
Malam itu di kamar kost Aisyah tidak bisa mengawali tidurnya, hatinya gelisah, ia masih memikirkan ta'arufnya dengan Farid, akankah menuai hasil yang ma'ruf sampai ke khitbah (Peminangan)
Ia melihat pantulan wajahnya di cermin, tengah malam itu ia membuka jilbabnya kemudian ia menyisir rambut panjangnya. Kemudian mengikatnya kembali.
Dari pantulan cermin itu iya menyadari, kalau dirinya yang begitu banyak kekurangan harusnya bersyukur ada lelaki yang benar-benar tulus mencintainya.
Apalagi Abi dan Umi juga mendukung hubungan ta'aruf mereka. Sebenarnya keputusan sepenuhnya ada di tangan Aisyah, semua pihak keluarga keduanya juga sudah merestui mereka berdua.
Setelah merenung beberapa saat, dalam diamnya ia menemukan jawaban dari kebimbangannya. Tangannya meraih handphonenya di atas kasurnya, ia membuka aplikasi hijau di ponselnya.
Dengan perasaan bercampur aduk ia memberanikan dirinya untuk mengirim pesan pada Farid, ia tahu waktu sudah menunjukkan tengah malam, mungkin juga Farid sudah beristirahat. Tetapi Aisyah tidak bisa menunggu sampai besok, karena ia takut keputusannya bisa kembali berubah.
"Mas Farid... Aku memilih mu, semoga kamu bisa menjadi imam yang baik untuk ku dan anak-anak kita kelak"
Usai mengirim pesan itu, hati Aisyah benar-benar tenang. Ia yakin Farid bisa membahagiakan dirinya, ia juga yakin perasaan cinta itu pasti akan datang seiring berjalannya waktu.
🍁🍁🍁
Kesabaran yang berbuah manis.
Kata itulah yang cocok untuk perjuangan Farid mengejar cinta Aisyah.
Perasaan haru bercampur bahagia ketika ia membaca pesan dari Aisyah. Benar-benar rasa yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata. Saking senangnya ia meloncat layaknya anak kecil yang menang dalam sebuah permainan.
"Yeah... Alhamdulillah ya Allah... Akhirnya engkau mengabulkan doaku.
Alhamdulillah... Alhamdulillah...!"
Dengan kegirangan Farid tak henti hentinya mengucap rasa syukurnya.
Dari luar pintu Fina mendengar teriakkan kakaknya
__ADS_1
"Kak... Ada apa sih kak?" Tanya Fina dari balik pintu kamar kakaknya yang sedikit terbuka
"Aisyah Fin... Aisyah mau... Dia menerima lamaran ku" terang Farid dengan binar kebahagiaan di wajah tampannya.
"Yang bener kak? Akh kak Farid pasti bercanda" ternyata Fina masih ragu dengan perkataan kakaknya, baginya ini tak bisa di percaya karena ia tahu betul kalau Aisyah belum bisa move on dari Anwar
"Enggak Fin... Coba lihat ini, ini pesan dari Aisyah" kata Farid meyakinkan adiknya dengan memperlihatkan layar ponselnya.
Fina membaca tulisan itu dengan seksama, ia masih tak percaya, kemudian ia mengulangi sampai tiga kali, terakhir ia melihat foto Aisyah dari pojok kiri atas di layar ponsel Farid
"Ye... Selamat ya kak, kakakku yang paling tampan akhirnya menikah juga" dengan girang Fina melompat ke tubuh kakaknya, ia merangkul tengkuk kakaknya dengan kasar.
