
Lima tahun kemudian~~~
NB: kenapa di chapter ini aku buat lima tahun ke depan, biar alur ceritanya tidak monoton ya kak. Karena sebentar lagi juga cerbung ini akan segera TAMAT. Semoga kalian semua masih berkenan membaca cerita ku.
Kini si kembar sudah berusia lima tahun, kakak beradik itu tengah berebutan mainan. Mereka berdua tidak bisa bersekolah karena pandemi yang melanda seluruh Indonesia dan juga seluruh dunia, jadi pihak sekolah hanya memberikan pembelajaran melalui daring atau online saja.
Setelah selesai mengirimkan tugas dari yayasan pendidikan Islam yang dipilih langsung oleh Farid dan Aisyah untuk tempat belajar putra putrinya. Sekarang Aisyah memperbolehkan mereka untuk bermain
Albiru langsung merebut boneka Zizah sang adik perempuan. Dengan paras mengejek dia berlarian di halaman, Zizah yang tak ingin kalah, dia berlari ke arah kakaknya untuk merebut boneka Teddy bear kesayangannya
"Kakek bang Al nakal kek" rengek si bungsu Azizah, dia yang cantik dan bertubuh kecil mungil berlari menghampiri Abi Thalib yang tengah menikmati secangkir teh hangatnya di teras rumah
"Albiru, jangan nakal sama adik Zizah, nanti kalau ayah tahu, Al mau dihukum lagi" tutur Abi Thalib yang sekarang sudah terlihat semakin renta dan keriput, tubuhnya yang dahulu tinggi tegap kini sedikit membungkuk karena Abi mengalami osteoporosis
"Hadeh ...kakek, jangan dikit-dikit dibilangin ayah dong... bunda aja ya kek, bunda kan baik dan sayang ma Al" seru Albiru berjalan mendekati sang kakek, kakeknya tengah memeluk dan menenangkan Azizah yang tengah menangis karena kenakalannya
"Albiru, jangan nakalin adik Zizah lagi ya? kakek sayang sama kalian berdua" Abi Thalib memeluk kedua cucunya dengan penuh cinta
Al tampak tersenyum, dibenak bocah itu dipenuhi berbagai ide lucu untuk mengerjai adik kembarnya Azizah.
"Dek...dek... kakak minta maaf ya?" Bisik Albiru menoel adiknya yang masih bersembunyi di ketiak sang kakek.
"Nah ini Abang Al mau minta maaf loh dek, adek Zizah mau maafin Abang kan" perlahan sang kakek melepaskan pelukannya, memangku cucu perempuannya berdiri tepat di hadapan sang kakak
"Iya kek Zizah mau maafin Abang, kata bunda kita harus saling memaafkan seperti perintah Rasulullah kan kek" ucap Azizah masih dengan sesenggukan
__ADS_1
Abang Al menjulurkan tangannya di depan Zizah, tentu saja Zizah dengan senang hati menjabat uluran tangan kakaknya, karena Azizah memang gadis yang pemaaf dan juga berhati tulus seperti sang ibu
"Abang minta maaf ya dek"
"Iya bang"
Setelah selesai berjabatan tangan Abang Al memeluk adiknya, kemudian ia berkata "Abang punya hadiah untuk dek Zizah"
Dengan girang Zizah menjawab "Apa itu kak"
"Coba buka tangan mu dek Zizah"
Azizah mengantungkan tangan mungilnya
"Ah... Haha.... hahaha...."
Albiru tertawa lepas, senang sekali melihat adiknya ketakutan, ia memang kakak yang jail dan nakal
"Albiru... kok ngerjain adek lagi, kamu memang cucuku yang jail. Mirip sekali dengan almarhum Om mu ketika masih kecil" kata Abi tersenyum bahagia, bukanya memarahinya, Abi malah tersenyum melihat kejailan cucu laki-lakinya. Beliau memangku Albiru lalu mendekapnya dengan erat. Abi teringat akan almarhum Akhmad ketika masih kecil, mungkin usianya kala itu sama seperti Abang Al, dulu waktu kecil Akhmad suka sekali ngejailin Aisyah, menakut-nakuti Aisyah dengan belalang, ulat dan yang lainya. Pokoknya sesuatu yang kakaknya tak suka, ia malah berusaha mengusik kakaknya. Seperti halnya yang dilakukan kedua kakak beradik itu, mereka berdua selalu saja bertengkar dan juga berebut mainan
"Jadi Al mirip Om Akhmad ya kek" bocah beriras tampan dan menggemaskan itu mendongak ke atas menatap paras sang kakek yang masih mengukir senyumnya
"Iya mirip sekali, dulu om mu juga jail seperti kamu, dia suka sekali ngerjain bundamu bang, lucu sekali kalau ingat masa kecil Akhmad dan Aisyah" Abi menatap mata cucunya dengan penuh makna, rasa rindu pada almarhum putranya seperti terobati oleh tingkah jahil cucu laki-lakinya.
