
Sampailah pada penghujung acara, alhasil Farid dan pihaknya sudah tiba di halaman rumah Aisyah.
Suasana itu tampak ramai. Seluruh anggota keluarga Aisyah turut hadir menyemarakkan, di halaman rumah banyak anak kecil yang ikut berlarian menyambutnya.
Tampak kedua orang tua Aisyah keluar dari pintu, kemudian disusul beberapa ibu-ibu yang menerima seserahan dari keluarganya.
Keluarga besar Farid disambut dengan hangat, kemudian Abi dan Umi mempersilahkan seluruh kedua anggota keluarga dari kedua belah pihak untuk duduk berkumpul di ruang tamu. Kedua keluarga itu duduk saling berhadapan, Aisyah tampak duduk menunduk, sesekali ia mendongak menatap Farid dengan memperlihatkan senyum tipisnya.
Aisyah tampak anggun dan cantik dengan kebaya berenda dan kerudung yang senada warnanya.
Kedua netra Farid tak bisa mengalihkan pandangannya pada sosok cantik yang duduk di depannya.
Seorang pemuka agama dari pihak Farid pun mulai memimpin doa supaya acara tersebut berjalan dengan lancar dan khitmad. Kemudian beliau menjelaskan tujuannya bersilaturahmi dengan keluarga Abi Thalib sekaligus untuk melamar putri sulungnya.
Setelah itu beliau memasrahkan acara melamarnya kepada yang bersangkutan.
Farid menghela nafasnya dalam-dalam. Sebelum berangkat memang dia sudah mempersiapkan segalanya, dari mulai kata-katanya untuk melamar Aisyah di depan pihak keluarga, ia sudah mempelajarinya dan menghafalkan dengan baik. Tetapi tidak bisa dipungkiri ada perasaan gugup luar biasa yang belum pernah ia rasakan.
Ia kembali mengatur nafasnya, ketika hatinya sudah cukup tenang, ia mulai mengutarakan niatnya.
"Assalamualaikum wr wb
Terimakasih Abi Thalib dan seluruh keluarga atas sambutan hangatnya" kedua bola matanya menatap sosok ayah Aisyah, lalu ia membungkuk sebagai tanda penghormatan.
"Abi... Umi... Niat saya berkunjung ke sini ialah bersilaturahmi sekaligus untuk meminang putri Abi... Aisyah Fitria Lhasa.
Atas nama Allah... Saya ingin menjadikan Aisyah pendamping hidup saya, saya ingin dia menjadi perhiasan terindah ku, yang kelak kan bersama mengarungi titian menuju surga dan menggapai ridho ya" imbuh Farid dengan sedikit gugup ia bertutur lugas dan sopan.
Lalu kembali menundukkan kepalanya dengan setengah membungkuk.
"Saya menerima pinangan nak Farid, sebagai orang tua saya hanya meminta satu hal dari nak Farid... Tolong kasihi putri Abi sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam -selaku Nabi memberi contoh yang berharga dalam hal yang baik kepada sang istri dan dalam hal kerendahan hati, serta dalam hal hal sebagaimana di jalan Allah taala. Cintailah Aisyah dengan ketulusan hatimu, terimalah segala kelebihan serta kekurangannya dengan ikhlas." Jawab ayah Aisyah dengan wajah serius.
"Insya Allah Abi, saya akan mencintainya sesuai di jalan Allah. Terimakasih Abi..." Tutur Farid dengan nafas lega.
Sebagai seorang ayah ini adalah kedua kalinya ia menyerahkan putrinya untuk dinikahkan. Ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk putrinya, semoga ia bahagia dengan pilihannya, dan semoga mereka bisa mengarungi bahtera rumah tangga sampai maut yang memisahkan.
Setelah selesai melakukan proses seserahan dan lamaran, pihak keluarga Farid menyampaikan untuk pelaksanaan ijab qobul mereka akan dilaksanakan Minggu depan. Setelah itu mereka semua menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh pihak keluarga Aisyah. Seluruh wajah kedua keluarga itu tampak memancarkan binar kebahagiaannya, dalam kesempatan itu mereka juga saling bercengkrama satu sama lainnya.
"Mas... Kita benar-benar akan menikah Minggu depan ya?" Tanya Aisyah ragu.
"Iya Aisyah... Aku pengen cepat halalin kamu" jawab Farid tersenyum bahagia
"Coba pakai yang ini, sepertinya ini cocok dengan mu!" Imbuh Farid sambil memilihkan baju pengantin untuk calon istrinya.
Karena Farid ingin buru-buru menikahi Aisyah, ia tinggal di hotel dekat dengan tempat tinggal Aisyah. Kemudian ia dan Aisyah dan juga Fina pergi ke butik untuk fitting baju pengantin.
__ADS_1
"Iya mas" Jawab Aisyah sambil mengambil baju pengantin itu dari tangan Farid
Fina juga tampak sibuk dengan pilihan gaun seleranya untuk acara akad nikah kakaknya esok.
Aisyah keluar dari ruang ganti, ia memakai baju pengantin hijabnya.
"Gimana mas!" Tanyanya pada Farid tentang baju pengantin yang ia kenakan.
Aisyah tampak cantik dan anggun memakai pakaian pengantin berwarna putih dengan aksen brokat pattern penuh dan train panjangnya. Wajahnya juga tampak memancarkan binar tersendiri saat Veil putih panjang dengan pattern bunga itu menutupi hijabnya.
Farid begitu tertegun melihat penampilan Aisyah, sampai ia tak bisa berkata-kata lagi.
