
Sebelum menyantap makan siangnya, seluruh karyawan mengucapkan selamat kepada kedua bosnya.
"Selamat ya Bu Aisyah, Pak Farid, semoga Allah senantiasa melindungi bayi dalam kandungan Bu Aisyah. Amin"
"Terimakasih atas doanya, doa terbaik insyaallah akan kembali pada yang baik." Tutur Aisyah
"Mas aku ke toilet dulu ya" kata Aisyah meminta ijin pada suaminya.
Dari kejauhan tampak Anwar tengah mengawasi gerak-gerik Aisyah dari tadi, ia sedang mencari celah untuk bisa mengobrol empat mata dengan mantan istrinya itu.
Ketika melihat Aisyah tengah berjalan keluar dari ruangan tersebut, Anwar pun bergegas keluar mengikuti Aisyah dari belakang.
Entah pikiran kotor apa yang merasukinya kala itu, ia merasa kesal karena mantan istrinya tengah mengandung buah cinta dari lelaki lain.
Anwar berjalan dengan mengendap- endap, sesampainya di depan toilet ia dengan cemas menunggu Aisyah di luar.
"Mas Anwar kenapa ada disini" tanya Aisyah sedikit kikuk dan terkejut, kenapa mantan suaminya itu berjalan mondar-mandir di depan toilet.
Anwar langsung menarik tangan Aisyah dengan kasar
"Aah sakit mas, mas Anwar tolong lepaskan aku" teriak Aisyah.
Naas sekali tidak ada yang mendengar teriakannya karena memang tidak ada seorang pun disana, seluruh karyawan tengah berkumpul di lantai dua bersama suaminya.
"Diamlah dek, aku cuma mau meminta kejelasan dari mu"
Ujar Anwar sambil menopang tubuhnya menatap Aisyah yang bersandar di tembok
"Mas tolong menjauhlah, mas Anwar tidak boleh melakukan ini, kita tidak punya ikatan apa-apa lagi mas, tolong hargai saya sebagai istri mas Farid." Aisyah berusaha menahan dada Anwar yang berusaha mendekati tubuhnya.
"Aku tahu dek selama ini aku salah, aku telah tega menyakiti hati mu. Tapi kenapa dulu kamu tidak mau memberikan ku keturunan, dan ternyata kamu juga bisa hamil, apa kamu memang sengaja ingin menyakiti perasaan ku, kamu ingin membalas ku ya" terang Anwar dengan wajah kesalnya
"Astaghfirullah hal adzim mas, kehamilan ku ini atas kehendak Allah mas, bukan karena kehendak ku sendiri, kenapa mas Anwar meributkan masalah ini, apa mas Anwar tidak puas dengan kehamilan Rani. Kenapa mas Anwar melakukan ini padaku" kata Aisyah sedikit gelisah, ia takut mantan suaminya akan dikuasai oleh nafsu emosinya, dan melakukan hal yang tidak ia inginkan
__ADS_1
"Apa kamu bilang... Rani hamil?" Anwar malah terkejut dengan penuturan Aisyah
Ia langsung melepaskan kedua tangannya dari tembok, lalu ia mundur beberapa langkah, hatinya sedikit tergugah ketika Aisyah mengatakan istrinya juga tengah hamil. Lalu kenapa Rani menyembunyikan hal sebesar ini darinya. Ia tahu betul kalau Aisyah tidak pernah berbicara omong kosong, ia adalah wanita yang jujur dan bisa mempertanggung jawabkan setiap ucapannya.
"Apa mas Anwar tidak mengetahui kalau Rani tengah hamil. Dia sendiri yang bilang padaku waktu kita berlibur Minggu lalu" kata Aisyah menjelaskan pada Anwar.
"Maaf dek, maafkan aku, aku harus pergi sekarang... Assalamualaikum" Anwar langsung berlari keluar meninggalkan Aisyah seorang diri
"Waalaikumsalam...Sebenarnya ada apa dengan rumah tangga mas Anwar, kenapa Rani menyembunyikan kehamilannya... Ah sudahlah ini bukan urusan ku, Lebih baik aku kembali ke ruang santai, aku takut mas Farid mencari ku" gumamnya sembari melangkah kembali ke ruang santai yang berada di lantai dua itu.
