Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Perasaan Anwar


__ADS_3

"Ngik...." Abang Al menarik tangan Ema, jatuhlah Ema tepat di pangkuan Anwar


"Mbak Ema gimana kok nggak hati-hati" ejek Abang Al dengan kenakalannya, niatnya mengerjai Ema, eh Ema beneran jatuh dan ditangkap oleh Anwar, bocah jahil itu sengaja mempraktekkan sinetron yang sering ia tonton dengan kakeknya


Kedua manik hitam mereka saling bertukar pandang, ada sesuatu yang bergetar dari dalam sana, entah apa itu, mereka merasakan hal tersebut satu sama lainnya


Selang beberapa menit Ema sontak berdiri dari pangkuan Anwar


"Maaf pak" wajah Ema memerah tersipu malu


"Tidak papa mbak" jawab Anwar kikuk


"Pak Anwar, Ema ada apa ini" tanya Farid yang baru saja datang bersama sang istri. Mereka berdua melihat expresi Ema dan Anwar yang speechless


"Ini pak" tunjuk Ema pada Abang Al


Saat itu juga tersangkanya sedang senyum-senyum sendiri


"Abang Al? kenapa lagi Ema?" selidik Aisyah


"Orang Abang nggak ngapa-ngapain kok bunda, iya kan Om?" Abang Al melirik ke arah Anwar, sebelah matanya berkedip mengkodenya


"Iya benar" jawab Anwar mengiyakan jawaban Abang Al, ia mengacungkan jempolnya untuk Abang


"Abang Al cepat masuk, main sama mbak Ema dan adik Zizah" titah Farid


"Oke yah"

__ADS_1


"Permisi tuan, nyonya" kata Ema bergegas menggandeng Abang masuk


Farid dan Aisyah duduk berdampingan di sofa depan Anwar, lelaki yang pernah menjadi mantan suami Aisyah itu tampak memancarkan binar senyumnya, bibirnya mengukir senyuman, tetapi hatinya tengah menangis, melihat kemesraan mereka berdua, rasa penyesalan selalu membayanginya. Kalau saja kata SEANDAINYA bisa terulang kembali, tentu ia akan lebih memilih setia pada Aisyah ketimbang memilih wanita jal*ng yang sudah almarhum itu.


"Pak Anwar ada apa?" kata Farid membangunkan Anwar dari lamunannya


"Oh... tidak pak Farid, anak-anak sudah besar ya, mereka sudah pintar dan juga lucu"


"Ya begitulah pak Anwar, semakin tumbuh dewasa, kejahilan Abang Al semakin terlihat, jujur aku suka bingung sikapnya Abang mirip siapa, sifat mereka begitu berbeda, adiknya lemah lembut sekali, tetapi abangnya benar-benar super"


"Iya mas' setiap hari kepala ku pusing melihat kenakalan Abang Al, oh ya aku ingat, sikap Abang Al mirip sekali dengan almarhum Akhmad waktu kecil. Masya Allah Ais jadi ingat masa kecil bersama Akhmad, dia sering sekali ngejailin Ais mas, dia belum puas kalau belum melihat aku nangis" imbuh Aisyah sembari mengukir senyum indahnya, kenangan masa kecil itu membuatnya rindu akan sosok adik tercintanya


"Namanya juga anak kecil dek, harus extra sabar ya, tapi lucu kok, Abang Al menggemaskan sekali" kata Anwar menatap manik bulat Aisyah, memang manik bulat, hitam, dan bening itu selalu meneduhkan hati siapapun yang menatapnya. Tatapan penuh ketulusan, kelembutan hati seorang wanita, sekilas Aisyah memang wanita sempurna yang di nyaris tanpa goresan. Ia sekarang sadar betapa bodohnya dirinya yang pernah membuat mata indah itu menitihkan air mata karena keegoisannya 


"Pak Anwar terimakasih sudah berkunjung ke rumah kami, mari makan siang bersama pak." ajak Farid sedikit cemburu dengan tatapan Anwar pada istrinya


