Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Belajar hidup tanpa suami


__ADS_3

Menikah Yang Ke-dua


Chapter 6


Sore itu suara adzan magrib tengah berkumandang, sebelum berbuka puasa mereka sekeluarga menjalankan ibadah shalat Maghrib terlebih dahulu.


Setelah itu mereka bersama-sama menikmati hidangan berbuka puasa di meja makan. Menu yang sederhana, Umi memasak sayur asem dengan lauk seadanya. Memang kehidupan di kampung sangat sederhana, mayoritas penduduk kampung adalah petani, termasuk kedua orang tua Aisyah.


"Kak nanti kita sholat tarawih ya?" Ajak Akhmad


"Iya Ais, biar hati kamu juga tambah tenang." Imbuh Umi, memang sudah seminggu ini Aisyah berada di kampung, ia belum juga menampakkan kakinya ke masjid dimana ia dulu sering menghabiskan masa kecilnya dengan beribadah dan mengaji.


"Iya umi" jawab Aisyah singkat, entah apa yang ada dipikirannya saat itu, cinta terkadang mengalahkan segalanya, bahkan rasa cinta pada seseorang bisa mengesampingkan kewajibannya pada Allah.


"Sudah jangan memikirkan Anwar lagi nak, kamu dan dia sudah bercerai, sekarang kamu harus kuat dan semangat untuk menatap masa depan yang lebih baik lagi nak" ujar Abi menyemangati putrinya yang masih dirundung kesedihan.


Setelah selesai menyantap hidangan berbuka, Aisyah membantu ibunya membereskan meja makan, ia mencuci piring serta membersihkan dapur. Setelah itu ia kembali ke kamarnya untuk menyiapkan perlengkapan shalat tarawihnya.

__ADS_1


Di dalam kamar, ia duduk di sisi ranjang tidurnya, ia membuka handphonenya, melihat foto-foto kebersamaannya dengan Anwar. Lagi-lagi ia menitihkan air matanya, merindukan sosok lelaki yang telah menempati hatinya selama tiga tahun ini. Butuh waktu lama untuk menghapus sosok Anwar dari hatinya, tiba-tiba ia memikirkan apakah Anwar juga merasakan rindu seperti yang ia rasakan, atau dia memang benar sudah melupakan wanita yang dengan setia menemaninya selama ini.


"Mungkin kamu sudah melupakan ku mas, kamu pasti bahagia dengan pilihan mu" ujar Aisyah sembari menatap foto mantan suaminya. Ia memantapkan hatinya, kali ini ia harus berjuang untuk melupakan masa lalunya dengan Anwar, meskipun terlihat sulit, ia yakin dengan berjalannya waktu, suatu saat rasa cinta itu akan memudar. 


Ia menarik nafas dalam, jari jemarinya mulai mengotak atik layar handphone. Dengan tetesan bening yang jatuh dari kedua netranya, ia mantap menghapus semua foto-foto Anwar, kemudian ia juga mengepak semua barang-barangnya yang berhubungan dengan mantan suaminya itu, lalu membuangnya di lubang sampah di belakang rumahnya.


"Kamu dari mana Ais?" Tanya ibunya, beliau menatap ekspresi wajah putrinya yang terlihat lebih bersemangat.


"Oh itu Umi, Ais baru saja membuang album pernikahan dan barang-barang dari mas Anwar. Ais mau belajar melupakan mas Anwar dari sekarang" terang Aisyah. 


 


 "Baik Umi" kata Aisyah sambil mempercepat langkahnya menuju kamar. Ia mengambil sajadahnya yang sudah ia siapkan tadi, lalu keluar bersama keluarganya menuju masjid di dekat rumahnya, mungkin jarak rumah dengan masjid hanya berjarak 100 meter saja.


"Loh Bu Fatimah... Aisyah sudah sehat ya? Aku dengar-dengar dia diceraikan suaminya ya Bu" ucap salah satu wibu kepo tetangganya.


"Yang sabar y Aisyah, terima saja takdir mu ini" cela tetangga lainnya

__ADS_1


"Makanya to ndok, jadi wanita itu harus pintar merawat diri, memanjakan suami,  kasih suami keturunan  biar suamimu itu nggak selingkuh" ucap tetangga yang lainnya lagi.


Beliau menatap wajah putrinya yang juga melihat kearahnya. Rasanya baru saja ia bernafas lega bisa melihat semangat putrinya, tetapi tutur bahasa tetangganya membuat hati Bu Fatimah sedih, kata-kata itu pasti menyinggung dan menyakitkan bagi putrinya.


"Ibu-ibu maaf ini bulan puasa, kenapa ibu-ibu membicarakan putri saya seperti itu, apa ibu-ibu mau amal ibadah puasa kalian menjadi dosa. Semua cobaan itu datangnya dari Allah, tidak sepatutnya kalian menghakimi putriku" ucap Abi sedikit emosi, ayah mana yang kuat mendengar  perkataan tak pantas diucapkan itu.


"Ih memang kebenarannya begitu to pak Thalib, gitu aja kok sewot" ucap ibu itu sinis


"Ayo Bu masuk" ucap ibu itu  lagi sembari mengajak kedua tetangga lainnya


Akhirnya ibu-ibu yang suka ngegibah itu masuk duluan, Bu Fatimah menggandeng tangan putrinya sambil menyemangati "Sabar ya nak, jangan dengarkan perkataan ibu-ibu tadi ya"


"Iya umi, Ais ngerti kok. Ini semua akan Ais jadikan semangat untuk menatap masa depan Ais." Terang Aisyah pura-pura tersenyum, sebenarnya hatinya perih rasanya seperti teriris oleh belati tajam.


"Abi, maafin Ais ya. Gara-gara Ais para tetangga jadi ngomongin keluarga kita" imbuh Aisyah tangan satunya meraih lengan ayahnya. Beliau tersenyum melihat tingkah manja putrinya.


"Ini semua bukan salah kamu kok nak, ayo kita masuk, semoga hati kita semua diberi kelapangan dan kesabaran. Insya Allah, Allah akan memberi hidayah-Nya." Terang Abi

__ADS_1


Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam masjid, sedangkan Akhmad sudah bergabung bersama teman-temanya sedari tadi.


__ADS_2