
Menikah Yang Ke-dua
Chapter 17
POV author
Sepertinya rencana Farid dan adiknya berjalan lancar, ia melihat Anwar tak melepaskan pandangannya pada sosok Aisyah. Sesekali Anwar melirik Aisyah ketika berbicara padanya.
"Kalau kalian sudah saling mengenal, aku tidak perlu memperkenalkan lagi. Mulai sekarang semua jadwal ku, aku serahkan pada Aisyah. Nanti siang pak Anwar serahkan saja dokumennya pada Aisyah. Kamu tidak usah ikut meeting, sudah ada Aisyah yang menemani ku" jelas Farid.
"Tapi pak apa Aisyah mampu mempresentasikannya pada klien kita pak? Pak Hartono adalah salah satu klien kita yang sangat berpengaruh di perusahaan, apa tidak sebaiknya saya saja yang ikutpak" terang Anwar menyuarakan pendapatnya. Padahal isi dihatinya tak merelakan Aisyah pergi berdua dengan Farid.
"Pak Anwar tenang saja... Aku sangat mempercayai kemampuan asisten baru ku" jelasnya lagi.
Farid tahu betul apa maksud dari perkataan Anwar itu. Tujuannya ialah membuat Anwar cemburu pada Aisyah
"Dasar lelaki rakus. Sudah bercerai masih sok perhatian. Jangan sampai Aisyah terjerumus oleh rayuan palsu lelaki brengsek ini lagi" kekesalan Farid dalam hatinya.
"Bagaimana kalau saya ikut saja pak, mungkin saya bisa membantu Aisyah dalam menyampaikan presentasinya." Kata Anwar, ia kekeuh ingin ikut dalam meeting nanti siang.
"Ya sudah terserah pak Anwar saja" ucap Farid mengiyakan permintaan Anwar. Ia tak mau Anwar curiga dengan rencananya.
__ADS_1
Aisyah hanya diam menunduk sambil mengotak atik sepuluh jari tangannya yang berada di depan perutnya.
Bagaimana tidak gugup, dihari pertama bekerja ia harus dihadapkan dengan masalah presentasi dengan klien perusahaan. Ditambah lagi ada Anwar yang akan melihat presentasinya. Apa mungkin Aisyah mampu melakukannya.
Pak Anwar boleh keluar, Aisyah duduk lah" titah Farid. Sembari berdiri dari tempat duduknya. Ia sengaja mendekati Aisyah, dengan sengaja dia menginjak gamis panjang Aisyah sampai Aisyah jatuh ke pelukannya. "Kamu nggak papa kan?" Tanya Farid polos, padahal jelas ia sengaja membuat Aisyah terjatuh.
Anwar yang baru memegang gagang pintu, ia langsung berbalik badan mengurungkan niatnya. Ia langsung mendekati Aisyah, menarik tangan mantan istrinya itu dari dekapan Farid.
"Kamu nggak papa kan dek" tanya Anwar khawatir, ia lupa.. keceplosan memanggil Aisyah dengan panggilan adek... Nama panggilan kesayangannya pada Aisyah.
"Ndak papa kok mas, maaf aku terpeleset" jawab Aisyah tersipu malu, ia tak menyangka ternyata Anwar masih perhatian padanya.
"Pak Anwar silahkan keluar" suruh Farid dengan wajah kemarahan, entah kenapa hatinya kesal ketika melihat mereka berdua saling berpegangan tangan.
Aisyah tersadar dari lamunannya, ia langsung melepaskan tangan Anwar.
"Baik pak" jawab Anwar, ia bergegas keluar dari ruangan Farid
"Lain kali kalau bekerja jangan pakai jubah seperti itu, kamu kira ini tempat ibadah" kata Farid kasar, meski penampilan Aisyah adalah salah satu rencananya dengan Fina, tiba-tiba ia menyalahkan Aisyah karena kekesalannya.
"Maaf Pak Farid, Insya Allah besok saya akan memperhatikan penampilan saya"
__ADS_1
Jawab Aisyah tak berani menatap mata lawan bicaranya
"Cepat kamu pelajari ini untuk persiapan meeting nanti siang" suruh Farid sambil melempar dokumen berwarna kuning di meja tepat di depan Aisyah
"Baik pak" Aisyah mengambil dokumen tersebut, lalu ia melangkah keluar
"Mau kemana kamu? Duduklah disana... Besok aku siapkan meja kerja untuk mu" titah Farid menghentikan langkahnya.
Farid meminta dirinya untuk duduk di sofa sambil mempelajari deadline untuk target promosi bulan depan.
Aisyah pun tampak fokus dengan pekerjaan barunya, ia begitu bekerja keras dalam mempersiapkan presentasinya nanti.
Di sisi lain tampak Farid terlihat senyum-senyum sendiri di tempat duduknya, ia tersenyum sambil menatap postur tubuh Aisyah ketika duduk.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, Aisyah, Farid dan Anwar pergi ke restoran untuk meeting.
Mereka bertiga naik mobil Farid, dimana Anwar yang mengendarai mobilnya, Di bangku sampingnya ada ada Farid dan Aisyah tengah duduk di bangku belakang.
Aisyah masih fokus mempelajari dokumen di tangannya, sebelum memulai presentasinya ia berdoa untuk kelancaran pekerjaan barunya.
Suasana di dalam mobil tampak hening, mereka bertiga tak bersuara sepatah katapun. Aisyah yang fokus dengan dokumennya, Farid yang fokus dengan gadgetnya serta Anwar yang fokus menyetir, sesekali Anwar menatap ke arah kaca sepion di dalam mobil, pandangannya mengarah pada paras Aisyah. "Dek... Aku sangat merindukan mu, aku rindu perhatian mu, masakan mu dan juga kunyit madu buatan mu" gerundel Anwar dalam hati, ia teringat semua tentang kebaikan mantan istrinya itu.
__ADS_1
"Kalau saja Rani mau menerima mu, tentu hatiku tak akan segusar ini" gerundelnya lagi.
Ternyata waktu itu ia tak menginginkan perceraiannya terjadi, ia ingin sekali mempertahankan Aisyah, berharap bisa memoligami mereka, tapi apalah dayanya, Rani tak menyetujui keinginannya, Rani mengancam ingin memutuskan hubungannya kalau ia tak menceraikan istrinya.