Di meja makan sudah ada si kembar yang sudah stand by di atas kursinya


"Ema tolong panggilkan Abi ya" pinta Aisyah


"Iya nyah"


"Abi gimana kabarnya dek? apa Abi sudah ikhlas dengan kepergian Umi?" tanya Anwar, ia mengingat kejadian dulu ketika Abi menangis meratapi kematian Umi, kasihan sekali melihatnya waktu itu, rasa iba pun seketika merasukinya


"Alhamdulillah kami semua sudah mengikhlaskan kepergian Umi, ini semua juga demi kebaikan Umi, kasihan Umi kalau kami tetap terpuruk, aku takut Umi di surga juga tidak akan bahagia. Sekarang Abi sudah nyaman dengan dunianya, Abi selalu menghabiskan waktunya untuk beribadah dan juga bermain bersama si kembar." terang Aisyah. Kemudian Abi datang dengan tubuh kurusnya, meskipun tubuhnya tampak semakin renta, keriput dan juga kurus. Langkah Abi yang sedikit membungkuk tampak masih kuat, fisiknya juga masih terlihat sehat bugar


"Nak Anwar ada di sini" kata Abi menyalami Anwar

__ADS_1


Anwar langsung beranjak dari tempat duduknya untuk menyambut tangan Abi, ia mencium punggung tangan mantan ayah mertuanya itu


"Iya Abi, Abi gimana kabarnya? kelihatannya Abi semakin terlihat awet muda ya" puji Anwar melihat paras dan fisik Abi yang masih sama dengan empat tahun lalu


"Nak Anwar bisa saja? mana istri mu kok tidak diajak" 


"uhuk...huk" mendadak Anwar tersedak dengan pertanyaan Abi


"Minum Om" sahut Abang Al, menggeser segelas air putihnya untuk Anwar


"Wah terimakasih ya Abang, Abang memang anak yang baik" puji Anwar


kemudian ia meminum air putihnya


"Mari sambil ngobrol kita nikmati makanannya" kata Farid memulai acara makan siangnya, Farid tampak menutupi perasaan Anwar, ia sebenarnya tahu kalau Anwar belum ingin menikah ataupun dekat dengan wanita lain, karena dia masih trauma dengan dua kali kegagalan rumah tangganya


Semuanya mulai menikmati makanannya, setelah usai menikmati hidangan makan siang, Farid meminta Anwar untuk duduk di sofa ruang tengah, posisi ruangan terbuka itu bisa dengan jelas melihat seisi ruangan yang tampak megah


Aisyah dan Ema mulai membereskan meja makan, sedangkan Abi dan kedua cucunya bermain di taman belakang rumah


Sesekali manik Anwar menoleh, menatap paras lugu Ema. "Wanita itu lugu dan santun, mirip sekali dengan sikap Aisyah yang pemalu" gumam Anwar, ia merasa ada sesuatu yang menarik dirinya untuk menilik wanita yang bernama Ema itu


Aisyah menatap Anwar yang tengah hanyut dalam pandangannya, ia tampak tersenyum melihat reaksi Anwar melihat Ema "Sepertinya mas Anwar suka dengan Ema" terka Aisyah dalam hati


"Semoga saja mas Anwar berjodoh dengan Ema, Meskipun Ema seorang janda, tetapi dia wanita yang baik dan santun, ibadahnya juga baik meskipun ia tidak berhijab, Ema pantas mendapatkan lelaki yang baik seperti mas Anwar" gumamnya lagi


Sejak bercerai dengan Rani, Anwar memang berubah menjadi pribadi yang lebih baik, ia lebih memilih hidup damai dalam kesendiriannya, lebih fokus dalam menata diri di jalan Ilahi. Meskipun dulu begitu banyak dosa yang ia lakukan pada Aisyah dan keluarganya, ia menyadari hal tersebut dan lebih memilih untuk segera bertobat di jalan Ilahi

__ADS_1


__ADS_2