"Hih... Berat lah Fin, badanmu gemuk begitu" tutur Farid meledek adiknya, tetapi tangannya malah memeluk adiknya dengan bahagia. Mereka tampak saling berbagi kebahagiaan satu sama lain
Fina merosot dari tubuh kakaknya
"Akhirnya kak Farid laku juga, aku kira kakak bakal meraih penghargaan lelaki kaya tetapi bujang lapuk.... Hahaha" Fina membalas ledekan kakaknya
"Aku pasti bakal kangen sama kakak, setelah kakak menikah tentunya kakak nggak akan ada waktu untuk ngomelin aku, perhatiin aku lagi" dari raut kebahagiaan itu terselip juga kesedihan melepaskan kakaknya.
"Aisyah tidak mungkin membiarkan adik iparnya bersedih, kamu harus bersyukur, tambah satu orang lagi yang akan cerewet sama kamu"
"Ya juga sih kak, Aisyah itu wanita yang baik banget, lembut dan penuh perhatian. Tentunya menyenangkan... Dari sahabat jadi kakak ipar... Huh nggak sabar mau gendong keponakan" kata Fina terbawa dengan angan-angannya
"Amin... Amin... Doakan saja setelah menikah kami cepat punya momongan"
"Ya pasti dong kak"
Untuk kehadiran sang buah hati, Farid memasrahkannya pada sang ilahi. Iya tidak mau menuntut Aisyah, karena itu adalah kehendak sang maha pencipta. Walaupun kelak iya tidak memiliki keturunan seperti yang ditakutkan Anwar. Ia akan ikhlas, asalkan ia bisa menua bersama wanita yang ia cintai.
Kita sebagai umatnya hanya bisa berdoa dan berusaha, niscaya Allah akan mengabulkan doa-doa kita yang sering kita panjatkan. Apalagi kita mau menyempatkan untuk sholat tahajud, insyaallah doa kita akan dikabulkan oleh-Nya.
__ADS_1
Apalagi sholat sunah muakad itu juga memiliki banyak manfaat yang berlipat ganda.
***Semoga kita semua selalu dalam lindungannya... Amin***
Menikah adalah sunnah Rasulullah SAW yang sangat dianjurkan bagi ummatnya. Dengan menikah, seolah agama seorang muslim dan muslimah telah sempurna.
Proses menuju khitbah harus tetap dijaga interaksi dan komunukasinya. Jika membuka komunikasi, pembicaraan yang sesuai kebutuhan saja. Dan yang lebih baiknya, ada orang yang dituakan menjadi perantara mereka yang ingin menikah.
Dalam hal ini Farid meminta bantuan kepada ulama terkemuka di kotanya. Sesuai dengan itu, ia bersama Fina dan juga dari pihak keluarganya juga ikut berpartisipasi dalam acara lamarannya. Semua seserahan telah ia penuhi sesuai adat dan tradisi di kampung Aisyah.
Seluruh anggota keluarga sebelum berangkat menuju kampung Aisyah, mereka semua diajak untuk berdoa terlebih dahulu. Karena segala tindakan perbuatan, pekerjaan dalam Islam harus di mulai dengan berdoa agar nantinya mendatangkan berkah untuk dirinya sendiri dan orang lain.
"Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Men-takdir-kan, dan bukanlah aku yang men-takdir-kan. Dan Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak kuketahui. Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghaib. Maka jika Engkau melihat kebaikan antara diriku dan Aisyah untuk agama dan akhiratku, maka takdirkanlah aku bersamanya." Doa yang Farid panjatkan sebelum berangkat melamar Aisyah.
Seluruh anggota keluarga pun sudah bersiap berangkat, ada sekitar tiga mobil yang mengantar acaranya, seluruh mobil itu dipenuhi keluarga, anak-anak dan teman dekat Farid.
__ADS_1
Perjalanan itu menempuh waktu seharian, sebenarnya Farid berencana untuk datang menggunakan pesawat pribadi. Tetapi Aisyah melarangnya. Ia ingin prosesi khitbah dilaksanakan sesederhana mungkin. Ia tidak mau proses itu terlalu mencolok di kampungnya, karena ia tidak mau sebagian warga mengetahui calon suaminya adalah orang kaya dan terpandang.