Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Hari pernikahan Fina


__ADS_3

Hari ini di depan pintu masuk gedung mewah Hotel XC


terpampang sebuah photo prewedding yang berukuran sangat besar dengan bingkai biasan bunga berwarna merah maroon


***Welcome to the wedding of


Drs. Hamid Bramantyo spOG


With


Fina Larasati Diningrat


June 21 2021***


Inilah hari paling membahagiakan bagi Fina dan Hamid, dan juga pihak keluarganya, dimana ia akan menjadi ratu semalam Karena hari ini adalah hari  pernikahannya bersama Hamid.


Pihak keluarga Fina telah tiba di sebuah hotel bintang lima di pusat kota Jakarta, bangunan menjulang tinggi itu juga merupakan salah satu hotel milik kakaknya 'Farid'


Mereka turun satu persatu dari mobil, Farid  membantu memegang tangan Aisyah, perut Aisyah sudah terlihat besar, mungkin sekarang usia kandungannya sudah jalan empat bulan. Fina terlihat kerepotan saat menuruni mobil, gaunnya yang panjang menghambat langkahnya, akhirnya Akhmad yang membantunya turun dari mobil


"Mbak Fina, Akhmad bantuin ya..." ucap Akhmad menawarkan bantuan, ia membuka telapak tangannya, untuk menjemput tangan Fina


"Terimakasih ya Mad"


Akhmad pun mengangguk, dibalik senyuman yang ia pancarkan, tersimpan kesedihan di hatinya. Ia harus merelakan idolanya untuk menikah dengan pria lain.


"Apes banget nasib ku, cinta pertama ku akan menjadi milik orang" pekiknya dalam hati. Akhmad memang begitu mengagumi fisik Fina, dari pertemuan pertama ketika di kampung ia sudah jatuh hati padanya, tetapi ia sadar rasa cintanya hanyalah obsesinya semata, rasa obsesi sekaligus kekaguman yang tumbuh begitu saja.


Akhirnya mereka semua berkumpul di lobby. Dari pihak mempelai wanita ada Farid, Aisyah, Umi, Abi, Akhmad, Sony, paman dan bibinya. Mereka semua berjalan beriringan mengiringi langkah mempelai wanita layaknya Bridesmaids, berjalan menapaki red karpet memasuki gedung yang sudah disulap menjadi nuansa glamor dan mewah


Suasana gedung resepsi di lantai dasar itu dipadati oleh beberapa tamu undangan yang tampak berdatangan, semuanya memakai pakaian pesta berwarna putih. Gedung mewah nan megah itu dihiasi berbagai jenis bunga serta gemerlap hiasan yang berwarna putih, silver dan gold yang berkonsep glamor.


Pihak wedding organizer juga telah mempersiapkan pelaminan serta tempat acara ijab qobul yang tidak kalah mewah.

__ADS_1


Pihak keluarga Hamid, yaitu mama, papa, dan Siska adik kandungnya dan juga beberapa saudara dari keluarganya sudah mulai memasuki gedung.


Seorang pembawa acara memulai aktifitasnya, lelaki berparas tampan itu menginstruksikan kepada kedua mempelai dan pihak wali maupun saksi untuk berkumpul memenuhi kursi ijab kabul. Farid sebagai wali dari Fina, ia yang akan menikahkan adiknya dengan Hamid atas persetujuan dari keluarga dan juga pak penghulu


***


Ananda Hamid Bramantyo bin Sugiarto, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adik perempuan saya Fina Larasati Diningrat binti Almarhum Joko Diningrat dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan satu set dibayar tunai


Hamid mengucapkan ijab Kabul dengan lantang dan benar, beberapa saksi juga menjawab *sah*


Acara tersebut diakhiri dengan doa yang khikmat, Mereka berdua menyematkan cincin kawin di masing-masing jari manisnya, tak lupa Fina mencium tangan suaminya sebagai tanda penghormatan awal dari hubungan sah mereka. Kemudian mereka mencium tangan Farid dan papanya Hamid


Acara dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua mempelai lelaki, sedangkan dari keluarga Fina, Farid dan Aisyah yang mengambil alih tugas itu, setelah selesai sungkeman Fina dan Hamid duduk di kursi pelaminan, Kemudian para tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan pesta yang sudah disediakan.


