
"Kalian sudah pulang" tanya Fina keluar dari pintu kamarnya, tampaknya ia baru selesai mandi, itu terlihat dari rambutnya yang basah serta handuk yang melingkar di lehernya.
"Fin ayo duduk sini, kita mau bicara sama kamu" terang Farid sembari menatap manik hitam adiknya.
"Wih ada apa ini, mana oleh-oleh ku?" Kata Fina sambil menjulurkan tangannya yang terbuka.
"Waduh sampai lupa membeli hadiah ya sayang" kata Farid mengedipkan matanya kearah istrinya
Fina langsung melipat kedua tangannya di depan perutnya, bibinya tampak maju beberapa senti, sepertinya ia kesal karena kakaknya lupa membelikan oleh-oleh untuknya.
"Fin aku hamil" kata Aisyah begitu saja
"Hamil... ?
Yang bener Is" Fina langsung terkejut mendengarnya
"Iya bener Fin" imbuh Farid meyakinkan adiknya
"Alhamdulillah ya Allah... Selamat ya buat kalian berdua. Akhirnya sebentar lagi aku jadi Tante, hehehe... Oh ya pasti si Anwar bakalan iri sama kalian berdua" terang Fina, tiba-tiba ia ingat mantan suami Aisyah yang ngebet banget pengen punya keturunan.
"Istri mas Anwar juga tengah hamil kok Fin, jadi mana mungkin mereka iri sama kita, iya kan mas?" Tutur Aisyah sembari menatap manik coklat suaminya.
Ternyata Aisyah benar-benar percaya dengan omongan Rani kemarin waktu di dalam lift. Padahal sudah jelas Rani hanya mengelabuhinya saja, ia hanya berniat untuk menghinanya saja.
Lalu bagaimana reaksi Anwar ketika mengetahui Aisyah tengah berbadan dua, sedangkan ia yang sudah menikah hampir setahun, istrinya belum hamil juga.
"Benarkah? Kamu tahu dari mana sayang, atau jangan-jangan kemarin kamu pingsan gara-gara Anwar yang memberi tahu mu soal kehamilan istrinya ya" tanya Farid menduga duga. Ia mengira pingsan nya istrinya karena hal tersebut.
"Bukan kok mas, Rani sendiri yang memberi tahu ku. Kemarin itu aku pingsan bukan karena mas Anwar Lo mas, tetapi karena kepala ku pusing banget." Jelas Aisyah
"Jadi aku sudah salah menuduh Anwar, besok aku akan meminta maaf padanya" terang Farid menyadari kesalahannya.
"Iya mas" jawab Aisyah tersenyum
__ADS_1
Setelah berbincang Farid mengambil handphone di sakunya, ia menelfon keluarga Aisyah di kampung untuk memberi tahu kabar gembira kehamilan Aisyah.
Saat itu yang menjawab panggilan teleponnya ialah Umi, Farid langsung to the points memberi tahu umi tentang kabar itu. Sontak Umi langsung terkejut, tetes air matanya tak terbendung lagi, beliau menangis bahagia setelah mendengar kabar kehamilan putrinya.
Ketakutannya pun terjawab sudah, sering kali tetangga menggunjingkan putrinya,, kalau putrinya tidak bisa hamil alias mandul. Dan sekarang terbukti bahwa Aisyah tidaklah mandul.
Setelah mendapatkan kabar baik tersebut beliau langsung menyusul suaminya ke ladang, beliau sudah tak sabar untuk memberi tahu suaminya perihal kehamilan putri semata wayangnya.
"Abi... Abi... Aisyah hamil Bi... Kita akan segera menimang cucu" teriak Umi dari kejauhan
Abi Thalib langsung menaruh cangkulnya, beliau terdiam sejenak, kemudian meraupkan kedua tangannya ke paras keriputnya, beliau begitu mensyukuri anugerah yang telah diberikan Allah.
"Ayo pulang Umi, kita harus mendoakan putri kita, supaya kehamilannya selalu dilindungi oleh Allah" terang Abi Thalib senang, beliau bergegas keluar dari ladang. Dengan buru-buru ia menarik tangan istrinya berjalan pulang.
Sesampainya di rumah, Abi dan Umi segera membersihkan dirinya. Setelah itu mereka menggelar sajadahnya, mereka mulai menunaikan sholat dhuhur bersama, dalam sholat empat rakaat tersebut mereka berdua berdoa kepada sang khalik, untuk perlindungan putrinya yang tengah berbadan dua, semoga Allah mengirimkan malaikatnya untuk menjaga putrinya sampai kelahirannya tiba.
🍁🍁🍁
Di kediaman Farid
Ketika dalam perjalanan, tiba-tiba handphone Farid berdering.
"Halo assalamualaikum Bu Yati, tumben menelfon, ada masalah apa Bu.?" Tanya Farid membuka panggilannya.
"Waalaikumsalam tuan Farid, tuan tolong Azizah... Azizah....huk...huk.." nada bicara Bu Yati tampak sesenggukan.
"Azizah kenapa Bu? Apa sakitnya kambuh lagi" tanya Farid khawatir.
Ia panik dengan perkataan Bu Yati yang disertai suara isak tangis.
"Tidak tuan, Azizah mencoba bunuh diri, dia mau menyayat urat nadinya, tapi saya menggagalkan rencananya." terang Bu Yati masih sesenggukan.
"Apa...?" Farid tambah terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Azizah baik-baik saja kan Bu? Dia tidak kenapa-napa kan" tanya Farid lagi
"Dia menyebut nama tuan terus, saya bingung tuan, tolong tenangkan Azizah tuan" pinta sang ibu
"Baik Bu, sebentar lagi saya kesana ya"
Jawab Farid.
"Terimakasih tuan, assalamualaikum tuan"
Tanpa menjawab salam dari Bu Yati, Farid langsung menutup telfonnya. Ia sangat panik dengan kondisi Azizah, kenapa dia mau melakukan percobaan bunuh diri. Masalah besar apa yang menimpa gadis muda itu, apa dia sudah putus asa karena penyakitnya yang semakin menggerogoti tubuhnya.
"Azizah kenapa kak?" Tanya Fina tampak ikut khawatir.
"Azizah mencoba bunuh diri Fin" jawab Farid
"Apa" kata Fina dengan expresi mulut yang menganga
"Inna lillahi wa Inna ilaihi raaji'un kok bisa sih mas" Aisyah mengelus dadanya, ia tak menyangka Azizah mau berbuat senekat itu.
"Keadaan Azizah bagaimana mas?" Aisyah kembali bertanya
"Kata ibunya dia shock, tidak bisa tenang dan terus menyebut nama mas"
"Astaghfirullah hal adzim, sebaiknya kita menunda rencana ke dokternya ya mas, kita jenguk Azizah dulu" kata Aisyah memberikan pendapatnya.
"Iya mas, kita harus memastikan kondisi Azizah baik-baik saja" imbuh Fina
"Baiklah...
Pak Gun kita putar balik ke panti Sekarang" titah Farid.
__ADS_1
"Baik pak" jawab Gunawan, ia perlahan melajukan mobilnya, ketika tengah berada di belokan, ia segera berbalik arah, sesuai permintaan majikanya ia akan mengantarkan mereka ke panti asuhan.
Aisyah memang sudah mendengar sedikit cerita ntentang sosok gadis muda yang bernama Azizah itu, hati kecilnya kembali tersentuh. Mungkin sangat sulit menjalani kehidupan pedih seperti yang dialami Azizah sekarang ini.