Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Kejujuran


__ADS_3

"Bagaimana kondisi Azizah Bu?"


"Alhamdulillah dia baik-baik saja tuan, setelah kemoterapi bulan lalu, kondisinya semakin membaik"


"Saya ingin menemuinya Bu" 


"Baik tuan, mari saya antar"


Bu Yati pun mengantarkan Farid ke kamar Azizah.


Di dalam kamar yang berhiaskan wallpaper bunga mawar merah itu tampak seorang gadis cantik yang tengah berbaring tak berdaya.


Dari kelambu ranjang remang-remang itu Farid melihat celahnya. Wajah yang pucat pasi, seluruh kepalanya tak nampak rambut sehelai pun, tubuhnya semakin kurus, beberapa alat bantu juga masih menempel di sebagian tubuhnya.


Hati Farid semakin terenyuh melihatnya. Perlahan ia masuk mendekatinya, ia buka kelambu yang menutupi ranjangnya


"Azizah...!


Hei... Malaikat kecil bagaimana keadaan mu... Aku membawakan hadiah yang kamu suka" kata Farid dengan lembut, ia duduk di sisi ranjang lalu memberikan bouquet bunga mawar itu untuknya. Azizah memang sedari kecil sangat menyukai bunga mawar merah.


"M...a...s... Farid datang, kenapa baru menemuiku sekarang?" Bibir putih pucat itu mengkerut, menandakan kekesalannya. Karena sudah hampir tiga bulan Farid tidak datang ke panti asuhan.


"Maaf malaikat kecil ku... Aku tidak sengaja mengingkari janji ku, aku mengalami kecelakaan tiga bulan lalu"


"Benarkah...!


Alhamdulillah mas Farid tidak apa-apa, setiap malam aku selalu berdoa untuk keselamatan mas Farid, Allah akan selalu menjaga mas Farid  untuk ku"


Senyuman di bibir pucat itu merekah layaknya bunga mawar yang ada di genggamannya.


"Amin... Semoga Allah juga melindungi malaikat kecilku ini" terang Farid ikut tersenyum melihat kebahagiaan terpancar di wajah gadis itu


"Mas Farid cincin ini... cincin apa?" Tanya Azizah, hatinya tiba-tiba gelisah ketika melihat cincin berwarna silver itu melingkar di jari manis Farid


"Ini... Ini cincin kawin mas Farid, maaf mas Farid baru memberi tahu sekarang, mas Farid sudah menikah sebulan yang lalu" terang Farid sambil memperlihatkan jemari tangannya. Ia menjawab pertanyaan itu dengan raut wajah bahagianya.


"Mas Farid jahat... Pergi dari sini... Aku benci sama mas Farid" Azizah sangat sedih mendengar jawaban Farid, ia melempar bunga mawarnya. Kedua netranya langsung menitihkan derasnya buliran bening.


"Mas Farid jahat... jahat... jahat" tuturnya sembari terus menangis

__ADS_1


"Hei... Malaikat kecil ku, aku minta maaf karena aku tidak memberi tahu mu dari awal, apa kamu marah karena tidak turut hadir dalam pernikahan ku. Aku minta maaf ya, aku menyesal... Aku janji lain kali aku ajak istri kakak menemui mu. Istri kakak orangnya baik dan shalihah seperti kamu, pasti dia juga menyukai mu" terang Farid sembari menggenggam kedua tangannya. Ia berusaha menenangkan gadis itu, entah kenapa ia tampak begitu marah dan sedih ketika mendengar Farid sudah menikah.


"Pergi... Azizah nggak mau melihat mas Farid lagi"


"Buk tolong ajak mas Farid keluar, Azizah mau istirahat" pintanya kepada ibunya yang berada di samping pintu, kedua netra beliau seakan tak kuat menahan beban hidup yang dialami putri tunggalnya.


