
Pagi ini Farid berencana untuk kembali ke rumah sakit, ia akan menjenguk Bu Yati sekaligus mau memeriksakan kehamilan sang istri.
Tetapi kali ini Fina tidak ikut bersama mereka karena banyak pekerjaan toko yang harus dia selesaikan, padahal ia ingin sekali ikut bersama mereka, ia sangat penasaran dengan calon keponakannya.
Farid dan Aisyah sudah sampai di rumah sakit, ia kemudian memberikan sebuah kartu berwarna biru menyala, ternyata itu adalah kartu keanggotaan khusus untuk pelayanan rumah sakit tersebut.
Aisyah tengah duduk di ruang tunggu ketika suaminya sedang mengobrol dengan salah satu petugas rumah sakit.
"Nona Aisyah Fitria Lhasa" panggillan melalui pengeras suara dari salah seorang perawat.
Belum juga duduk sejenak, namanya sudah dipanggil. Aisyah berjalan mendekati petugas, didepan petugas ada suaminya yang tengah berdiri sambil membawakan tas merahnya.
"Mas ada apa?" Tanya Aisyah bingung
"Nona Aisyah, mari silahkan masuk" kata seorang perawat wanita yang bertugas di depan pintu poli kandungan.
"Loh mbak saya datangnya belakangan loh, nggak papa saya akan mengantri sesuai antrian" terang Aisyah menolak tawaran wanita itu.
"Sayang ayo kita masuk" ajak Farid sambil memegang tangan istrinya.
Semua mata ibu hamil tertuju pada mereka berdua, ada sebagian dari mereka beranggapan kalau Farid menyuap perawat itu untuk bisa masuk ke dalam tanpa mengantri.
"Mas kok bisa sih kita masuk tanpa mengantri, kasihan ibu-ibu yang lain mas" tanya Aisyah perlahan melangkah mengikuti sang suami dengan rasa gelisah
"Sebenarnya aku sudah memesan antrian dari tadi pagi sayang, jadi kamu tidak usah khawatir ya, ini sesuai prosedur kok." Jelas Farid menjelaskan pada istrinya
Di depan pintu masuk sudah ada seorang perawat yang mempersilahkan masuk.
__ADS_1
"Selamat pagi pak Farid, cantik sekali istri bapak" kata dokter lelaki berkacamata dengan senyum khasnya
"Terimakasih dok, tolong chek kandungan istri saya ya" kata Farid masih menggandeng tangan istrinya
"Baik Pak Farid... Mari Bu silahkan berbaring" suruh sang dokter
Aisyah melangkah mendekat, ia berbaring di tempat tidur yang ditunjukkan sang dokter. Sebenarnya hatinya sedikit bertanya-tanya tentang keakraban suaminya dengan dokter kandungan itu.
"Permisi ya Bu" tanya perawat meminta ijin menaikkan gamis Aisyah, untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Tunggu.." kata Aisyah menahan gamisnya agar tak terbuka, meski ia memakai celana panjang tetapi ia tidak nyaman dengan dokter lelaki itu.
"Ada apa sayang" tanya Farid langsung mendekati istrinya
"Mas aku malu, bagaimana kalau kita pindah menggunakan jasa dokter wanita saja, aku kurang nyaman dengan dokter lelaki mas" Aisyah berbisik di telinga sang suami.
Sang dokter pun menuruti perintah Farid, dia meminta perawat untuk memanggilkan dokter spesialis
Obgyn lainnya yang berjenis kelamin perempuan.
Setelah lima menit kemudian perawat tadi masuk bersama dokter wanita.
"Ini dokter Moza pak Farid, Bu Farid, beliau juga dokter obgyn. Kalau begitu saya permisi dulu ya, silahkan dokter Moza" terang dokter berkacamata tadi pamit keluar.
Di dalam ruangan tersebut sudah tidak ada lawan jenis kecuali Farid saja.
Aisyah pun lega dengan pemeriksaan pertamanya, ia dan Farid sangat bahagia ketika sang dokter menjelaskan kondisi janinnya yang sudah berusia 5 Minggu, mereka semakin terkejut ketika dokter mengatakan ada dua janin di dalam rahim Aisyah.
__ADS_1
"Dua dok.... Jadi anak saya kembar dok" kata Farid terkejut, sungguh anugerah terindah yang Allah berikan, Allah tengah menitipkan dua nyawa sekaligus.
Ini sungguh kabar yang membahagiakan, Aisyah sampai tak bisa membendung air mata kebahagiaannya.
"Iya pak.. Bu... Janinya kembar, selamat ya!" Terang sang dokter berkacamata itu dengan nada ramahnya.
"Alhamdulilah...Terimakasih Bu dokter" jawab Aisyah menurunkan gamisnya, ia kemudian dibantu berdiri oleh suaminya.
Setelah selesai mereka berdua pun menjenguk Bu Yati di ruang perawatan, kondisi Bu Yati juga sudah membaik, beliau perlahan juga sudah bisa mengikhlaskan kepergian putrinya.
Karena kondisi beliau sudah kembali normal, dokter pun mengijinkannya pulang. Farid dan Aisyah pun mengantarkan Bu Yati pulang ke rumah panti.
Di sana mereka berdua juga menyempatkan waktu untuk bermain bersama anak-anak panti.
Aisyah sangat kagum dengan sikap kebapakan dari suaminya, ia semakin yakin suaminya akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak.
Itu semua terlihat dari sikap penyayang suaminya kepada anak-anak panti, Farid tampak telaten bermain dengan mereka semua, apa lagi dia juga tidak membeda-bedakan satu dan yang lainnya.
Setelah hampir satu jam mereka menghabiskan waktu bersama anak-anak panti, Farid meminta istrinya untuk menemaninya ke kantor, ia ingin merayakan kehamilan kembar istrinya dengan berbagi makanan kepada karyawannya.
Tidak lupa ia juga meminta kurir untuk mengantarkan beberapa makanan ke panti asuhan juga.
Aisyah pun menuruti permintaan sang suami dengan hati gembira, ia sangat mendukung sikap dermawan suaminya.
Karena membagi rejeki kepada sesama itu insyaallah tidak akan membuatnya miskin, justru Allah akan melipat gandakan pahalanya.
Islam merupakan agama yang mengajarkan umatnya untuk melakukan kebaikan. Salah satunya dengan berbagi pada manusia lain yang membutuhkan.
__ADS_1
Dalam agama Islam sendiri, hal ini disebut sebagai sedekah. Setiap umat muslim dianjurkan untuk bersedekah. Selain membantu sesama manusia, sedekah juga akan mendatangkan pahala dan kebaikan lainnya.