
Acara flash mob di jalanan Malioboro sore itu dipenuhi oleh para pejalan kaki dan juga bersepeda santai.
Acara semakin meriah saat sekumpulan muda-mudi tengah bersiap melakukan aksinya, mereka berbaris berjajar rapi, alunan musik tradisional mulai menggema, mereka mulai meliak liukkan tubuh gemulainya, musik gamelan Jawa dan juga tarian tradisional Jawa itu semakin mengikat suasana meriah di jalanan Malioboro.
"Mas Bagus banget ya" kata Aisyah begitu tertegun melihat keindahan tarian tradisional itu
"Iya sayang, aku sudah meminta Sony untuk merekamnya, jadi kita bisa menyimpan dan melihatnya kapanpun kita mau" kata Farid sembari melipat kedua tangannya di dada, bukanya menikmati indahnya tarian, ia malah fokus menatap paras bahagia istrinya dengan senyum-senyum sendiri.
"Bagus banget mas, aku suka banget... Serasa kaya ikut menari bersama mereka"
Aisyah sangat menikmati pemandangan indah itu, benar-benar hiburan yang menyenangkan, apalagi suara musik tradisional itu seakan menambah kebahagiaan tersendiri.
"Kalau nanti kita punya anak perempuan, kita ajari menari ya sayang" kata Farid senang.
"Amin ya Allah, semoga Allah mengabulkan doa kita ya mas" jawab Aisyah
Ia bisa merasakan kebahagiaan istrinya ketika melihat raut wajah istrinya yang dipenuhi binar senyuman.
Waktu sudah semakin gelap, flash mob pun telah usai karena sebentar lagi adzan magrib.
Farid, Aisyah dan seluruh karyawan pergi ke masjid terdekat untuk menunaikan ibadah sholat Maghrib secara berjamaah.
Setelah melaksanakan ibadah sholat Maghrib, mereka semua diperbolehkan kembali menikmati masa liburan mereka. Farid juga menginstruksikan kalau nanti malam pukul sembilan mereka semua harus bersiap untuk kembali ke Jakarta. Karena hari Senin mereka sudah mulai beraktifitas kembali.
"Aisyah kenapa wajahmu pucat, apa kamu sakit" tanya Anwar saat melihat Aisyah tengah berdiri di halaman masjid, ia tampak sedang menunggu suaminya keluar dari masjid
"Enggak kok mas Anwar" tutur Aisyah sembari memegangi keningnya, matanya mulai berkunang-kunang, kepalanya terasa pusing, akhirnya ia tak bisa menopang tubuhnya, dan ia pun terjatuh tepat di hadapan mantan suaminya. Anwar langsung menopang tubuh semampai Aisyah.
"Aisyah... Aisyah... Kamu nggak papa kan" Anwar menepuk pipi Aisyah dengan lembut, ia berusaha membangunkannya.
Dari kejauhan Farid baru saja keluar dari masjid, belum sampai memakai sepatunya ia langsung berlari mendekati mereka, ia melihat tubuh istrinya tergeletak dilantai, kepalanya bersandar pada paha Anwar.
"Sayang... kamu kenapa?
__ADS_1
Apa yang bapak lakukan pada istri saya, apa pak Anwar menyakiti hatinya lagi" tuduh Farid, ia mengira Anwar yang sudah membuat istrinya jatuh pingsan.
"Pak Farid salah paham, aku nggak ngapa-ngapain Aisyah pak" jelas Anwar
"Tutup mulutmu" kata Farid geram
Ia dengan sigap langsung membopong tubuh istrinya, ia melangkah cepat menuju hotel.
Raut wajah itu dipenuhi kekhawatiran, ia terus berjalan sambil membopong tubuh berat istrinya, jarak yang terlalu jauh membuat nafasnya terengah-engah, tetapi ia tidak menghiraukan hal itu, yang paling penting adalah kondisi istrinya.
"Mbak cepat telfon dokter, istri saya pingsan" titah Farid kepada resepsionis hotel.
"Baik tuan" jawab sang resepsionis, wanita cantik berpakaian rapi itu langsung memegang gagang teleponnya, lalu ia segera memberitahu dokter khusus dari hotel tersebut.
Farid perlahan membaringkan tubuh lemas Aisyah di atas ranjang king size.
