
Farid, Aisyah dan juga seluruh karyawan kantor tengah berada dalam bus. Perjalanan mereka sungguh menyenangkan, Farid dan istrinya lebih memilih untuk naik bus bersama dengan yang lainnya karena memang ingin lebih dekat dengan seluruh karyawan.
Di dalam bus berukuran jumbo itu, mereka semua tampak bersorak gembira. Ada beberapa lelaki yang memainkan gitarnya, dan sebagian ada juga yang bernyanyi dengan iringan musik tersebut.
Farid terlihat kurang percaya diri ketika ikut bernyanyi bersama yang lainya. Ia tampak bersuara lirih sambil merangkul istrinya. Di kursi lainnya tampak Anwar tengah mencuri pandang pada kemesraan Farid dengan Aisyah, Anwar hanya bisa melihat mereka dari belakang, padahal ia ingin sekali menatap paras mantan istrinya untuk beberapa menit saja.
Perjalanan yang mereka tempuh menuju Yogyakarta sekitar 10 jam. Tujuan utama mereka ialah ke hotel tempat mereka menginap. Perusahaan sudah memboking seleruh kamar di hotel Melia Purosani Yogyakarta. Pihak perusahaan memilih hotel tersebut karena memang memiliki fasilitas bintang 5, apa lagi letaknya juga sangat strategis, di samping mall Malioboro di jantung kota Yogyakarta.
Apalagi hotel tersebut juga memiliki beberapa fasilitas yang terakomodasi. Beberapa kamar yang dilengkapi dengan mini bar atau tempat untuk menyeduh teh dan kopi. Di tambah lagi setiap kamar terdapat mini balkon yang sudah disulap menjadi taman kecil yang apik. Dari tempat tersebut mata mereka akan disuguhkan dengan pemandangan indah di bawah.
Setiap satu pasangan ataupun yang belum berkeluarga mereka menempati kamarnya masing-masing. Karena Farid sudah memesan tempat tersebut beserta fasilitasnya dalam 2 malam.
"Selamat malam pak... Selamat datang di hotel kami, mari saya antar ke kamar anda" ucap salah seorang staf yang begitu Wellcome dengan tamu
"Terimakasih Mbak" jawab Farid menggandeng tangan istrinya
"Kalian semua istirahatlah di kamar masing-masing, kita akan berkumpul lagi disini besok pukul 8 pagi" titah Farid memberikan instruksinya kepada seluruh karyawan.
Mereka semua pun bergegas masuk ke dalam kamar masing-masing. Begitu juga dengan Farid dan Aisyah, mereka masuk ke kamar dengan fasilitas yang sama.
"Mas aku mandi dulu ya" kata Aisyah setelah mengambil beberapa barangnya di dalam koper
"Kita mandi bareng ya sayang" pinta Farid, ini pertama kalinya ia meminta hal yang aneh
"Maaf mas, aku malu" tolak Aisyah sembari meminta maaf
"Kenapa harus malu, aku kan suamimu. Insya Allah aku cuma ingin kita berendam bersama saja." Kata Farid
"Baiklah mas" jawab Aisyah dengan lekuk simpul senyumannya.
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan kecil tersebut, Farid meletakkan beberapa perlengkapan mandinya di atas venities, meski dari hotel sudah memfasilitasi, ia lebih suka membawa perlengkapan itu dari rumah.
Aisyah mengisi bak mandinya, ketika sudah penuh ia mulai melepaskan seluruh pakaiannya serta penutup kepalanya. Tetapi ia masih menutupi kedua auratnya di depan sang suami.
__ADS_1
Sedangkan Farid juga sama ia masih mengenakan boxer nya.
"Masuklah duluan mas" pinta Aisyah ketika selesai mengisi bathtub dengan air hangat
"Iya sayang" jawab Farid, perlahan ia masuk ke dalam bathtub kemudian ia menyambut tangan istrinya turut memasuki air hangat itu.
Keduanya tengah berendam dengan posisi berhadap-hadapan, Farid menuangkan cairan berbusa di salah satu tangannya, kemudian ia mengusap dengan tangan satunya. Lalu ia mulai menggosok lembut punggung istrinya.
"Mas Aisyah bisa sendiri" wajah cantik yang tersipu malu
"Aku tahu, biarkan aku melakukannya sayang"
Farid kembali menuangkan jel tersebut kemudian senggosok rata tubuh belakang istrinya.
"Berbalik lah sayang" pinta Farid
Kemudian Aisyah membalikkan badannya, ia menutupi kedua gundukan di dadanya dengan kedua tangannya.
