
Di perusahaan Farid tengah merayakan kehamilan istrinya dengan seluruh karyawan di kantornya
Ia tiba-tiba merasa gelisah karena sudah hampir satu jam istrinya belum kembali juga. Lalu ia cergas meninggalkan ruang santai untuk mencari sosok Aisyah.
"Sayang kamu nggak papa kan" tanyanya saat melihat istrinya berjalan dengan langkah cepat
"Nggak papa kok mas, ayo mas aku sudah lapar" kata Aisyah menggandeng tangan suaminya, ia terpaksa harus berbohong karena tak mau Farid salah paham pada dirinya dan Anwar, bila suaminya mengetahui hal yang sebenarnya, tentu Farid akan memberhentikan Anwar secara sepihak.
Aisyah tidak mau hal itu terjadi kepada mantan suaminya, apalagi istrinya Anwar juga tengah mengandung seperti dirinya, jadi mereka pasti sangat membutuhkan banyak uang nantinya. Sesakit apapun dulu yang Anwar berikan padanya, ia tak pernah memiliki dendam atau apapun itu. Aisyah memang memiliki hati yang baik, ibarat pepatah berikan pipi kirimu bila kamu ditampar pipi kananmu. Janganlah membalas keburukan dengan keburukan, balaslah mereka dengan kebaikan, insyaallah Allah akan menerangi setiap langkahmu
Farid menatap manik hitam istrinya. Mata indah Aisyah yang biasanya meneduhkan kini tampak berkantung, ia tampak seperti kelelahan dan kurang tidur.
"Sayang kamu sakit ya, kita pulang saja ya" tutur Farid mengelus pelipis istrinya sembari membenarkan jilbabnya yang masih tampak rapi
"Aku lapar mas, mau makan dulu" terang Aisyah sambil memegangi perutnya. Ia benar-benar merasakan lapar, kedua janinnya seakan merengek meminta makan pada sang bunda.
"Ya sudah kamu duduk disini dulu ya, aku ambilkan nasinya" setelah Aisyah duduk di ruangan terbuka itu, Farid bergegas mengambil nasi kotak di ruang santai.
"Sabar ya anak-anak bunda, sebentar lagi kita makan" Aisyah duduk sambil mengelus perutnya yang masih rata, dengan perasaan bahagia ia mengajak ngobrol kedua buah hatinya yang masih ada dalam kandungan.
Farid pun datang dengan membawa 2 kotak nasi dan juga 2 gelas jus buah.
"Ini sayang" Farid membuka satu kotak nasinya, lalu ia mulai menyuapi istrinya.
"Hak" belum juga selesai menyendok nasinya, Aisyah sudah selesai mengunyah
Farid kembali menyuapi istrinya, kali ini ia dengan cekatan mengambil nasi dan lauknya, Aisyah benar-benar seperti orang yang tengah kelaparan, apa mungkin ini karena bayi kembarnya yang juga ingin makan.
"Pelan-pelan sayang" ucap Farid tersenyum lebar
Aisyah menyeruput jus buahnya sampai habis. Tetapi ia masih merasakan dahaga
"Mas punya kamu, aku minum ya"
Pinta Aisyah dengan paras lucunya.
"Kamu lucu sekali sayang, ya sudah minumnya pelan-pelan ya" kata Farid mengangguk dengan senyum khasnya
__ADS_1
"Terimakasih mas" Aisyah segera mengambil gelas di depan suaminya, ia kembali meminum jus jambu milik suaminya. Sampai habis tak tersisa
"Heeekkk....Alhamdulillah, kenyang" Aisyah bersendawa, karena malu ia menutupi mulutnya dengan tangan.
"Maaf ya mas, Aisyah nggak sopan"
"Nggak papa sayang, mungkin itu bawaan bayi juga. Hehehe"
"Mas Farid, kalau Aisyah gendut, apa mas Farid masih mencintai Aisyah" tiba-tiba Aisyah menanyakan hal yang baru saja tersirat di benaknya, ia menyadari perubahan pola makannya, ia selalu merasa ingin makan terus, rasa lapar dalam perutnya serasa tak bisa terkontrol lagi
"Ya masih dong sayang, meskipun kamu gendut, super duper gendut sekalipun aku tetap mencintaimu, cintaku tak akan merubah apapun sayang. Termasuk bentuk fisikmu, aku malah berterimakasih Humaira ku dengan ikhlas mau mengandung anak-anak keturunan ku"
Aisyah pun menarik nafas lega.