Ia membuka kerudung istrinya, kemudian mengusapkan minyak angin ke bagian leher dan dada istrinya, dan yang terakhir ia mengoleskan ke bagian hidungnya. Istrinya masih belum sadarkan diri, ia semakin panik dan khawatir.
Kemudian ia menelfon Sony, ia meminta bantuan Sony untuk segera mendatangkan dokter terdekat.
Permisi pak saya dokter Nisa, dimana pasien" terang sang dokter langsung masuk ke dalam kamar Farid yang pintunya sudah terbuka.
"Itu dok, istri saya pingsan" jawab Farid langsung menggandeng tangan sang dokter, ia menarik sang dokter menuju ranjang. Karena panik Farid tidak sadar kalau dirinya telah menyakiti pergelangan tangan sang dokter.
"Baiklah saya check dulu ya pak" dokter itu langsung memasang stetoskopnya di telinganya, kemudian beliau mulai memeriksa dada dan bagian perut Aisyah.
"Semuanya normal pak, istri bapak cuma kecapekan saja, karena diusia kehamilan trimester pertama itu sangat rentan jadi diusahakan untuk tidak boleh beraktifitas terlalu banyak" terang sang dokter
"Maksud dokter istri saya hamil?" Tanya Farid terkejut dengan penuturan dokter tersebut
"Apa bapak tidak tahu kalau istri bapak tengah hamil, untuk mengetahui usia kehamilannya, anda dan istri bisa memeriksanya ke dokter spesialis obstetri" terang sang dokter lagi
"Ya Allah Alhamdulillah.... Terimakasih ya Allah, terimakasih atas anugerah terindah yang kau berikan padaku ini" Farid sangat bersyukur sekali.
__ADS_1
Ia meraupkan kedua tangannya ke wajahnya. Perasaan yang bercampur aduk, antara terkejut, senang dan excited. Sungguh momen yang tak terbayangkan karena memiliki anak adalah impian setiap pasangan yang telah menikah, akhirnya Allah mengabulkan doanya setiap malam.
"Ini saya kasih vitamin, dan juga resep untuk memulihkan kondisi istri bapak" tutur sang dokter kembali, ia memberikan obat serta resep kepada Farid
"Dok, kenapa istri saya belum sadar?" Tanya Farid masih khawatir dengan kondisi istrinya yang masih pingsan.
"Sebentar lagi pasti istri bapak siuman, ditunggu saja. Ya sudah saya permisi dulu, semoga lekas sembuh ya.. selamat malam"
"Terimakasih dok, selamat malam"
Farid kembali bergembira, ia melonjak lonjak kecil, layaknya anak-anak.
"Ye ... Aku akan jadi Ayah, ye...ye... Terimakasih Humaira ku"
Farid memegang kedua pipi Aisyah yang masih belum sadarkan diri, dengan gemasnya ia menciumi seluruh wajah istrinya. Ia tengah membayangkan wajah cantik putrinya kelak, pasti mirip sekali dengan paras ayu istrinya itu.
"Hemh mas, mas Farid aku dimana"
Perlahan kedua netra Aisyah terbuka, ia masih memegangi keningnya yang masih pusing. Ia tidak sadar kalau dirinya baru saja pingsan.
"Sayang kamu hamil, Humaira ku hamil"
Kata Farid dengan wajah gemasnya.
"Maksud mas Farid apa? Siapa yang hamil?" Tanya Aisyah bingung
"Kamu sayang... Kamu lagi hamil anak kita, dokter baru saja memeriksa keadaan mu, dan dokter bilang kamu kelelahan karena diperut kamu ada janin anak kita sayang..." Jelas Farid meyakinkan istrinya, ini memang tidak bisa dipercaya, padahal mereka menikah baru berjalan dua bulan, dan Aisyah benar-benar hamil.
Kedua matanya berair, Aisyah tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa mengucapkan rasa syukurnya kepada sang khalik.
"Alhamdulillah ya Allah, Alhamdulillah...
Rabbi habli min ladunka dzurriyatan thayyiban innaka sami'ud du'a. Amin"
__ADS_1
" Ya Allah, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa."
"Hei... hei...Sayang kamu nggak papa kan?" Farid tampak khawatir ketika melihat expresi istrinya yang bengong sambil menitikkan air matanya. Ia mengusap dengan lembut kedua pipi basah istrinya. Kemudian ia mengecup keningnya sembari memberikan pelukan hangatnya.