki tidak berakhlak dan tidak punya perasaan, hatinya seperti terbuat dari batu.
"Dasar kepedean" kata Fina dalam hati.
🍁🍁🍁
Hari ini hari terakhir Aisyah bersama sahabat kecilnya, Fina.
Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol di rumah Aisyah, di sela-sela kebersamaannya, Akhmad kembali mencuri-curi pandang pada Fina. Ia suka mengejek Fina dengan sebutan Mbak gendut hitam manis.
Ini adalah masa pubertas Akhmad, secara diam-diam dia sangat mengagumi wanita dewasa seperti Fina. "Inikah yang dinamakan cinta pertama" gumam Akhmad dalam hati, tetapi ia menutupi rasa cintanya karena kegengsiannya.
"Mbak hitam manis, mbak kok bisa cantik dan seksi begitu, apa operasi plastik ya?" Tanya Akhmad, pertanyaannya membuat Fina marah, ia melempar penanya ke muka Akhmad.
Akhmad dengan sigap menangkap pena tersebut sehingga tidak sampai mengenai wajahnya.
"Wek... Nggak kena Mbak gendut" cela Akhmad mengejek Fina.
"Dasar anak nakal" Fina langsung mendekat, kemudian menjewer telinga Akhmad
"Auw... Sakit... Mbak Ais bantuin Akhmad" rengek Akhmad
__ADS_1
"Makanya to Mad, jangan resek begitu. Bercanda kamu juga kelewatan" Jawab Aisyah sembari tersenyum melihat mereka berdua
"Lain kali kalau kamu resek lagi, aku cubit sampai minta ampun". Terang Fina tersenyum licik sambil mengancam
"Cubit aja, Akmad nggak takut. Mbak gendut hitam manis" ejek Ahmad lagi
"Mata kamu buta ya anak kecil, lihat ini bodiku yang seksi dan kulitku yang putih mulus." Ucap Fina, karena jengkel ia meliuk-liukan tubuh indahnya tepat di hadapan Akmad, jarak mereka yang hanya beberapa senti itu membuat Akhmad merem melek, tak disadari ia menelan salivanya "Aduh puasa ku batal nggak ya, tubuh mbak Fina emang aduhai, apalagi susunya montok banget" gumamnya lagi dalam hati, Fina yang sengaja memamerkan tubuh indahnya karena kesal, malah membuat Akmad menang banyak karena melihat belahan dadanya yang terpampang menonjol
"Sudah cukup, Akmad cepat kamu bersiap, katanya mau shalat tarawih." Suruh Aisyah
"Emang mbak Ais sama mbak...." Tanya Akhmad sambil menutup mulutnya, tak berani memanggil Fina dengan sebutan tadi
"Mbak lagi batal mad"
"Ouwh"
"Ngerti batal nggak kamu anak kecil" tanya Fina sewot
"Ya ngerti lah, PNS kan... Eh PMS... Hahaha"
"Jangan panggil aku anak kecil dong mbak, namaku bukan Siva tapi Akhmad"
"Maksudnya, Siva?" Fina bingung dengan perkataan Akhmad, Siva siapa yang ia maksud
"Siva itu anak kecil di film kartun Hero dari India mbak gendut"
"Dasar bocah kecil, tontonannya kartun aja udah bergaya sok nggak mau dipanggil anak kecil."
"Mbak gendut kalau panggil aku anak kecil lagi... Aku cium loh" ucap Akhmad sambil berlari keluar dari kamar kakaknya
Sebenarnya lucu juga, ada perasaan senang sekaligus jengkel saat bercanda dengan Akmad.
"Fin... Nanti malam jadi pulang jam berapa?" Tanya Aisyah
"Fin, kok bengong sih" tanya Aisyah lagi, sambil memegang tangan Fina.
Ia langsung tersadar dari lamunannya, ternyata dia sedang membayangkan rasanya dikejar-kejar dengan lelaki yang lebih muda darinya.
"Emh... Nggak kok, itu lucu si Akmad.
Oya kamu tadi ngomong apa Ia?" Jawab Fina
"Kamu nanti malam jadi pulang jam berapa?" Tanya Aisyah lagi
__ADS_1
"Pulang jam 3 pagi Is, kan jam segitu jalanan sepi. Ntar kita kontak-kontakan lewat wa ya"
"Iya Fin... Kamu hati-hati ya, jangan sampai meninggalkan sholat ya Fin" ucap Aisyah mengingatkan temannya, seharian ini mereka menghabiskan waktu untuk bercanda ria bersama, Aisyah juga dengan sabar membantu Fina belajar tuntunan shalat serta belajar membaca surat-surat pendek.