🍁🍁🍁
Setibanya di rumah, Anwar langsung mencari sosok istrinya. Ia ingin meminta kejelasan istrinya, kenapa dia menyembunyikan kabar yang membahagiakan itu.
Perasaan kesal yang bercampur bahagia tengah menghiasi hatinya, keinginannya selama tiga tahun terakhir akhirnya terwujud juga. Cuma yang jadi kekesalannya adalah istrinya menyembunyikan kehamilannya dari dirinya. Apa maksudnya?
Dan apa tujuannya?
Anwar semakin gelisah ketika tidak mendapatkan sosok istrinya di dalam rumah besarnya, kemudian ia bertanya pada pembantunya mengenai keberadaan istrinya, tetapi pembantu tersebut tidak mengetahui keberadaan istrinya sedari pagi.
Anwar kemudian mengambil handphonenya, ia segera menelfon Rani
"Sayang kamu dimana?" Tanya Anwar memulai pembicaraan teleponnya yang sudah tersambung
"Aku sedang di rumah mas, ada apa?" Jawab Rani dengan nada lirihnya
"Dirumah bagaimana? Aku mencari mu di seluruh rumah tidak ada, kenapa kamu suka sekali membohongi ku akhir akhir ini"
"Aku sebentar lagi pulang mas, aku lagi makan siang dengan teman ku"
"Teman lelaki atau perempuan?"
"Ya perempuan lah" jawab Rani sambil menutup bibirnya dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Ya sudah hati-hati di jalan, aku tunggu kamu dirumah ya... Assalamualaikum"
Anwar menutup panggilannya. Ia percaya begitu saja dengan omongan sang istri.
"Tumben jam segini mas Anwar sudah pulang? Ada apa ya? Sayang aku pulang dulu ya, besok kita ketemu lagi... Muach" Rani beranjak dari tempat tidurnya, lalu ia mencium bibir lelakinya, setelah itu ia merapikan kerah kemejanya dan bergegas pergi keluar.
"Hati-hati sweety" ucap lelaki itu yang tak lain ialah Arjuna, lelaki blesteran yang pernah tidur dengannya ketika berlibur Minggu lalu.
Jadi hubungan terlarang mereka masih berlanjut sampai sekarang, Rani memang wanita yang cerdik. Tetapi suatu saat hari naasnya akan tiba, ibarat kata sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Sepintar apapun ia menyimpan kebusukannya, pasti suatu saat akan terendus oleh suaminya.
Rani buru-buru pulang ke rumah, hatinya gelisah dengan kepulangan suaminya yang secara tiba-tiba, padahal jam segitu seharusnya Anwar masih berkerja di kantornya.
Setelah tiga puluh menit menunggu kepulangan istrinya, akhirnya ia sampai juga.
"Mas Anwar, ada masalah apa mas?" Tanya Rani sembari membuka gagang pintu utama
Anwar langsung bangun dari sofa
"Aku mau tanya, masalah besar apa yang kamu sembunyikan dariku"
"Masalah?
Tidak ada mas, aku tidak pernah membohongi mu mas" jawab Rani dengan wajah santai, ia terlihat tenang padahal hatinya mulai gelisah dengan tuduhan suaminya
"Sekarang jawab dengan jujur, apa kamu hamil?" Tanya Anwar lagi, bibirnya sedikit melengkung karena senyum tipisnya.
Rani semakin bingung dengan pertanyaan suaminya.
"Mas Anwar ngaco, kalau Rani hamil tentunya mas Anwar orang yang pertama mengetahuinya... Iya kan" terang Rani tertawa meledek suaminya.
"Cukup !" Bentak Anwar, bibirnya yang tadinya melengkung karena senyuman, kini tampak menciut, ia geram pada tingkah Rani yang tidak bisa diajak berbicara serius
Dalam sekejap Rani menelan ludahnya, ia tampak gemetar melihat ekspresi wajah marah suaminya.
__ADS_1
"Sekarang kamu jelaskan padaku, apa kamu pernah berbicara dengan Aisyah kalau kamu hamil" tanya Anwar masih dengan posisinya. Ia berdiri tepat di depan istrinya yang tengah berdiri menenteng belanjaannya.