
Suasana di rumah sakit begitu mengharu pilu, Aisyah tampak menyandarkan kesedihannya di dada Farid suaminya. Umi juga tampak terus menitihkan air matanya, Abi juga terlihat gelisah mondar-mandir di depan pintu masuk ruang UGD. Sedangkan kedua pasangan pengantin baru itu, turut menunggu kabar baik dari sang dokter.
Setelah tiga puluh menit kemudian dokter keluar dari UGD. Raut wajah dokter muda itu tampak pucat, kedua matanya berair, ia berjalan seperti hilang semangat, melepaskan jas berwarna putihnya.
"Bagaimana kondisi anak saya Dok" tanya Abi Thalib dengan kekhawatirannya, kedua mata mereka saling mengontak dengan seksama
"Kami mohon maaf pak, tidak dapat menyelamatkan pasien'. Pasien meninggal dunia karena kehabisan oksigen, sepertinya putra bapak keracunan." tutur sang dokter, dengan berat hati dia menyampaikan kabar duka itu pada keluarga pasien.
"Akhmad anak ku... kenapa kamu tinggalkan Abi secepat ini Mad." tubuh Abi roboh ke lantai, seketika kedua netranya basah oleh air mata.
Suara sang dokter begitu menggema di telinga mereka, Isak tangis dan kesedihan menyertai mereka semua. Umi nampak tak kuat menahan kepedihan, beliau syok dan jatuh pingsan. Hamid dan Fina langsung membantu Umi untuk segera mendapatkan perawatan medis.
Aisyah pun begitu sedih, tangisannya semakin pecah "Mad maafkan Mbak Ais, kalau kamu tidak minum jus itu pasti kamu masih hidup Mad, seharusnya Mbak aja yang mati" Aisyah tampak putus asa, ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian adiknya
"Yang sabar sayang, jangan bicara seperti itu, kita harus ikhlas ya, semua sudah kehendak Allah. Kita doakan semoga Allah menerima amal shalehnya dan mengampuni segala dosa dosanya." Farid mendekap erat tubuh istrinya, mencoba menguatkannya.
"Terimakasih Mad, kamu sudah menyelamatkan tiga nyawa sekaligus, semoga Allah senantiasa memberikan surga terindah untuk mu. Insya Allah kamu digolongkan dengan orang yang meninggal secara Sahid adik ipar ku
__ADS_1
." tutur Farid dalam hatinya, ia juga tak bisa membendung kesedihannya, tetesan air matanya membasahi kerudung istrinya.
"Mad... maafin mbak... mbak nggak bisa jagain kamu" keluh Aisyah lagi, ia meluapkan kesedihannya di bidang dada suaminya
"Sayang yang ikhlas ya, kita semua juga merasa kehilangan, Akhmad adalah seorang pahlawan kita, dia mengorbankan hidupnya untuk nyawa kalian sayang. Insya Allah Tuhan menempatkannya dirinya di surga terindah" terangnya pada Aisyah, ia berharap istrinya bisa lebih ikhlas menerima kabar duka ini.
Abi berdiri dari lantai, beliau langsung berlari masuk ke dalam ruang UGD, langkahnya yang tak ada harapan mencoba mendekati sosok putranya yang terbaring dengan seluruh tubuhnya sudah tertutupi oleh selimut.
Perlahan beliau membuka selimut yang menutupi wajah putranya, diiringi dengan tangisan beliau memeluk tubuh putranya untuk yang terakhir kalinya. Wajah kisut itu nampak basah oleh air mata, sosok ayah yang biasanya kuat dan tegas, sekarang nampak lemah dan rapuh
"Ya Allah, Akhmad anak ku, kenapa begitu cepat kamu meninggalkan bapak nak" Abi terus memeluk bidang dada putranya itu
Pandangan mereka tepat pada paras Akhmad yang pucat memutih, Aisyah mendekap tubuh Abi dan juga Akhmad, ia tak bisa berkata-kata, hanya air mata yang terus tumpah dengan derasnya. Mereka semua benar-benar kehilangan sosok Akhmad,. sosok adik sekaligus sosok anak yang berbakti kepada keluarganya, selama hidup Akhmad tidak pernah mengecewakan mereka, bahkan dia selalu menjadi pribadi yang penurut dan tidak pernah membantah orang tuanya
Di ruangan dokter, tampak Hamid tengah berbicara dengan seorang dokter yang menangani Akhmad, sang dokter memberi tahu bahwa Akhmad terpapar oleh racun yang berbahaya, dan untuk memastikan hal tersebut, beliau menyarankan untuk melapor polisi untuk mendapatkan bukti yang real. Mungkin dengan cara melakukan otopsi jenazah, penyebab kematiannya akan terungkap.
