
"Auw... sakit, perutku sakit mas..!" rengek Aisyah sambil meringis kesakitan memegangi perut besarnya. Usia kandungannya kini sudah menginjak 38 Minggu, dan perkiraan kelahirannya masih dua Minggu ke depan.
Tetapi pagi-pagi sekali Aisyah merasakan nyeri pada perutnya, punggungnya terasa mau patah jadi dua, mungkin ini pertanda ia mau melahirkan
Farid yang tadinya mau berangkat kerja, ia langsung menaruh tasnya, "Ayo sayang aku antar ke rumah sakit" Farid begitu panik melihat istrinya kesakitan sambil memegangi perutnya, ia membopong tubuh besar istrinya menuju mobilnya.
"Abi... Umi... Aisyah mau melahirkan" teriaknya histeris karena panik
"Ais mau lahiran, ayo cepat ke rumah sakit" kata Umi gemetar, ia merasa gugup dan juga panik seperti Farid
"Umi... Abi... sakit, perut Ais sakit banget, tolong Ais Umi" rengek Aisyah, gamis panjangnya bagian bawah sudah basah oleh cairan putih bening seperti air mineral yang sedikit kental, mungkin itu air ketubannya sudah pecah
"Abi mana Abi" kata Farid celingukan di dalam mobilnya mencari sosok ayah mertuanya
"Abi tadi keluar mau ke rumah pak ustadz Yusuf, ayo pergi sekarang, tidak usah nungguin Abi, ntar kita telfon saja" ucap Umi panik, ia mengusap punggung Aisyah dengan lembut, beliau teringat akan masa dahulu saat melahirkan kedua anaknya, dulu ia merasa nyaman saat sang bunda mengusap punggungnya, rasa sakit yang dirasakan seperti berkurang dengan sendirinya.
"Pak Gun cepat berangkat" titah Farid
Gunawan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
__ADS_1
"Umi... usap lagi punggung Ais, rasanya nyaman Umi" pinta Aisyah masih meringis kesakitan
Setelah tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di rumah sakit dimana Aisyah setiap bulannya kontrol kehamilan di rumah sakit tersebut.
Dokter kandungan yang biasa memeriksa kandungannya, meminta beberapa perawat untuk mendorong pasien ke ruangan bersalin.
Umi menunggu di luar, karena dokter hanya memperbolehkan satu orang saja yang akan mendampingi Aisyah dalam proses persalinannya.
Setelah melakukan beberapa pengecekan awal, mulai dari kondisi fisik bunda dan kedua janin kembarnya
Dokter kandungan itu mulai memberikan pendapatnya
"Iya Dok, sesar nggak papa, yang penting istri dan anak-anak saya selamat, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok" pinta Farid yang sudah berada di dalam ruangan bersalin bersama Aisyah
"Nggak mau mas, Dok tolong bantu saya melahirkan normal, saya ingin melahirkan normal dok... tolong" kata Aisyah merintih kesakitan sambil merajuk pada dokter wanita langganannya itu
Sebenarnya Farid menginginkan Aisyah untuk melahirkan sesar, ia tak ingin melihat istrinya kesakitan, apalagi dokter juga sudah menganjurkan untuk operasi sesar, tetapi Aisyah tidak mau menuruti permintaannya karena ia sangat ingin melahirkan dengan normal, wanita shalihah itu ingin sekali menjadi seorang ibu yang seutuhnya, dengan melahirkan normal adalah impian bagi setiap wanita.
Meskipun banyak orang bilang melahirkan normal itu rasanya seribu kali lebih sakit', ia tetap ingin melewati itu semua.
__ADS_1
"Mas Farid kalau nggak kuat, tunggu diluar saja ya... sakit banget mas, sakit....!" kata-kata itu keluar dari bibir Aisyah, sesekali ia menggigit bibir luarnya untuk menahan sakit. Ia tahu kalau suaminya tak tega melihatnya kesakitan, tetapi ini memang benar-benar sakit sekali, rasanya pinggangnya seperti hendak patah menjadi dua.