Saat acara berlangsung, tiba-tiba ada sosok wanita berbadan kurus kering, dengan pakaian putih bersih dengan wajah pucat pasi datang dari pintu masuk, kedua tangan keriputnya memegang kotak hitam dengan berhiaskan pita satin berwarna merah hati


"Mas itu bukanya Rani" tutur Aisyah sedikit terkejut melihat kondisi Rani yang sekarang, Rani tampak terhuyung dengan langkahnya, tetapi ia bingung kenapa Rani datang ke acara pernikahan Fina, padahal semua orang sudah tahu kalau Rani sudah bercerai dengan Anwar, dan pihak keluarganya hanya mengundang Anwar saja, tidak mengundang Rani karena memang usai bercerai sosok Rani menghilang entah kemana bagai ditelan bumi.


"Aku nggak tahu sayang" Jawab Farid juga bingung, ia menggeleng sembari terus meloloskan pandangannya pada Rani


"Kalian semua kenal dengan Rani?"


Kata Hamid sambil menatap Farid dan Aisyah 


"Mas Hamid mengenal Rani wanita pelakor itu" sahut Fina turut andil menjawab rasa penasaran suaminya


"Dia pasien ku Fin, Kenapa kamu menyebutnya pelakor" tanya Hamid juga bingung, ia melihat ada sorot tidak menyenangkan dari netra mereka bertiga


"Ceritanya panjang mas, ntar aja aku ceritakan." jawab Fani sedikit risih dengan kedatangan Rani di acara bahagianya.


"Fin, jangan terbawa emosi, kita harus memaafkannya, sekarang coba lihat keadaannya ngenes gitu" tutur Farid mengingatkan adiknya untuk tidak menyimpan dendam maupun kebencian di hatinya, sekarang langkah Rani sudah semakin dekat


"Maaf ya Fin" kata Hamid menyesal telah membuat istrinya kesal seperti itu

__ADS_1


"Ini bukan salah kamu kok mas, aku sudah nggak papa kok" jawab Fina memperlihatkan senyum simpulnya


"Nah gitu dong Fin, sesama manusia kita harus saling memaafkan" imbuh Aisyah menambahkan bumbu manisnya


Fina menggeleng dengan menghembuskan nafasnya


"Hedeuh


Aku salut banget sama kamu Is, kamu bisa maafin wanita seperti Rani, mungkin kalau aku jadi kami nggak akan deh aku maafin" bisik Fina sambil menggandeng lengan Aisyah


"Loh, kalau maafin yang ikhlas to sayang" goda Hamid sambil menyentil dagu Fina


"Iya mas... ini dah berusaha ikhlas kok"


"Nah gitu dong" Jawab Hamid lega


Langkah Rani semakin mendekat, ia mulai menapaki tangga podium pelaminan, sorot matanya tak lekang dari sosok Aisyah, ia tampak melotot ketika melihat perut buncit Aisyah. 


"Wanita itu tak boleh melahirkan bayinya, dia harus mati, ini kesempatan terakhir ku untuk menghabisi nyawanya" umpat Rani dalam hati.


Ternyata setelah menjalankan operasi dan juga kemoterapi, kondisi Rani semakin pulih dan membaik. Meskipun dokter Hamid belum bisa memastikan ia bisa sembuh total dari sel kanker yang menggerogoti serviksnya. Ia semakin semangat untuk sembuh, apalagi keinginan paling berharga dalam hidupnya belum terwujud. 


Yaitu keinginan untuk membalas dendam pada Aisyah dan suaminya


Kira-kira rencana buruk apa yang telah direncanakan oleh Rani


Bahkan disisa hidupnya saja masih tersimpan kebencian dan bara dendam yang masih membara


Akankah Allah menolong Aisyah untuk yang kesekian kalinya?


Nantikan chapter selanjutnya besok ya readers.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2