Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Pemecatan Rani


__ADS_3

Setelah satu bulan dalam masa pemulihan, akhirnya dokter sudah memperbolehkan Farid pulang.


Selama Aisyah di kota, Fina meminta bantuan Aisyah untuk membantunya menghendel usaha toko kue nya, sesekali Aisyah juga dengan telaten merawat Farid pada waktu pemulihannya.


Aisyah juga sedikit demi sedikit membantu Farid belajar mendalami ilmu pengetahuan agamanya. Ia membelikan Farid buku tuntunan sholat serta membantunya mempraktekkannya.


Sedikit demi sedikit Farid pun sudah bisa menunaikan ibadah sholat wajib.


Meskipun masih banyak kekurangan tetapi ia masih mempunyai semangat yang tinggi untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.


***Di Kantor***


Farid sudah merindukan pekerjaan yang menyibukkan dirinya.


Sebelum pergi ke kantor dia menjemput Aisyah di kost'anya lalu mengantarnya ke toko roti milikinya, karena memang sekarang Aisyah bekerja disana.


Sebelum meninggalkan toko, ia meminta beberapa jenis roti untuk dibawanya dan dibagikan untuk karyawannya di Bank.


Setelah itu ia kembali bergegas melanjutkan perjalanannya menuju kantornya.


Sesampainya di kantor ia meminta dua orang security-nya untuk membawa masuk beberapa kotak kue itu.


Lalu ia membagikan seluruh roti itu pada semua karyawannya termasuk security tadi, OB dan juga tukang parkir.


Setelah selesai bersedekah ia mengumumkan pengumuman penting pada karyawannya, kalau dia akan membangun fasilitas tempat ibadah di lingkungan kantornya, dan dia juga akan memberikan waktu istirahat tambahan  untuk karyawannya yang menunaikan ibadah sholat wajib.


Tentu saja respon seluruh karyawan sangat senang, mereka tidak menyangka kalau bos yang memiliki kesan pertama galak dan dingin itu bisa bersikap layaknya malaikat.

__ADS_1


Akhirnya tugas pertamanya sebelum memulai pekerjaan sudah kelar.


 


Ia melangkah ke ruangan Anwar untuk membicarakan hal yang penting padanya


"Selamat pagi pak Anwar" kata Farid langsung berdiri di tengah pintu sambil masih memegang gagang pintu ruangan itu.


Anwar dan Rani tampak gelagapan saat melihat Farid sudah berdiri di depan pintu ruangannya.  Mereka berdua tengah bercumbu mesra di dalam ruangan tersebut.


"P....AK...FA...RID...." Tanyanya serentak, dengan terbata mereka memperlihatkan expresi terkejutnya.


"Kalian berdua silahkan duduk di sini" titah Farid. Ia menyuruh mereka berdua duduk di dua kursi tamu, sedangkan dirinya duduk di kursi kerja Anwar.


Perlahan mereka berdua memapakkan duduknya, ada rasa takut yang menghantui mereka, mereka takut Farid marah besar atas rahasia yang mereka simpan rapat-rapat tengah tercium oleh Farid.


"Maaf Pak Farid, saya Mohon maaf atas kebohongan ini, saya malu dan menyesal pak


Sekali lagi tolong maafkan saya pak"


Kata Anwar dengan wajah penuh penyesalan. Sedangkan istrinya Rani tampak menahan emosinya. Betapa bencinya ia melihat bosnya tengah duduk di depannya


"Kenapa nggak mati aja sih, nih orang... Nyebelin banget" kekesalannya dalam hati


"Saya sudah memaafkan pak Anwar, sekarang bapak bisa memilih kalau bapak masih mau bekerja disini silahkan ajak istri anda ini pulang, saya tidak bisa memperkerjakan pasangan suami istri seperti kalian ini. Jadi pak Anwar tinggal pilih mau mengundurkan diri bersama istri mu ini atau masih mau bekerja dengan saya" terang Farid memberikan pilihannya, sebagai bos yang baik ia masih mau memberikan kesempatan kepada Anwar.


Tentu saja Anwar masih mau mempertahankan pekerjaannya yang sudah ia geluti sebelum menikah dengan Aisyah sampai sekarang ini 

__ADS_1


"Ya saya masih mau bekerja dengan bapak... Terimakasih pak Farid masih memberikan kesempatan kepada saya" terangnya sambil menciumi tangan sang bos


"Jangan terlalu lebay gitu lah mas Anwar, kalau aku keluar dari perusahaan ini, mas Anwar juga harus keluar " kata Rani meledek suaminya.


"Terserah Pak Anwar enaknya gimana. Kalau bapak mau keluar sekalian, nanti gaji plus tunjangan masa kerja bapak biar Sony yang mengurus" terang Farid memberikan keputusannya pada yang bersangkutan.


"Tidak pak saya masih mau bekerja di sini, tolong maafkan sikap istri saya pak" tutur Anwar memohon


"Mas Anwar...!" Bentak Rani


Merasa dirinya sebagai kepala rumah tangga tidak dihormati istrinya. Anwar kalap, ia marah besar kepada Rani


"Plaakkk...!"


Satu tamparan ia layangkan ke pipi kiri istrinya.


Seumur umur baru pertama kali ia berbuat kasar pada seorang wanita apalagi itu istrinya sendiri.


"Apa kamu tidak bisa sopan sedikit pada orang lain, aku ini suamimu, jadi kamu harus mendengarkan apa keputusan ku" terang Anwar geram. Wajah marahnya sungguh menakutkan.


Rani tampak menitihkan air matanya sembari memegang pipinya yang terasa ngilu akibat tamparan suaminya.


"Maaf pak Anwar, lebih baik anda selesaikan masalah pribadi kalian di rumah, jangan di sini. Untuk keputusannya saya tunggu besok pagi" potong Farid


"Iya pak Farid sekali lagi kami maaf, kami permisi dulu" terang Anwar bergegas menarik tangan istrinya keluar dari ruangan tersebut. Rani yang biasanya sok berkuasa di perusahaan tersebut, kini ia merasa terhina di depan bosnya sekaligus karyawan yang melihatnya.


Sebenarnya sebagian karyawan tidak menyukai sikap sombong Rani, tetapi mereka takut karena waktu pak Yuda menjabat sebagai direktur, ia sangat membela wanita murahan itu. Bahkan apabila ia tidak menyukai salah seorang karyawan yang menurutnya tidak nyaman dengannya. Cukup berbicara pada pak Yuda, karyawan itu langsung dipecat tanpa alasan yang jelas.

__ADS_1


Dalam hati mereka sangat bersyukur, akhirnya wanita sombong sok berkuasa itu akhirnya dipecat oleh bos barunya


__ADS_2