
Anwar sudah tiba di kediaman Farid untuk menjemput Ema. Begitu juga sebaliknya Ema sudah bersiap dengan penampilan cantiknya.
Aisyah sengaja mengajak si kembar main bersama Farid di taman belakang. Mereka berdua tidak mau si kembar tahu kalau Ema tengah bepergian dengan anwar, kalau si kembar tahu Ema pergi jalan-jalan pasti mereka akan bersorak untuk ikut.
Ema melangkah ke luar dengan gaun panjangnya, di depan pintu sudah ada anwar yang tengah berdiri di depan pintu, ia menilik penampilan anggun Ema dengan tatapan terpesona
"Masya Allah, Ema cantik banget kalau seperti ini. Hanya satu yang kurang dari penampilannya, yaitu berkerudung. Andai Ema menutupi mahkotanya dengan kerudung, pasti kecantikannya tidak akan terlihat oleh lelaki yang secara tak sengaja memandangnya" seru anwar dalam hati. Hatinya tengah mengomentari penampilan baru Ema, ia sangat berharap Ema bisa berpenampilan agamis seperti Aisyah.
"Tuan anwar kok bengong? " tanya Ema sedikit malu dengan penampilan barunya
"Apa penampilan ku terlalu berlebihan" tanyanya lagi
"Tidak kok, kamu cantik banget Ema, hanya satu yang menurutku kurang" seru Anwar tak meneruskan ucapannya
"Apa itu tuan? " Ema kembali bertanya
"Itu... kamu akan terlihat lebih cantik kalau berkerudung seperti Aisyah" jawab Anwar langsung
"Ya Allah, apa mungkin tuan Anwar masih menyimpan perasaan dengan nyonya. Kenapa dia ingin penampilan ku seperti nyonya, ya Allah rasanya dadaku sesak sekali mendengar ucapannya. Aku tahu ya Allah, aku belum siap untuk berhijab, hatiku belum yakin untuk itu" gumam ema dalam hati, ia menekuk mukanya karena sedih dan kesal
"Kok jadi ganti kamu yang bengong" tanya Anwar bingung dengan ekspresi masam Ema
"Oh.. nggak kok tuan"
"Ya sudah ayo berangkat sekarang"
Ema pun mengangguk sambil mengikuti langkah anwar
Anwar membukakan pintu mobilnya untuk mempersilahkan Ema masuk, setelah itu ia berlari masuk ke pintu samping, segera masuk memapakkan kakinya. Karena melihat Ema kesulitan memasangkan seat beltnya, ia pun meraih tangan Ema lalu mengunci seat belt sampai terdengar suara 'klik'
Setelah terpasang, mereka berdua saling bertukar pandang dengan posisi tangan Anwar yang masih bertumpu pada telapak tangan Ema
__ADS_1
Ema langsung menarik tangannya dan berkata "Maaf tuan Anwar"
Dengan sedikit kikuk anwar langsung menancapkan gasnya, melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah mengambil nafas, Anwar mulai menjawab permintaan maaf Ema
"Aku juga minta maaf ya, Emh.. boleh nggak aku mintak sesuatu dari kamu"
"Apa itu tuan Anwar? " kata Ema sambil menelan salivanya karena penasaran
"Kamu mau kan, panggil aku mas Anwar, tolong jangan memanggil ku tuan terus." pinta Anwar sembari sesekali menoleh pada iras ayu Ema
"Mas Anwar? " jawab Ema membuka matanya lebar-lebar
Rasanya masih tak bisa dipercaya kalau Anwar benar-benar jatuh hati padanya.
"Iya panggil mas saja ya, aku lebih suka kamu memanggilku dengan sebutan seperti ini" terang Anwar tersenyum tipis
"I... iya mas" jawab Ema malu-malu
Di restoran mewah tersebut, Anwar sudah memesan ruangan khusus VIP. Hari ini ia berencana untuk melamar Ema secara langsung
"Mas Anwar, tempatnya mewah sekali, saya merasa tidak nyaman di tempat yang bagus seperti ini" terang Ema sambil celingukan menatap sisi ruangan yang berhiaskan pernak pernik cantik dan terlihat berkilauan
"Nggak kok, ini aku persiapkan khusus untuk mu, aku ingin memberikan kesan baik untuk kedekatan kita" jawab Anwar kembali menyimpulkan senyumnya
"Terimakasih ya mas Anwar"
"Sama-sama"
Selang beberapa menit kemudian, dua orang waitress datang dengan mendorong service trolley yang berisikan menu-menu bintang lima
__ADS_1
Ema yang melihat hal tersebut sangat takjub dengan pelayanan restoran bintang lima itu
"Silakan dinikmati hidangnya" terang dua orang waiter cantik dengan senyum sumringah
"Terimakasih Mbak"
Anwar dan Ema mulai menikmati hidangan yang sudah tersaji. Setelah selesai Anwar mulai mengungkapkan isi hatinya
"Ema, mas mau membicarakan sesuatu yang penting, apa kamu bersedia menemaniku, menjadi pendamping hidupku sampai akhir hayat ku" tutur Anwar sembari memegang tangan Ema
Nervous tentu saja iya
Ini adalah pertama kalinya Ema merasakan speechless, setelah sekian lama hidup menjanda akhirnya ada lelaki tampan dan mapan yang tengah melamar dirinya, rasanya sangat mengejutkan, bahagia rasanya ketika dilamar oleh lelaki yang memenuhi benaknya akhir-akhir ini.
Tetapi terbesit rasa ragu yang melanda hatinya "Apa benar mas anwar serius? apa ini tidak terlalu cepat? "
"Bagaimana Ema? apa jawabannya? " pertanyaan Anwar semakin membuat Ema bingung, bingung untuk menjawab, bingung untuk menyuarakan kegundahan hatinya, rasa cinta dan juga keraguan yang ia rasakan sangat beda tipis
"Emh... aku bingung mas, kita kan kenal belum ada sebulan, apa tidak terlalu cepat? "
"Aku sudah yakin untuk menjadikan mu pendamping hidupku. Aku berharap kamu mau menjadi wanita terakhir yang menemani sisa hidupku"
"Mas aku mau menjadi istri mu, semoga mas Anwar menjadi imam yang terbaik dalam hidupku"
Anwar sangat bahagia ketika mendengar jawaban yang memuaskan dari bibir Ema, karena begitu senang ia mencium punggung tangannya dua kali.
"Terimakasih ya Ema"
"Sama-sama mas"
"Kapan kamu siap, aku mau bersilaturahmi dengan keluarga besarmu"
__ADS_1
"Insya Allah kapanpun mas Anwar mau, Ema siap. Semoga rencana ini dipermudahkan Allah ya mas" kata Ema sembari mengukir senyum bahagianya.
Anwar kembali mencium punggung tangannya. Iras mereka berdua dipenuhi kebahagiaan, kedua maniknya saling bertukar pandang, seakan saling menyelami hati mereka satu sama lain