Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Pendekatan menuju khitbah


__ADS_3

"Ada apa mas" kata Aisyah tepat di belakang suaminya yang masih fokus memanggang makanannya


"Ini Humaira, Anwar besok mau mengajak Ema dan si kembar makan siang. Boleh nggak?" kata Farid sembari berpindah posisi, sedikit bergeser di samping Anwar, sesekali ia menatap iras cantik istrinya


Aisyah melangkah maju, tepat di samping kanan suaminya. Kemudian ia menjawab pertanyaan suaminya "Boleh dong mas, mas Anwar boleh kok mengajak Ema jalan-jalan, asalkan Ema juga menyetujuinya. Untuk Abang Al dan Azizah, sepertinya aku nggak mengijinkan deh mas, mereka biar di rumah saja ya"


"Kenapa dek? aku juga ingin lebih dekat dengan mereka, kamu kan tahu aku dari dulu menyukai anak-anak. Apa kamu tidak percaya kalau aku bisa menjaga mereka berdua" terang Anwar sedikit tersinggung, padahal ia berniat tulis untuk dekat dengan si kembar, hal tersebut juga bukan bagian dari misinya untuk dekat dengan Ema. Justru ia ingin dekat dengan si kembar karena rasa kasih sayangnya pada anak kecil, dari dulu ia selalu berharap memiliki anak yang lahir dari rahim yang ia cintai. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah menjadi masa lalu yang patut dijadikan pelajaran hidup.


Siapa tahu saja, setelah dekat dengan si kembar, kelak jika dia bisa menikah dengan Ema, Ia akan segera mendapatkan anugerah tersebut.


Berbeda dengan Aisyah, ia memiliki pemikiran tersendiri, ia melarang kedua putranya pergi bersama Anwar dan Ema karena ia tak mau putra jahilnya mengganggu proses kedekatan mereka. Aisyah juga tak mau memperlihatkan kedekatan Ema dengan Anwar di depan kedua putranya yang masih kecil-kecil


Akhirnya ia memberikan alasan yang cukup tepat untuk Anwar


"Begini mas Anwar, kan ini suasananya belum normal. Ais memang melarang mereka bermain di luar rumah, kemarin saja Abi meminta izin untuk mengajak Abang Al ngaji di masjid, aku juga belum bolehin. Untuk sementara kami melakukan aktivitas apapun khususnya dalam beribadah, kami lakukan hanya di lingkungan rumah saja. Tolong pengertiannya ya mas Anwar" terang Aisyah memberikan alasannya


"Aku yang salah dek, aku minta maaf ya, kalau begitu aku besok ijin mengajak Ema makan siang bersama ya?" tutur Anwar sambil menatap manik hitam Aisyah

__ADS_1


"Sayang, bolehin aja... biar mereka cepat nikah, nggak lama-lama pedekate-nya" imbuh Farid mendukung Anwar seratus persen


"Iya... kan Ais sudah mengijinkan, asalkan atas persetujuan Ema sendiri, tentunya keputusan finalnya kan di Ema" jawab Aisyah


"Kalau menurut ku sih mas, mending ta'aruf dulu, atau nggak, langsung nikah saja. Biar tidak terjadi fitnah" imbuh Hamid angkat bicara menyuarakan pendapatnya


"Benar itu War, benar yang dibilang Hamid. Semakin cepat kamu menikahinya, insyaallah tidak akan timbul dosa jariyah"


"Iya mas Anwar, Ais juga setuju dengan pendapat Hamid dan mas Farid" Aisyah pun ikut mengiyakan pendapat mereka karena berpacaran sebenarnya hal besar yang dianggap kecil. Dalam berdekatan dengan lawan jenis tentunya akan mempermudah timbulnya perasaan terlena dalam indahnya jatuh cinta ketika saling berdekatan.


Tetapi di balik keindahan itu terdapat banyak duri, walau jasadnya tak pernah tersentuh oleh kekasihnya. Tapi, yakinkah selama ini matanya, lisannya, telinganya tak berzina? Masih yakinkah hatinya juga tak berzina?


