Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Kebahagiaan


__ADS_3

Hari ini di akhir pekan, Fani datang dengan keluarga besarnya, ada Hamid sang suami dan kedua mertuanya.


Mereka bertandang ke rumah keluarga kakaknya, untuk menengok si kembar yang lucu-lucu dan bandel itu.


"Yu..hu... kedua keponakan ku, Tante datang membawa hadiah untuk kalian berdua" Fina berteriak girang memanggil kedua keponakan kembarnya


Si kembar yang tengah asik bermain bersama Ema pun langsung berhambur menghampiri tantenya


"Ye... Tante dan Om datang...Ye dapat hadiah" Bang Al dan adik Zizah melonjak girang sambil mengambil hadiahnya masing-masing.


"Ini untuk Abang Al


Yang ini untuk si cantik Zizah"


"Terimakasih Tante Fina" jawab keduanya


"Sama-sama sayang"


Kedua anak kembar itu langsung mencium kedua pipi Fina ketika melihat tantenya tengah berjongkok


Aisyah yang datang dari tangga, ia bergegas menghampiri mereka semua, ia memeluk tubuh Fina yang agak gendutan, Sekarang Fina tengah hamil lima bulan, perutnya juga sudah membuncit.


"Kangen banget sama kalian Is, mana kak Farid kok nggak kelihatan?" Tanya Fina


"Mas Farid lagi keluar, katanya mau nemuin mas Sonny gitu" jawab Aisyah 


Kemudian ia menyalami kedua orang tua Hamid dan mempersilahkan mereka duduk


"Mari silahkan duduk, Tante dan Om apa kabar, sudah setahun tidak bertemu Tante tambah cantik saja" tutur Aisyah memuji ibunya Hamid


"Alhamdulillah baik terimakasih pujiannya, nak Ais juga makin awet muda', nak Ais dan semuanya juga baik kan, ini si kembar sudah besar sudah lanyah berbicara ya. Padahal tahun lalu, Abang Al bicaranya masih cedal loh ya" jawab ibu Hamid dengan seringai senyuman


"Iya ya Tante. Hehehe sekarang ini Abang Al bandel banget Tante, sampai pusing kalau udah liat mereka bertengkar" kata Aisyah tersenyum bahagia sambil melirik kedua putranya

__ADS_1


Memang kebahagiaan tersendiri ketika melihat mereka akur kali ini, padahal mereka berdua biasanya juga bertengkar, Abang yang selalu jahilin adik Zizah, tiba-tiba terlihat nyaman bermain dengan mainan barunya bersama adek Zizah


"Itu mereka lagi akur mbak" seru Hamid turut bahagia melihat mereka berdua


"Uwa...a...a...hu." tangisan Azizah pun pecah. Belum juga selesai diomongin eh.. udah bertengkar lagi


"Hadeh...!" seru Hamid dengan paras lucunya


"Ada apa sayang... Cup..cup jangan nangis" Hamid segera beranjak dari sofa, dia berusaha menenangkan Azizah


"Itu Om, bonekaku tangannya dicopot sama Abang" rengek Azizah menangis


"Mana, orang aku cuma pegang aja. Kan adik yang narik tangannya, giliran copot aku yang disalahin" elak bang Al kesal


"Sudah.. sudah jangan bertengkar lagi, ayo Abang minta maaf. Sini bonekanya biar Om benahin" tutur Hamid meminta mereka untuk saling bersalaman dan mengucapkan maaf


Azizah mengulurkan tangannya ke depan Abang Al, kemudian Abang menutupi mulutnya karena terbatuk-batuk, lalu ia meraih tangan adiknya dan meminta maaf


"Maaf ya dek"


"Ih Abang jorok... Hu...hu...u... Bunda Abang Al jahat, tanganku dikasih permen karet dari mulutnya" Azizah langsung berlari menghampiri bundanya sambil terus menangis


"Khi...khi..khi.." Abang Al tertawa lirih sembari menundukkan kepalanya


"Abang memang jahil ya" kata Hamid menarik tangan Abang lalu menggendongnya dengan paksa, Abang malah tertawa lepas sambil melihat expresi adik Zizah yang terus terisak


"Aduh Abang, bisa nggak sih jangan jahilin adik Zizah. Bunda bisa darah tinggi kalau Abang seperti ini terus. Harusnya Abang itu melindungi adik Zizah, bukanya malah dibikin nangis terus" kata Aisyah dengan wajah memerah karena marah, Meskipun marah dengan kebandelan sang putra, Aisyah masih bisa berbicara baik pada sang anak, tidak memarahinya secara frontal, disaat seperti inilah Aisyah harus extra sabar mendidik putra sulungnya


"Darah tinggi itu darahnya setinggi apa Bun, apa bisa sampai langit. Wah kaya air terjun dong Bun, Abang pingin liat"


Celetuk Abang tanpa rasa bersalah


"Hahaha"

__ADS_1


Decak tawa pun seketika pecah, mereka semua terhibur dengan jawaban Abang Al yang lucu


"Tuh kan, Tante. Abang Al sekarang dah pandai bicara, kadang aku suka bingung mau jawab apa" seru Aisyah turut tersenyum, tadinya ia yang kesal berubah senang


Setelah mereka berbincang Farid tiba-tiba datang dari pintu utama "Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" seluruh orang menoleh dan menjawab salamnya


"Wah Alhamdulillah bisa berkumpul lagi, apa kabar semuanya, gimana kondisi calon keponakan kecilku Fin"


"Alhamdulillah baik' mas" jawab Fina


"Alhamdulillah kami semua juga baik" jawab Hamid dan kedua orangtuanya


Farid menghampiri istrinya, ia langsung menggendong Azizah yang masih menangis tak menampakkan wajahnya karena bersembunyi di dada sang bunda


"Sayang kenapa kok nangis? Cup...cup...cup."


"Ini mas, biasa si Abang jahilin adek Zizah" jawab Aisyah mengadu


Farid pun langsung menatap putranya yang masih dalam gendongan Hamid


"Abang ayo ikut ayah masuk, Azizah jangan nangis lagi ya, Ayah mau menghukum Abang Al" bisiknya pada sang putri


Kemudian Azizah sudah cukup tenang "Janji ya yah" ucapnya masih sesenggukan


"Janji dong" Farid mengaitkan jemari kelingking Azizah dengan kelingkingnya


"Semuanya maaf ya, aku masuk dulu, mau mandi sebentar. Nanti makan malam disini kan?" kata Farid meminta izin


"Iya pasti dong kak, aku kangen dengan masakan enak Aisyah" jawab Fina girang


sedangkan yang lainnya tersenyum mengangguk

__ADS_1


Farid menggendong putranya menaiki anak tangga, yang lainya tampak mengobrol di ruang tengah, sambil menikmati camilan yang disediakan Ema


__ADS_2