Farid menahan embun di luar bola matanya yang berkaca-kaca, dengan lembut ia mengusap air mata istrinya "Nggak papa sayang, aku akan tunggu disini sampai si kembar lahir ke dunia, semangat ya sayang, kita harus terus berdoa untuk kelancaran proses kelahiran bayi kita" tutur Farid, Tubuhnya bergetar, sebenarnya ia tak sanggup dengan keadaan seperti ini. Sungguh tak tega melihat kondisi Aisyah, berbagai macam doa mereka berdua panjatkan, sesekali Aisyah tampak putus asa dengan rasa sakit yang ia rasakan, sungguh sakit' yang luar biasa, beginilah seorang ibu dengan bertaruh nyawa untuk melahirkan putra putrinya. Hati Aisyah terenyuh, dalam Isak tangis ia memohon ampun pada sang bunda dan juga Allah.
"Umi... mas Farid tolong panggilkan Umi"
Farid pun bergegas keluar, ia mengajak Umi masuk ke dalam, kali ini sang dokter memberikan izin untuk umi masuk kedalam sebagai penyemangat putrinya yang tengah berjuang untuk kelahiran kedua cucunya
"Umi... Ais minta maaf, Ais banyak dosa... ampuni semua kesalahan Ais ya Umi, Ais minta doa restu, semoga si kembar cepat lahir, Ais nggak kuat lagi Umi.... huh...huh... sakit umi" Tutur Aisyah dengan menahan rasa sakit ia meraih tangan ibunya, menciuminya berulang ulang. Nafasnya terjeda, ia mencoba menetralkan rasa sakitnya dengan menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkan perlahan
"Iya nak, Umi sudah memaafkan semua kesalahan anak-anak Umi, yang kuat ya nak, ingat selalu untuk membaca surat-surat pendek. Insya Allah diberikan kelancaran" Umi mengusap perut putrinya yang sudah tampak merosot ke bawah, beliau juga mendoakan putrinya, membaca surat-surat pendek dalam hati, dan memohon kepada Allah untuk memperlancar proses kelahiran putrinya
Farid masih terus mengusap punggung istrinya, Aisyah memiringkan tubuhnya ke arah kiri karena memang Dokter yang menyarankan untuk berbaring sambil memiringkan tubuhnya ke arah kiri, dokter bilang hal tersebut bertujuan untuk mempercepat proses pembukaan selanjutnya. Salah seorang perawat juga mengecek detak jantung bayinya, setiap waktu.
"Ini sudah pembukaan enam, yang semangat ya bunda... sebentar lagi baby-nya akan lahir. Jangan mengejan dulu ya, tarik nafas panjang lalu keluarkan pelan-pelan. Biar nanti saat pembukaan penuh, bunda punya tenaga untuk mengejan." perintah salah seorang dokter kandungan yang turut serta membantu lahirannya.q
Aisyah terus menangis merasakan sakit, lama kelamaan sakit yang ia rasakan sangat luar biasa sakitnya, sampai-sampai ia dengan respect mencakar-cakar lengan Farid. Dia juga meremas kaos Farid dengan sekuat tenaga. Farid hanya diam tak bergeming, matanya terus berkaca-kaca, ia seperti bisa merasakan apa yang dirasakan istrinya. Perlakuan refleks Aisyah sangat tak sebanding dengan rasa sakit yang istrinya rasakan sekarang, hatinya begitu gelisah, ingin sekali ia segera mengakhiri kegelisahan ini, ia tak kuasa menahan kesakitan istrinya
"Ah... sakit dokter... Uh..uh... rasanya ingin mengejan sendiri dok." teriak Aisyah masih dalam posisinya. Nafasnya semakin tersengal, ada sesuatu yang menekan panggulnya dan membuat rasa ingin mengejan dengan sendirinya.
__ADS_1
Bunda-bunda yang sudah pernah melahirkan putra putrinya dengan normal ataupun sesar. Selamat... Kalian semua bunda yang hebat, bunda yang luar biasa, bunda yang menjadi pahlawan untuk anak-anaknya. Semoga kelak putra-putri kita menjadi anak yang shaleh dan shalihah, taat pada orang tua dan berguna untuk banyak orang. AMIN