Tanpa berfikir panjang, Hamid langsung menghubungi polisi, Lalu ia keluar untuk menemui Farid. Ia ingin menyampaikan hal penting itu padanya, tentang penyebab kematian Ahmad dan juga rencana otopsi pada jenazah adik iparnya itu
__ADS_1
Selang beberapa menit petugas kepolisian datang ke rumah sakit, sebagian penyidik juga hadir di sana.
"Selamat sore pak, kami petugas kepolisian mau mengidentifikasi jenasah." ucap salah satu seorang kepolisian berkemeja putih polos dan bercelana hitam
Farid dan Hamid mengangguk, sambil mengikuti langkah kedua petugas kepolisian
"Pak tolong usut kasus ini sampai tuntas, sepertinya ada yang sengaja ingin membunuh istri saya, tetapi salah sasaran, dan yang menjadi korban adalah adik ipar saya" terang Farid meminta bantuan polisi untuk segera menuntaskan kasus kematian adik iparnya, ia yakin kasus itu adalah pembunuhan berencana. Tetapi ia belum bisa memastikan siapa pelakunya, Karena selama ini keluarganya baik-baik saja dan tidak pernah berselisih dengan siapapun, kecuali Rani. "Tak mungkin Rani pelakunya" gumam Farid menepis pemikirannya, tidak mungkin wanita yang tengah sakit parah itu pelakunya. Untuk berjalan saja dia sudah tak memiliki daya, jadi mana mungkin Rani bisa melakukan hal keji seperti itu
Di tempat kejadian perkara, pihak kepolisian juga melakukan penyelidikan disana, seluruh gedung di tutup, tampak garis polisi memagari bangunan menjulang tinggi tersebut.
Pihak kepolisian menginterogasi Aisyah dan Farid, karena dalam kejadian tersebut, merekalah yang bersangkutan dengan korban sebelum meninggal dunia.
Aisyah tampak diam tak bergeming, masih memikul beban kepedihannya. Farid dengan gamblang menjelaskan kronologi kejadiannya pada pihak berwajib.
"Begini pak ceritanya, ketika istri saya merasa dahaga kami turun dari podium pelaminan untuk mengambil minuman yang tersedia di atas meja, tetapi tiba-tiba ada seorang pelayan lelaki yang menghampiri dan menawarkan segelas jus jeruk, karena memang istri saya sangat menyukai jus tersebut, dia pun mengambil gelas jus itu tanpa ragu. Ketika dia hendak meneguknya, tiba-tiba Akmad datang merebut gelas jus yang ada di tangan istri saya. Dia bilang dia juga haus, makanya meminta paksa jus jeruk itu, dia juga tanpa ragu meminum jus itu sampai habis. Tetapi setelah beberapa detik tubuhnya bereaksi, gelasnya jatuh, tubuhnya mengejang dan jatuh ke lantai, selang beberapa detik kemudian mulutnya mengeluarkan busa. Kami semua panik, dan langsung membawanya ke rumah sakit" jelas Farid menjelaskan detail kejadiannya pada salah seorang polisi
"Baik, untuk penyidikan lebih lanjut, apakah pihak keluarga bersedia menyetujui untuk melakukan otopsi pada korban."
__ADS_1
"Sebentar pak, kami harus membicarakan hal ini pada keluarga kami yang lain"
Farid pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut sambil memapah istrinya keluar, Aisyah tampak Ling lung, tak bisa diajak bicara. wajahnya juga pucat pasi. Karena khawatir akan berdampak pada kehamilan istrinya, Farid pun memerintahkan seorang dokter untuk merawat istrinya dengan baik