"Hehehe... apa dulu om Akhmad juga sering ngerjain bunda dengan menaruh daun kering ke rambut bunda, kayak aku ngerjain adek Zizah kek" tanya Abang Al dengan kepolosannya
__ADS_1
"Hmh... iya Abang, tapi dulu Om Akhmad menakuti bundamu dengan belalang, ulat dan kepompong, Om Akhmad diam-diam meletakkan banyak belalang di rambut bundamu. Sampai bundamu menangis kencang, tak ingin lepas dari pelukan almarhum nenekmu" Abi bercerita sambil tertawa terbahak-bahak, sungguh betapa bahagianya beliau mengingat kenangan terindah dalam hidupnya
Disaat mereka berdua tengah asik bercanda tawa, tiba-tiba Aisyah datang dengan menggendong Azizah
"Abang Al, sini!" panggil Aisyah sambil melambaikan tangannya, raut wajah Aisyah tampak tegas, membuat Abang Al sedikit gelisah ketakutan
"Kakek, bantuin Al" Abang Al kembali mendongak dengan ekspresi sedih, berharap sang kakek akan membantunya dari hukuman sang bunda
"Ayo, Abang Al sini" Aisyah kembali memanggil, tampak Azizah masih sesenggukan sambil memeluk tengkuk bundanya, menyembunyikan wajah manisnya di sana
"Ayo bang Al, jagoan kakek harus berani mengakui kesalahannya" tutur Abi sambil memberikan kode kedipan pada Abang Al
Al pun berlari mendekati sang bunda, menarik perhatian sang bunda dengan wajah memelas
"Bunda, Al minta maaf, Al nggak sengaja ngerjain adek Zizah lagi" Abang Al menarik narik gamis bundanya, berharap bisa meluluhkan kemarahan sang bunda.
Paras Aisyah memang tampak marah, ia benar-benar dipusingkan oleh sikap nakal Abang Al. Setiap hari kepalanya serasa mau pecah, ada saja kejahilan untuk membuat adiknya menangis, entah merebut mainan Zizah, menakuti dengan aneka serangga di taman, dan yang lebih parah lagi Al selalu mencubit gemas kedua pipi Zizah sampai memerah kesakitan. Abang Al seperti tak pernah puas kalau tidak melihat adiknya menangis sehari saja
"Abang nakalin adik lagi?" tanya Aisyah jongkok di depan putranya, Aisyah masih menggendong putrinya yang ketakutan
"Hmh... iya bunda... maaf, Abang nggak bakal nakalin adik Zizah lagi ya" ucap Abang Al dengan paras sedih' meyakinkan sang bunda kalau ia tak akan mengulanginya lagi, Abang memang pintar merayu, ia mencium pipi Aisyah dan juga mencium rambut adiknya sambil berkata "Abang minta maaf ya adik Zizah, Abang sayang banget sama adek"
"Sudah berapa kali Abang ngomong seperti ini, menyesal, minta maaf tapi mengulangi lagi. Abang nggak boleh nakalin adik Zizah lagi. Sekarang kalian berdua mandi sama mbak Ema ya. Setelah selesai mandi, Abang Al ke kamar bunda, Abang dengerin bunda kan?" kata Aisyah dengan wajah tegasnya
Abang Al mengangguk takut, pasti dirinya akan menerima hukuman dari sang bunda lagi. Kali ini hukuman apa lagi yang akan abang dapatkan, baginya hukuman sang bunda hanyalah hukuman yang membosankan saja
__ADS_1