"Tuan mari ikut saya, biarkan Azizah tenang dulu" ajak Bu Yati


Dengan penuh penyesalan Farid melangkahkan kakinya keluar, sesekali ia menoleh menatap tubuh gadis yang tak berdaya itu. Ia tampak memalingkan wajahnya, menyimpan rapat-rapat kesedihannya agar tak terlihat oleh orang lain.


Bu Yati mengajaknya ke ruang tengah, beliau mulai mengobrol dengan Farid


"Bu Yati ada apa dengan Azizah? Kenapa dia bisa marah seperti itu" tanya Farid.


Rasa penasaran yang menghantui Farid, kenapa dengan kondisi Azizah, kenapa gadis itu menunjukkan respon yang seperti itu ketika mendengar dirinya sudah menikah.


Baru kali ini ia melihat gadis lemah itu marah besar dan begitu sedihnya.


"Tolong maafkan Azizah tuan Farid, dia masih kecil. Mungkin dia marah karena tuan tidak memberitahunya soal pernikahan tuan" tutur Bu Yati dengan mata yang masih berkaca-kaca


"Aku tahu dia pasti sedih karena hal itu, padahal aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, bodohnya aku karena keteledoran ku, Azizah jadi marah seperti ini" jelas Farid dengan rasa penyesalannya


Sesampainya di rumah ia bergegas mandi, kemudian menunaikan sholat Isya bersama istri dan adiknya.


Usai menunaikan kewajibannya, ia kemudian makan malam ditemani oleh sang istri saja, Fina tidak ikut bergabung bersama  mereka karena ia sudah makan malam di toko bersama karyawannya.


Disaat makan malam itu Farid mulai bercerita tentang Azizah, ia sudah menganggapnya seperti adiknya sendiri, bahkan Fina juga sudah mengetahui siapa Azizah sebenarnya. Dua saudara itu sangat prihatin dengan kondisi kesehatan Azizah, kasihan sekali dia, dia tidak bisa menikmati masa mudanya, masa muda yang harusnya ia lalui bersama rekan seusianya harus pupus karena penyakitnya. 


Aisyah begitu tersentuh hatinya, ia menitikkan air matanya ketika mendengar cerita suaminya. Ia sangat bersyukur Allah masih memberikan kesehatan, dalam hati ia juga berdoa untuk kesembuhan sang gadis.


"Sayang jangan bersedih seperti itu, air matamu ini begitu berharga sayang" Farid merangkul tengkuk istrinya sembari mengusap air matanya


"Kasihan sekali Azizah mas, begitu berat ujian yang ia lalui, semoga Allah segera mengangkat penyakitnya ya mas" tutur Aisyah diiringi dengan doanya


"Amin... Amin ya robbal alamin" 


"Oya sayang.... Minggu depan aku mengajak seluruh karyawan berlibur ke Yogyakarta, kamu juga ikut ya? Kita sekalian bulan madu lagi" kata Farid memberikan kabar gembiranya kepada istrinya


"Alhamdulillah... Suamiku benar-benar berhati malaikat, aku bangga punya suami seperti mas Farid."

__ADS_1


"Aisyah akan ikut kemanapun mas Farid menginginkan, karena sudah kewajiban Ais mematuhi perintah suami"


"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu"


"Iya mas... Aku juga mencintaimu"


Farid mencium kening istrinya, kemudian ia membopong tubuh tinggi semampai istrinya menuju kamarnya.


"Mas tolong turunkan aku, berat mas tubuhku" terang Aisyah. Ia kasihan dengan suaminya, ia yakin suaminya pasti belum pudar rasa letihnya.


"Tidak sayang... Aku tidak pernah capek kalau menggendong mu. Biarkan aku memenuhi tugas ku untuk membahagiakan mu" tutur Farid dengan sedikit terengah. Itu adalah salah satu caranya membahagiakan sang istri.