"Kak...kak Farid..!" Kata Fina menyenggol lengan kakaknya yang tak bisa mengalihkan pandangannya pada Aisyah
"Kak Farid..." Kata Fina lagi dengan nada sedikit keras. Sontak Farid tersadar dari lamunannya
"Hah...ada apa Fin!" Tanyanya menoleh ke wajah adiknya
"Itu loh... Aisyah bertanya gimana penampilannya?" Jawab Fina menurunkan nada bicaranya. Ia tersenyum menggeleng melihat expresi wajah lucu kakaknya. Sedangkan Aisyah melihat mereka berdua sembari ikut tersenyum.
"Ya... Bidadari surga ku" jawab Farid melantur. Sungguh paras ayu Aisyah seakan menghipnotis dirinya.
"Maksudnya gimana mas?" Tanya Aisyah dengan senyum tersipu malu. Ia sebenarnya tahu betul maksud perkataan Farid, kalau calon suaminya begitu tertegun akan penampilannya.
"Aisyah kamu cantik banget memakai gaun hijab itu" puji Fina
"Terimakasih Fin"
Akhirnya Farid dan Aisyah sudah menentukan baju pengantin pilihannya, untuk acara akad besok.
"Ayo kita makan dulu" ajak Farid. Sebenarnya sedari tadi perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi.
"Ayo kak" jawab Fina mengiyakan. Ia menggandeng lengan calon kakak iparnya dengan bahagia.
"Awas ya Fin... Nanti kalau kakak sudah sah menjadi suami Aisyah, jangan harap kamu bisa memegangnya seperti itu" goda Farid dengan gaya bercandanya.
"Kak Farid cemburu ya? Pengen pegang-pegang ya... Hehehe sabar kak belum waktunya" kata Fina sambil memperagakan keakraban mereka
Aisyah tampak senyum-senyum sendiri melihat tingkah konyol kakak beradik itu.
Setibanya di restoran Farid menarik kursinya sedikit kebelakang lalu mempersilahkan duduk untuk Aisyah
"Kak kok aku nggak sih! Kak Farid pilih kasih" kata Fina memanyunkan bibirnya
"Kamu tarik aja sendiri" jawab Farid dengan wajah kesalnya.
__ADS_1
"Sudah jangan bertengkar terus, katanya sudah pada lapar" tutur Aisyah menghentikan perdebatan kedua saudara itu.
Mereka bertiga pun menikmati hidangan makan malamnya di restoran yang jaraknya tidak jauh dari butik tadi.
"Aisyah aku mau tanya?" Tanya Farid sambil menikmati hidangan makan malamnya
"Tanya soal apa mas?" Jawab Aisyah menanyakan perihal ucapan Farid
"Bagaimana kalau kita juga mengundang Anwar di acara resepsi pernikahan kita. Rencananya aku juga mengundang seluruh karyawan kantor dan juga beberapa karyawan toko untuk datang ke acara resepsi kita" terang Farid menjelaskan keinginannya.
Meskipun Aisyah meminta untuk acara resepsinya diadakan sesederhana mungkin, tetapi ia ingin membagi kebahagiaannya dengan orang-orang terdekatnya.
Apalagi sekarang Farid lebih menghargai dan memperhatikan kepentingan seluruh karyawannya. Ia sudah menganggap mereka sebagian dari keluarganya. Bahkan sebagian karyawan begitu merasakan perubahan bosnya setelah sembuh dari komanya.
"Apa tidak berlebihan ya mas? Kan halaman rumah Ais tidak begitu luas, apa bisa menampung mereka nantinya" jawab Aisyah.
Sebenarnya ia tidak menolak pendapat Farid, tetapi memang kondisi yang tidak memungkinkan.
"Ya kita kan bisa pinjam halaman tetangga sebelah, masak nggak dibolehin" terang Farid memberikan solusi.
"Ya sudah terserah mas Farid saja" jawabnya pasrah.
Hatinya langsung sedikit gelisah, ia tidak bisa membayangkan kalau Anwar benar-benar menghadiri acara pernikahannya.
🍁🍁🍁
Tibalah dimana hari yang ditunggu-tunggu. Hari ini mereka berdua akan melaksanakan acara ijab qobulnya.
Halaman rumah Abi Thalib serta halaman rumah kedua tetangganya di sulap menjadi satu halaman yang tampak luas. Pagar bambu yang memisahkan halaman rumah itu... Dibongkar habis oleh pihak Farid, bahkan Farid juga memberikan kompensasi yang cukup besar kepada kedua tetangga Abi Thalib.
Suasana rumah itu sungguh dipadati oleh tamu undangan. Ada dua bus besar dari pihak Farid serta ada tetangga sekampung dan juga pihak keluarga besar Aisyah.
Suara merdu sholawatan juga menambah khidmatnya acara tersebut.
Kedua mempelai masih berada di dalam rumah. Farid sudah bersiap dengan penampilannya, setelah jas tuxedo berwarna putih berbahan best qualyti import itu tampak memberikan kesan kegagahan mempelai lelaki.
Aisyah juga sudah selesai berias, ia perlahan melangkah keluar bersama ibunya dan Fina. Mereka berdua menggandeng tangan Aisyah yang sedikit gemetar karena gugup.
"Ini adalah pernikahan ke-dua ku, kenapa aku lebih gugup dari pernikahan pertama ku" gumamnya dalam hati.
Ibunya merasakan hawa dingin dari tangan Aisyah, ia tahu apa yang dirasakan putrinya. Kemudian beliau mengedipkan matanya ke arah Aisyah, ia meminta putrinya untuk membaca doa sebelum acara ijab qobulnya.
"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.”
Mudah-mudahan Allah memberkahi langkah kami, baik dalam suka maupun duka tetap berkumpul dalam kebaikan di jalan-Mu
__ADS_1