Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Kekasih Fina


__ADS_3

Hamid sudah tiba di kediaman keluarga Fina, pagi itu ia berpakaian formal, meninggalkan jas putihnya didalam mobil, menyisakan celana hitam dan kemeja putih bermotif spread collar


Kali ini Hamid tampil lebih stand out dari biasanya, penampilannya lebih dibuat dressed down, karena ia memilih tidak menggunakan dasi pada model kerah kemeja yang ia kenakan, tetapi masih meninggalkan kesan yang rapi.


"Tok... tok..."


Bi Inah membuka pintu mempersilahkan Hamid masuk, didalam sudah ada Aisyah, Farid dan juga Umi yang terlihat duduk di sofa ruang utama, mereka tampak menunggu kedatangannya


"Selamat pagi mas, mbak, Bu... saya Hamid teman dekatnya Fina" Hamid menyapa mereka sambil menjabat tangan secara bergantian. matanya tengah mencari cari sosok wanita yang ia cintai


Sampai akhirnya Hamid terpaku menatap sosok cantik di tengah tangga, Fina turun dengan long dress casual berwarna tosca, penampilanya tampak anggun dengan aksen bunga-bunga di setiap kerutan gaun panjangnya


Aisyah menatap suaminya sambil tersenyum, ia tidak bisa menahan tawa karena melihat tingkah lucu Hamid. Lelaki itu memancarkan kekagumannya pada adiknya, sungguh cinta memang membuat insan lupa tempat dan juga lupa waktu, dimana ia harus menjaga image nya sebagai lelaki dewasa yang cocok untuk Fina, ia malah salting dengan penampilan Fina


"Nak Hamid silahkan duduk nak" tutur Umi, suara lembut Umi tak terdengar di telinga Hamid, Lelaki tinggi berkulit putih itu masih fokus pada pandangannya.


Farid pun menghampiri Hamid, menepuk bahunya untuk menggodanya


"Sudah cukup belum lihatnya"


"Hehehe sudah mas, Maaf a...ku" ucapnya tergagap, ia gugup sekaligus malu


Fina yang masih berjalan layaknya model, sedari tadi ia juga tersenyum melihat paras lucu Hamid


"Apa kamu mau terus berdiri di situ, duduklah" pinta Farid dengan nada tegas


"Baik mas"


Hamid pun menapakkan pinggulnya ke atas kursi, kemudian disusul oleh Farid dan juga Fina


"Mas Hamid kenalin, ini kak Farid yang super bawel, terus ini istrinya Aisyah, kami berdua bersahabat dari kecil, dan beliau ini Umi ibunya Aisyah" tutur Fina memperkenalkan keluarganya satu persatu a


"Terimakasih sudah berkenan mengundang ku untuk sarapan pagi bersama, senang bertemu dengan kalian" jawab Hamid sedikit membungkuk, tampaknya Hamid sudah rileks tak gugup lagi


"Mari silahkan di makan, ngobrolnya dilanjutkan nanti lagi ya " ucap Umi mempersilahkan.


Semuanya tengah menikmati makanan berat yang terhidang di atas meja makan, Ema dan bi Inah sesekali keluar untuk menyajikan lauk dan hidangan penutup

__ADS_1


Setelah selesai menikmati makanannya, Farid mengajak Hamid ke ruang tengah.


Fina tampak gemetar melihat mereka berdua berjalan menuju sofa di ruang tengah


"Kakak resek banget, mau ngapain sih, kan aku malu, bagaimana kalau Hamid nggak suka cara kak Farid yang terlalu fulgar" gumamnya lirih


Aisyah yang mendengar langsung meraih tangan Fina, mencoba meyakinkannya


"Jangan takut Fin, paling kakakmu cuma mendesak Hamid untuk segera menikah i mu"


"Apa?" Fina langsung melotot ke arah Aisyah, ia begitu terkejut dengan penuturan kakak iparnya


"Memangnya kamu nggak ingin menikah denganya ya?" tanya Aisyah


"Ya pengen sih, tapi aku takut Hamid mundur alon-alon kalau mengetahui sikap kakak yang over protektif dan perfeksionis itu"


"Sudah tenang Fin, mas Farid seperti itu karena menyayangi mu kok"


Di ruang tengah tampak Farid dan Hamid berbincang dengan akrab, bahkan mereka juga sudah bercanda satu sama lain


"Ngomong-ngomong kapan kamu akan nikahi Fina?"


