
Di tengah perjalanan handphone Anwar berdering. Ternyata itu adalah panggilan telepon dari Rani.
"Halo... Assalamualaikum, ada apa sayang?"
"Halo mas Anwar, tolong transfer uang 10juta ya, aku mau beli tas baru tetapi uangku kurang"
"Maaf sayang aku nggak bisa memberikan uangnya, tabungan kita sudah menipis, kita harus berhemat ya"
"Oh... Jadi mas Anwar mengira aku boros gitu, kalau saja mas Anwar tidak melarang ku bekerja, aku nggak bakalan minta kamu
..huh...!"
Karena kesal akhirnya Rani segera menutup telfonnya.
"Masya Allah... Tolong sadarkanlah istri ku ya Allah, harus dengan cara apa aku menuntun nya ke jalan mu" Anwar mulai mengadu kepada Allah, ia memasrahkan takdirnya pada kehendak ilahi.
Sesampainya di kantor ia berpapasan dengan Farid dan Sony yang kini diangkat menjadi asisten pribadinya, ia menatap wajah bosnya dari dekat, ternyata setelah menikah dengan Aisyah paras tampannya semakin berbinar sumringah. Ia menjadi pribadi yang bijak dan ramah pada semua karyawannya.
"Selamat pagi pak Anwar... Pak Sony" mereka bertiga tampak berjalan beriringan sambil mengobrol
"Pagi pak Anwar" jawab Sony sambil menenteng tas bosnya
"Selamat pagi pak Farid bagaimana kabar anda dan keluarga" tanya Anwar, sesungguhnya ia sangat ingin sekali mengetahui kabar mantan istrinya. Sejak menikah sampai sekarang ia belum lagi melihat batang hidungnya
"Alhamdulillah kami semua baik, pak Anwar sendiri bagaimana"
Tanya Farid balik
"Alhamdulillah baik juga pak"
Ia terpaksa harus berbohong karena malu dengan kondisi keluarganya yang tidak harmonis.
"Mari masuk ke sini pak Anwar" ajak Farid
__ADS_1
Ia meminta Anwar untuk masuk ke dalam lift khusus, lift tersebut memang diperuntukkan untuk direktur dan petinggi lainya dan juga para klien kantor.
"Terimakasih pak Farid. Pak Farid hebat ya... sejak menikah dengan Aisyah, bapak berubah menjadi pribadi yang sangat baik. Saya salut sama bapak" puji Anwar
"Terimakasih atas pujian pak Anwar, semua memang karena istri saya, dialah yang selalu mendukung saya untuk menjadi manusia yang berjalan atas tuntunan Allah." Jelas Farid
Pintu lift sudah terbuka, Farid dan Sony pun keluar dari lift. Sedangkan Anwar masih di dalam lift, ruangan mereka hanya berbeda satu lantai saja.
Anwar kembali tertegun, betapa perhatiannya Aisyah kepada suaminya. Ia melihat Farid menenteng tas kotak yang berisi bekal dari Aisyah. Semua itu sungguh membuat Anwar iri akan keharmonisan keluarga Farid dengan mantan istrinya.
Semenjak Farid memimpin perusahaannya yang bergerak di bidang keuangan, keuntungan perusahaan naik pesat, bahkan semakin banyak investor dari dalam negeri maupun luar negeri yang ingin bergabung dengannya.
"Son... Kalau proyek kita benar-benar deal, bagaimana kalau kita ajak seluruh karyawan berlibur bersama keluarganya selama tiga hari" tanya Farid meminta pendapat Sony.
Sony adalah teman lama Farid yang sekarang menjadi kepercayaannya. Selama Farid sakit dan berbulan madu selama seminggu, Sony lah yang menghendel perusahaannya.
"Bagus juga itu pak Farid, sekarang kamu lebih memperhatikan karyawan ya... Aku kagum dengan perubahan mu" terang Sony tersenyum bahagia, ia juga termasuk salah satu orang yang bersyukur dengan perubahan teman dekatnya.
"Waduh, jangan lah Rid... Aku harus profesional lah, kalau diluar kantor pasti akan lain ceritanya"
"Ya sudah terserah kamu saja"
"Kamu boleh keluar dulu son, aku mau menelfon istriku"
"Baiklah"
"Dreeeetttt... dreeeetttt..."
"Halo assalamualaikum mas"
"Waalaikumsalam Humaira ku... Yaa Zawjatii ku, aku merindukan mu"
"Alhamdulillah... Suamiku tercinta selalu merindukan ku setiap waktu"
__ADS_1
"Sayang... Aku mengirimkan hadiah untuk mu, semoga kamu menyukainya ya"
"Hadiah apa itu mas?"
"Tunggu saja, sebentar lagi kurirnya pasti datang"
"Mas Farid bikin penasaran saja"
"Ting...tong"
"Itu mas, mungkin kurirnya sudah datang, aku tutup dulu ya mas"
"Tunggu sayang"
"Anna uhibbu ilaika yaa zawjatii"
"Syukron katsiron suamiku... Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Alhamdulillah Farid sangat tekun mendalami agamanya, ia juga sedikit demi sedikit semakin fasih berbahasa Arab.
Setelah menutup telfonnya Aisyah berjalan ke arah pintu. Kemudian membuka pintu tersebut, benar saja itu adalah seorang kurir suruhan suaminya.
Aisyah mengambil Kotak merah hati itu dari sang kurir, tak lupa ia juga mengucapkan terimakasih kepada sang kurir.
Setelah itu ia bergegas naik ke kamarnya untuk membuka hadiah tersebut.
Perlahan ia membuka pita hitam yang menghiasi kotak hadiah itu, senyum yang tadinya tipis tanpak semakin melebar ketika melihat hadiah dari suaminya.
Sepotong gamis berwarna peach dengan kerudung yang senada, itu adalah warna kesukaannya.
Farid memang sangat perhatian kepadanya, selama menikah ia selalu memberikan banyak hadiah dari mulai bouquet bunga mawar, cokelat, gaun hijab, dan yang lainnya.
__ADS_1