"Terimakasih mas Farid, semoga anak-anak ini kelak menjadi anak yang shaleh dan Sholehah ya"
Farid kembali tersenyum sembari mengangguk, ia tengah membayangkan bagaimana perubahan tubuh istrinya ketika nanti hamil tua, gambaran di benaknya langsung tersirat. Kedua pipi istrinya menjadi sangat chubby, perutnya tampak besar, bulat dan menonjol kedepan. Kedua lengannya lebih besar dari lengan kekarnya, apalagi pantatnya pasti semakin besar dan berisi seperti bola bekel. Bayangan itu membuat Farid tertawa gemas. "Ha...ha...ha"
Tanya Aisyah bingung dengan sikap aneh suaminya
"Aku lagi ngebayangin gimana gendutnya kamu ketika hamil tua, menggemaskan sekali sayang" jawab Farid sambil mengarahkan pandangannya ke atas, bayangan istri gendutnya kembali masuk ke dalam pandangannya
"Ih mas Farid nakal" Aisyah mencubit pinggang Farid
"hehehe maaf sayang"
Farid meraup kedua pipi istrinya, dengan gemas ia mencium bibir Aisyah.
Aisyah pun tersenyum lepas dengan perlakuan romantis suaminya.
"Mas Farid, aku lapar lagi... Aku pengen makan masakan umi, terong penyet lengkap dengan sambelnya" Aisyah menelan salivanya, membayangkan nikmatnya makanan tersebut dibuat oleh sang ibunda.
"Waduh... istri ku ini lagi ngidam ya? Kalau kita pulang ke kampung, nggak mungkin, karena aku banyak proyek Minggu depan. Kalau umi diminta datang ke rumah kira-kira mau nggak ya?" pekik Farid dalam hati, ia bingung menjawab permintaan istrinya
__ADS_1
"Mas Farid kok ngelamun lagi sih" tanya Aisyah sedikit kesal, memang sudah satu bulan ini ia merasa lebih sensitif. Mungkin ini juga salah satu bawaan bayinya.
"Mas bingung sayang, kalau kita pulang ke kampung kayaknya nggak bisa karena mas banyak proyek yang harus dikerjakan. Kalau umi kita minta datang ke rumah kita bagaimana? Apa kamu setuju sayang" tanya Farid memberikan pendapatnya
"Coba nanti aku telfon umi ya, sekarang aku lapar mas, aku mau makan bakso"
Aisyah kembali mengelus perutnya yang lapar.
"Iya sayang, sebentar ya" terang Farid beranjak dari tempat duduknya.
Ia berlari ke dapur lalu ia minta tolong pada OB untuk membelikan bakso disekitar kantornya.
"Cepat ya pak, istri saya lagi ngidam" pinta Farid dengan wajah memohon.
OB tersebut merasa tersentuh dengan perkataan bosnya.
"iya pak" jawab OB itu sambil lari terbirit-birit
"Wih... Cepat juga bapak itu larinya" gumam Farid menggeleng kagum
Hanya butuh lima menit saja Farid menunggu kedatangan sang OB.
OB tersebut datang dengan sebungkus baksonya
"Hu...huh...hah... Ini pak baksonya" nafasnya ngos-ngosan kembang kempis
"Terimakasih ya pak, maaf sudah merepotkan bapak, ini ada sedikit rejeki untuk keluarga bapak" Farid merogoh segebok uang di sakunya, lalu tanpa menghitung berapa jumlah uangnya, ia langsung memberikannya kepada bapak OB tersebut.
"Tidak usah pak Farid, ini sudah menjadi kewajibannya saya membantu bapak" bapak berambut hitam putih itu menolak uang yang Farid berikan.
"Tolong terima ya pak, anggap saja ini rejeki dari Allah untuk keluarga bapak" Farid menyelipkan uangnya di saku kemeja OB tersebut
"Alhamdulillah terimakasih banyak pak, semoga pak Farid dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT"
"Amin... Sama-sama pak, ya sudah saya permisi ya pak" jawab Farid, ia mengambil mangkuk dan sendok di atas meja, lalu ia bergegas kembali ke ruangan di mana istrinya berada.
__ADS_1