Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Mendadak pulang


__ADS_3

Setelah kondisinya membaik, Farid tak sabar untuk pulang menemui sang istri, dalam kegundahan ia tak bisa membendung kerinduannya pada Aisyah dan kedua anaknya yang masih berada dalam rahim istrinya


Sampai akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke Indonesia menggunakan pesawat pribadinya. Sony tampak bingung dengan keputusan Farid, padahal sudah jelas jadwal pekerjaannya di Singapura sangat padat. Karena tak bisa meninggalkan bisnis besarnya begitu saja, Farid pun meminta Sony untuk menghendel semuanya selama dua hari kedepan. Setelah urusannya di Indonesia selesai, ia akan kembali lagi ke Singapura untuk melanjutkan perjalanan bisnisnya.


Tepat pukul 10.00 malam, Farid sampai di kediamannya, ia yakin istrinya pasti sudah tertidur pulas. Ia akan memberikan kejutan untuk Aisyah.


Gunawan yang melihat tuanya sudah berada di teras rumah, ia sedikit terkejut.


"Pak Farid sudah pulang" ucapnya sambil mengusap kedua kelompok matanya


"Iya pak Gun, nggak betah nahan rindu hehehe" jawab Farid sambil cengar-cengir


"Iya tuan, namanya juga pengantin baru, apa lagi Bu Aisyah juga hamil, pasti pak Farid nggak tega ninggalin lama-lama" terang Gunawan tampak menahan tawanya, lucunya sekali melihat expresi bosnya yang tak bisa menahan kerinduannya pada sang istri


"Ya betul banget pak Gun, ngomong-ngomong mereka udah pada tidur ya pak Gun" tanya Farid


"Iya pak Farid, mbak Fina kayaknya tadi belum tidur, aku lihat tadi lagi duduk di taman belakang" jawab pak Gun


"Ya udah aku masuk dulu ya pak gun"


"Baik pak Farid"


Farid pun bergegas masuk ke dalam rumah, ia hanya menenteng tas kerjanya, sedangkan kopernya ia tinggal di hotel Marina bay.


Sebelum menaiki anak tangga, terdengar samar-samar dari taman belakang, Fina tengah tertawa sambil berbicara sendiri. Karena penasaran ia mengendap-endap menguntit pembicaraan adiknya dengan seseorang melalui ponselnya.

__ADS_1


"Mas Hamid bisa saja, udah mas perutku sakit diajak ketawa terus" Fina tampak tak bisa menahan tawanya, dari binar wajahnya begitu terpancar kebahagiaan.


"Kayaknya ini pacar Fina deh, aku kerjain aja" gumam Farid diam-diam mendekati adiknya, dengan sigap ia merebut gawai adiknya. 


Fina terkejut bukan main, ia memegangi dadanya, jantungnya serasa mau copot saja. "Ih kak Farid kaget tahu, kalau Fina jantungan gimana?" 


"Hehehe maaf- maaf adikku sayang, ntar kamu diam dulu ya, aku mau ngomong sama calon adik ipar" bisik Farid sambil meletakkan telunjuknya di kedua sisi bibir tengahnya


"Halo... Ini siapa ya?" Kata Farid meletakkan benda pipih itu di daun telinganya. Nada bicaranya tampak dibuat-buat layaknya orang galak. Nada bicara seperti inilah yang dulu sering ia ucapkan dalam kesehariannya, tetapi setelah bertaubat dan menjadi imam Aisyah, ia berubah menjadi lelaki yang lembut dan penuh kasih sayang


"Saya Hamid, lalu anda siapa? Mana Fina?" Jawab Hamid kebingungan, kenapa ada suara seorang lelaki di tengah malam begini, bukanya tadi Fina bilang kalau kakaknya tengah melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. "Lalu lelaki ini siapa" pekiknya dalam hati


"Perkenalkan saya Farid kakaknya Fina. Aku peringatkan ya, jangan pernah kamu menyakiti hati adikku. Kalau kamu memang memiliki niat baik, besok aku tunggu kedatangan mu, aku ingin bicara penting dengan mu" terang Farid sambil menahan kedua tangan Fina yang tengah merajuk mau mengambil ponselnya


"I.. iyaa baik mas, aku serius kok sama adik mas Farid. Terimakasih mas sudah mengijinkan aku untuk berkunjung ke rumah kalian" ucap Hamid dengan nada terbata. Parasnya menegang, ia tampak gugup ketika berbicara dengan Farid, sesekali ia mengusap keningnya yang tiba-tiba berkeringat


"Iya mas Farid. Ngomong-ngomong boleh aku berbicara dengan Fina" 


"Nggak boleh, sudah malam waktunya tidur. Telfonan aja kayak masih ABG" cela Farid tersenyum mengejek pada adiknya, Fina terlihat kesal sekali dengan kelakuan kakaknya


Sontak Fina merebut benda pipih tersebut dari tangan kakaknya. "Emang lagi pacaran... Wek" seru Fina jengkell, lidahnya terjulur membalas ejekan sang kakak


"Kak Farid resek.... Sana masuk sana, lagian baru juga sehari berangkat dah pulang aja. Pasti gak kuat pisah ma Aisyah ya" imbuh Fina kembali menggodanya


"Suka-suka aku lah, kan aku bosnya terserah kakak mau pulang kapanpun... Bebas... Ha-ha-ha" canda Farid

__ADS_1


"Udah masuk sana, ganggu orang pacaran aja" usir Fina sambil mendorong tubuh kekar sang kakak


Fina menarik nafas dalam-dalam, lalu ia mulai mengobrol kembali dengan Hamid sang kekasih, mereka baru jadian tiga hari yang lalu tetapi Farid malah mengerjai mereka berdua


"Halo mas... Maafin sikap kakakku ya? Dia emang resek banget"


"O... Nggak papa kok Fin, aku malah senang bisa kenal dengan kakak mu. Awalnya rada ndredek Fin, suara kakakmu galak bener"


"Hehehe tadi itu memang suaranya sengaja digalak-galakin biar kesannya menakuti gitu. Jangan diambil hati ya mas, omongan kak Farid tadi. Dia cuma bercanda aja kok"


"Iya aku tahu, tapi sepertinya aku sudah mantap, aku ingin serius sama kamu"


"Maksudnya gimana mas Hamid?"


"Ya sudah besok saja diomongin, kan besok aku main ke rumah kamu. Sekalian biar deket dengan keluarga mu, ntar kamu wa alamatnya ya"


"Emh


I... Iya mas"


Fina tersenyum canggung, ia nggak bisa mbayangin gimana besok saat Hamid benar-benar melamarnya di depan keluarganya. Hah.... Pasti rasanya nano-nano banget. Meskipun baru tiga hari jadian, Fina sudah merasa nyaman dengan Hamid. Hamid adalah lelaki yang baik, apalagi pekerjaannya juga mulia, bahkan lelaki itu juga dermawan dan berjiwa sosial


Tunggu in acara sarapan bersama sama acara Hamid ngelamar Fina di depan kakaknya. 


Kira-kira Farid bakal setuju nggak ya sama dokter Hamid ?

__ADS_1


Semoga saja.


__ADS_2