
Cinta merupakan anugerah yang Allah berikan pada setiap makhluk ciptaan-Nya. Cinta adalah sebuah perasaan indah yang dapat berujung dengan malapetakan jika salah mengartikan.
Rasulullah SAW bersabda: “Hiduplah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah sesuatu sesukamu maka sesungguhnya kamu akan berpisah. Berbuatlah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan bertemu dengannya.” - Hadits riwayat Hakim
Karena Islam mengajarkan pada umatnya untuk mencintai Allah melebihi apapun. Sebagai hamba-Nya, kita wajib mencintainya. Kita boleh memiliki rasa cinta kepada lawan jenis, karena itu merupakan anugerah darinya. Tetapi rasa cinta itu harus dapat dikendalikan dan mengarah di jalan kebaikan. Jangan sampai cinta itu menyesatkan, berujung pada dosa yang dibenci Allah SWT.
"Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu." - Hadits riwayat At-Tirmidzi
Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah
Sesungguhnya bila mencintai lebih dari batas wajar, maka Allah akan mengujimu lebih besar dari rasa cinta mu kepada lawan jenis. Berpisah adalah salah satu caranya menyadarkan umatnya.
🍁🍁🍁
Aisyah mengambil sajadahnya, ia beranjak ke kamar mandi mengambil air wudlu. Setelah itu ia kembali keluar dengan menggelar sajadah berwarna emasnya, ia mulai menunaikan ibadah wajibnya.
Usai itu ia bersimpuh memohon ampunan pada Allah. Ia tahu rasa cintanya itu salah.
"Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketentuan Mu, dan merasa cukup dengan keputusanMu serta pemberian Mu.... Amin"
Aisyah menutup doanya dengan mengatur nafasnya dalam-dalam. Kegusaran yang tadinya membayangi perlahan memudar, hati dan pikirannya sudah sedikit tenang.
__ADS_1
Ia melepaskan jubah putihnya lalu melipat sajadahnya.
Ia kembali duduk di pinggiran ranjang. Sesekali ia masih menitihkan air matanya menyesali perbuatannya yang dibenci oleh Allah.
"Kalau saja mas Farid tidak menarik ku, huk...huk..." Tangisannya kembali pecah.
Fina yang masuk membawa nampan makanan, ia langsung menaruh nampan tersebut di atas meja, lalu ia kembali menenangkan sahabatnya.
"Kamu kenapa lagi Is" tanya Fina khawatir
"Kalau mas Farid tidak menyelamatkan ku, pasti aku sudah berbuat dosa besar Fin. Maafkan aku Fin, aku tidak bisa berfikir jernih" terang Aisyah menyadarkan rasa penyesalannya yang mendalam
"Kamu harus kuat Is, jangan kamu ulangi lagi ya, jangan sampai kamu menyakiti orang orang yang menyayangimu hanya karena cinta butamu itu"
"Iya Is, aku akan menuruti permintaan mu, tapi kamu juga harus mau mendengarkan ku. Mulai sekarang kamu tinggal disini bersama ku. Aku nggak mau kejadian tadi terulang lagi"
Ketika Aisyah tinggal serumah bersamanya, ini akan mempermudah dirinya mengawasi sahabatnya itu.
"Iya" kata Aisyah mengangguk
"Tok..tok"
__ADS_1
"Maaf non, makan malamnya sudah siap" kata bibi Inah asisten rumah tangga di kediaman Farid
"Baik bik, bawa makanan ini ke dapur ya" suruh Fina
Ia mengajak Aisyah untuk makan malam bersama, tadinya dia mengantar makan malam Aisyah ke kamar, tetapi ia merasa hatinya sudah cukup tenang sekarang.
Di meja makan tampak Farid tengah menikmati makan malamnya. Fina yang menggandeng tangan Aisyah ia mempersilakannya untuk duduk bergabung menikmati hidangan di atas meja.
Mata sayu itu tengah memandang paras Farid yang sedang menikmati makanannya
"Mas Farid aku minta maaf soal tadi sore ya, dan terimakasih juga mas sudah menolong ku" tutur Aisyah
"Jangan banyak bicara, aku tidak suka ada orang berbicara di tempat makan, cepat nikmati makanan mu" jawab Farid ketos, kata kasar yang keluar dari bibirnya itu, tidak sesuai dengan hatinya. Ia selalu bersikap ketos dengan Aisyah saat bersama orang lain.
Mereka bertiga pun menikmati hidangan makan malamnya.
Setelah selesai, Farid meminta Aisyah untuk menemuinya di ruang kerjanya. Ia ingin membicarakan sesuatu yang penting berdua saja.
Aisyah menoleh ke arah Fina karena bingung, sedangkan Fina memberikan kode menganggukkan kepalanya.
Ada perasaan takut sekaligus penasaran, Aisyah pun melangkah mengikuti Farid dari belakang.
__ADS_1
Entah hal penting apa yang akan dibicarakan Farid padanya, ia berfikir mungkin itu soal pekerjaan barunya di kantor.
Ia tak mungkin berani pergi ke perusahaan itu lagi, secara semua karyawan sudah berfikir negatif tentang dirinya. Apa lagi makian dan cibiran itu masih terngiang di telinganya.