"Bagaimana kalau bulan depan mas, aku ingin segera menikahinya biar tidak terjadi fitnah" jawab Hamid sedikit ragu tapi begitu serius menginginkan hal tersebut segera terwujud


"Bagus itu, kamu tenang saja masalah biaya aku yang akan menanggung, karena dia adalah adikku satu-satunya aku ingin pernikahannya berkesan seumur hidupnya" terang Farid


"Maaf mas, saya juga mampu membiayai pernikahan ini. Bukanya ini sudah menjadi tanggung jawab mempelai pria ya" Hamid merasa Farid terlalu berlebihan, meskipun ia hanya seorang dokter, ia juga punya tabungan yang cukup, dan juga rumah yang lumayan besar. Ya meskipun tak sebanding dengan harta kekayaan yang dimiliki Farid, sebagai lelaki ia ingin menunjukkan tanggung jawabnya, tanpa bergantung pada orang lain. Perkataan Farid sedikit menyinggung pemikirannya


"Aku setuju dengan mu, selamat ya... aku serahkan adik ku padamu. Ternyata kamu benar-benar lelaki yang bertanggung jawab" kata Farid tersenyum tipis. Ternyata ia hanya mengetes Hamid, ia sekarang percaya kalau adiknya akan bahagia bersanding dengan Hamid.


lelaki berpawakan jangkung, tinggi putih itu begitu munjunjung tinggi martabatnya sebagai seorang lelaki. Hal itu membuat Farid mantap memilihnya sebagai calon pendamping adiknya


"Fin sini" panggil Farid


Dengan raut wajah merah merona Fina berjalan ke arah mereka.


"Sayang kamu juga kesini dong" Farid dengan lembut juga memanggil istrinya

__ADS_1


Fina dukuk disamping Aisyah yang terus menempel pada suaminya


Aisyah dan Fina menatap wajah Farid secara bersamaan


"Kenapa menatap ku seperti itu, sudah kaya tersangka saja aku" pekik Farid


"Ya emang tersangka, kakak jangan bikin malu aku didepan mas Hamid dong" jawab Fina lirih, mungkin Hamid juga mendengar perkataannya


"Hamid sekarang giliran mu bicara, kamu harus membela calon kakak ipar mu ino" tutur Farid kembali menggodanya


Sontak Aisyah dan Fina kembali menatap Farid, Aisyah tersenyum bahagia tetapi Fina masih bingung dengan arah pembicaraan mereka Tiba-tiba Hamid beranjak mendekati Fina


"Fin, maukah kamu menikah dengan ku, menjadi pendamping hidup ku sampai akhir hayat, dan menjadi ibu dari anak-anakku" 


Hamid langsung melamarnya di depan mereka berdua, ia langsung berlutut di hadapan Fina, meraih tangan lembutnya dan mencium punggung tangannya.


Hati Fina semakin dibuatnya meleleh, parasnya semakin merona layaknya tomat. Malu, nervous, dan juga bahagia bercampur menjadi satu, sungguh tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.


Dengan malu-malu Fina pun menjawab "Iya aku mau mas Hamid"


Farid dan Aisyah bertepuk tangan, mereka berdua tampak bahagia bisa menyaksikan drama romantis adiknya.


"He..he... belum mahram, nggak boleh pelukan" cegah Farid menghentikan mereka yang akan berpelukan, hampir saja tubuh mereka menempel satu sama lain.


Karena malu Fina membalasnya dengan mencium punggung tangan Hamid, lalu mereka berdua menatap Farid dan Aisyah yang tengah menggoda mereka dengan kemesraannya


"Kalau kita sudah halal begini, bebas ya sayang"


"Mas Farid malu ah" 


Farid malah menggoda mereka dengan memamerkan kemesraannya


"Tunggu saja besok kalau kita sudah sah, kita balas mereka ya mas" ejek Fina yang tak mau kalah, dengan manja ia memeluk lengan Hamid


"E...e... lepas" titah Farid dengan paras seramnya, jarinya menunjuk pada adiknya


"Belum boleh Fin, belum sah" dengan terpaksa Hamid melepaskan tangan Fina yang melingkar di lengannya

__ADS_1


"Nah begitu baru bener" tegas Farid, lelaki itu tampak menahan tawanya, melihat tingkah konyol Fina dan Hamid


Padahal dulu saja sebelum melamar Aisyah dia sudah tak srantanan, tak sabar untuk terus dekat dengannya. Dan dulu saking gemasnya dengan bibir tipis Aisyah, ia tak sadar menciumnya tanpa permisi


__ADS_2