Anwar tampak bingung dengan pendapat mereka, ia ingat betul bagaimana proses perkenalan dirinya dengan Aisyah. Kala itu ia dijodohkan dengan kyai di pondok pesantren tempat Aisyah menuntut ilmu agamanya, dulu Aisyah menghabiskan separuh waktunya di pesantren, dan sebagian waktunya di pagi hari ia kerjakan untuk menuntut ilmu di universitas Islam Indonesia. Sebelum semester akhir ia memang pernah magang di kantor swasta, hingga akhirnya ia mengundurkan diri dan menyetujui perjodohan itu. Apalagi kedua orang tua Aisyah juga sangat menghormati keputusan kyai tersebut. Tanpa ada perkenalan lebih dekat, akhirnya mereka berdua pun menikah di sana.



Saat itu Anwar berfikir wanita seperti apa yang akan ia nikahi, pak kyai hanya menjelaskan kepribadian Aisyah yang shalihah, beliau tak memberi tahu fisik Aisyah dengan detail. Sehingga membuat Anwar sedikit gelisah, takut tak sesuai dengan harapannya, karena baginya menikah adalah hal yang tidak boleh dianggap kecil. Dengan bismillah karena Allah, Anwar pun menikahi Aisyah, melihat iras cantik Aisyah membuat hatinya tenang dan damai. Dulu ia selalu bersyukur memiliki wanita seperti Aisyah.

__ADS_1



Hingga akhirnya Allah menghendaki perceraian diantara mereka berdua, mereka menikah karena Allah, dan bercerai pun juga atas kehendak Allah. Allah yang maha membolak-balikkan kehidupan, Allah memberikan rasa sakit padanya, pedih yang menyayat hati karena perbuatan istri keduanya yang selalu menyakiti hatinya. Mungkin rasa itu sebanding dengan rasa yang pernah Aisyah rasakan. Allah telah memberikan hukuman yang pantas, tetapi Allah juga memberikan hadiah yang terindah untuk Anwar. Sekarang dia lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan mungkin dengan restu Allah juga ia akan meminang wanita yang membuatnya gelisah beberapa hari ini.



Setelah mendapatkan keputusan final dari pembicaraan itu, Anwar mantap untuk pergi makan siang dengan Ema. Di momen tersebut ia akan mengungkapkan isi hatinya, dan mengungkapkan keinginannya untuk meminang Ema


Hari itu Aisyah sengaja memberikan gaun panjang untuk Ema, dengan memoles wajah Ema dengan riasan makeup, dan memberikan penampilan terbaik, membuat penampilannya begitu berkesan


"Nyah, aku nggak pede ini" kata Ema sambil terus menatap parasnya di cermin.


Rambut Ema tergerai panjang, riasan yang Aisyah berikan juga terlihat natural dan cocok untuk parasnya


"Cantik ko Ma, pasti mas Anwar suka dengan penampilan mu ini" terang Aisyah dengan binar senyumnya


"Tapi ini sepertinya terlalu berlebihan nyah, aku pakai rok panjang dan kaos oblong aja ya nyah. Aku lebih nyaman seperti itu" elak Ema merasa tak nyaman dengan gaun yang begitu bagus, yang ia kenakan itu

__ADS_1


"Ini bukan makan siang yang biasa dilakukan di rumah Loh Ma, setidaknya untuk sekali ini saja untuk menghormati permintaan mas Anwar" imbuh Aisyah meyakinkan Ema. Memang hal tersebut atas permintaan Anwar, dia ingin hari ini menjadi hari yang berkesan untuk kedekatan mereka. Biar menjadi saksi awal untuk mereka mengarungi bahtera kehidupan dalam berumah tangga


"Iya nyah, terimakasih ya nyah... nyonya benar-benar wanita yang berhati malaikat. Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Disini saya mendapatkan keluarga yang baik dan penyayang seperti nyonya dan yang lainya. Rasanya aku takut bila benar berjodoh dengan mas Anwar, aku takut meninggalkan rumah ini, meninggalkan kalian yang begitu baik, dan meninggalkan si kembar yang selalu membuat ku tertawa bahagia. Aku takut berpisah dengan kalian nyah" jelas Ema panjang lebar. Dia merasa takut kehilangan keluarga Aisyah yang sudah ia anggap seperti keluarganya sendiri.


__ADS_2