"Mas Farid memang paling pintar membahagiakan istri"


Aisyah memang beruntung mendapatkan suami seperti Farid. Dalam mengarungi bahtera rumah tangga, suaminya ialah sosok imam yang baik.


Sebisa mungkin dirinya ingin menjadi istri yang baik, ia tahu perannya sebagai istri juga sangat penting. Sebagai teman hidupnya ia bisa menjadi penasihat dan teman bertukar pikiran, perannya sangat mempengaruhi keputusan terbaik untuk kelangsungan rumah tangganya yang harmonis.


Aisyah tidak pernah sekalipun berkata tidak ketika suaminya meminta dirinya melakukan sesuatu, asalkan perintah tersebut masih dijalan Allah, ia akan ikhlas menjalankannya. 


Sudah menjadi kewajibannya sebagai istri harus mematuhi perintah suaminya, karena hal tersebut sudah ada dalam Al Qur'an dan hadits, bilamana istri melakukan kewajibannya dengan hati yang tulus dan ikhlas niscaya rumah tangganya akan berakhir sampai ke surga kelak, itulah tujuan utama yang paling mulia.


Allah berfirman: "Maka istri-istri yang shalihah itu ialah yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada. Oleh karenanya Allah telah menjaga mereka" (QS. 34)


Mereka berdua memang pasangan yang saling melengkapi satu sama lain. Ikatan cinta atas nama Allah akan mengiringi perjalanannya. Meskipun awalnya Aisyah tidak pernah mencintai Farid, tetapi berjalannya waktu ia bisa membuka hatinya untuk Farid, bahkan sekarang dihatinya hanya ada nama suaminya seorang. Cintanya kepada Farid telah menenggelamkan luka yang pernah diberikan Anwar mantan suaminya kepadanya kala itu.


Usai menurunkan tubuh istrinya di atas ranjang, Farid mulai berbaring di samping istrinya sembari memeluk tubuhnya. Hari itu ia benar-benar lelah dengan aktivitasnya yang begitu padat.


Aisyah memandangi paras letih suaminya, ia mengelus pipi suaminya kemudian mencium bibirnya. Sungguh suaminya sudah terlelap dari tidurnya, sampai tak menyadari sentuhan mesra sang istri.


Kemudian Aisyah kembali mencium bibir suaminya, kecupan selamat tidur yang mengiringi mimpi indahnya. Aisyah pun ikut terlelap di lengan sang suami.


Sungguh indah kehidupan berumah tangga yang diajarkan oleh Rasulullah, begitu damai dirasakan oleh hati setiap insan. Rumah tangga seperti itulah yang diinginkan setiap orang. Semoga rumah tangga kita selalu dinaungi oleh ajaran Rasulullah, dan semoga rumah tangga kita selalu diberkahi serta diridhoi oleh Allah.


Meskipun setiap hubungan tidak ada yang sempurna, yakinlah Allah menguji setiap hubungan dengan masalah yang berbeda-beda. Karena memang hidup adalah pelajaran, selama kita masih bernafas, disitulah kita tidak akan pernah berhenti untuk belajar. 


Seperti contoh Allah memberikan kebahagiaan keluarga yang berlimpah harta tetapi Allah mengujinya dengan sulitnya memiliki keturunan, ada lagi Allah memberikan keluarga yang bahagia juga beberapa keturunan tetapi Allah mengujinya dengan sulitnya perekonomian mereka.


Ada lagi Allah memberikan keluarga yang lengkap, harta melimpah tetapi Allah mengujinya dengan anak yang sulit diatur. Dan ada lagi Allah memberikan keluarga yang harmonis, sesuai dengan syariat Islam tetapi Allah juga mengujinya dengan sakit.

__ADS_1


Sesungguhnya Allah telah memberikan ujiannya kepada umat-umatnya. Allah meminta kita untuk selalu ikhlas dan tawakal, setiap ujian yang Ia berikan telah sesuai dari batas kemampuan umatnya


__ADS_2