"Hemh... Nggak usah malu begitu dong sayang" Farid tersenyum melihat istrinya tersipu malu
"Sekarang giliran mas Farid ya" kata Aisyah mengambil botol sabunya
Lalu ia melakukannya sama persis seperti yang Farid peragakan. Sesekali ia juga melakukan pijatan lembut di punggung suaminya.
"Nyaman sekali pijatan mu sayang, terimakasih ya"
"Sama-sama mas, kalau mas Farid bersedia setiap hari aku bisa membantu memijat badan mas Farid yang capek"
"Tidak usah setiap hari sayang, kalau aku menginginkan aku akan bilang ya"
"Iya mas"
Usai mandi besar Farid mengambilkan handuk kimono untuk dirinya dan juga istrinya, dengan telaten ia membatu Aisyah memakai kimono tersebut. Sungguh wanita mana yang tidak bahagia mendapatkan suami super perhatian dan romantis seperti Farid.
__ADS_1
"Terimakasih mas" jawab Aisyah kembali berterimakasih kepada sang suami
Farid membopong tubuh semampai istrinya keluar, dengan hati-hati ia menurunkan istrinya. Raut wajahnya memanas, keduanya seakan memancarkan hawa panas dari dalam tubuhnya, Farid begitu bergairah dengan lekuk indah tubuh istrinya, ia mulai memainkan permainan ranjangnya lagi.
Sungguh kenikmatan hidup yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, bahkan sebagian pasangan halal menyebutnya surga dunia. Benar-benar surga yang membuat darah mengalir beralur, menenteramkan hati dan pikiran, memuaskan rasa yang tak tergambarkan oleh apapun. Sungguh nikmat Allah yang tiada tara.
Seperti malam-malam sebelumnya, usai melakukan hubungan suami istri pasti Farid tergeletak tak berdaya di atas ranjangnya. Ia merasakan kepuasan batinnya, begitu pula dengan Aisyah, tetapi ia tidak langsung terlelap dalam kondisi yang seperti itu. Karena baginya kesehatan wanita harus tetap dijaga, usai melakukan hubungan badan pasti ia akan kembali membersihkan dirinya. Dalam hal tersebut kesehatan kewanitaan sangat rentan, jadi ia selalu berusaha menjaga dirinya sendiri meskipun rasa kantuk menghantui pasti ia menyempatkan waktunya untuk mandi sebentar.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, usai menyantap sarapannya di kamar masing-masing seluruh karyawan berkumpul di ruang utama hotel yang terletak di lantai dasar.
Farid kembali menginstruksikan untuk para karyawan saling menjaga satu sama lainnya ketika dalam kawasan tempat wisata, bagaimana pun mereka adalah satu keluarga jadi harus saling memberi kabar dengan yang lainnya ketika berpencar menikmati liburan yang mereka inginkan.
"Ayo sayang... Ayo Son" ajak Farid
Ia menggandeng tangan istrinya, kemudian Sony yang berada di belakangnya juga tampak romantis, Rahma istrinya terlihat merangkul lengan suaminya dengan begitu mesra.
Dibelakang lagi ada Anwar dan istrinya Rani, berbeda dengan penampilan Aisyah dan Rahma yang tertutup, Rani justru berpakaian seksi, pakaian minim itu seakan memperlihatkan lekuk tubuh indahnya. Bahkan tampak sedikit membuka auratnya, belahan dadanya terpampang keluar. Dan juga paha mulusnya terlihat begitu jelas. Ditambah lagi hilsnya yang tinggi seakan melengkapi penampilan seksinya, penampilannya sungguh mirip sekali dengan pelayan bar yang tengah menggoda beberapa lelaki hidung belang.
Rani merangkul lengan suaminya, sesekali ia berbicara kepada suaminya, tetapi Anwar tak cukup meresponnya karena di dalam pikirannya kala itu sungguh dipenuhi oleh wanita cantik berkerudung toska di depannya.
"Aisyah sungguh cantik sekali, aku menyesal telah menceraikan mu dek" terang Anwar dalam hati, rasa penyesalan yang sudah tidak ada gunanya, ibarat nasi telah menjadi bubur Anwar hanya bisa menyesali nasibnya.
"Mas Anwar jangan ngelamun dong" kata Rani sembari menatap wajah suaminya. Kenapa tidak ada sedikitpun kebahagiaan di wajah suaminya itu.
"Mas kamu kenapa sih? Kurang suka dengan penampilan ku ya" tanya Rani menduga-duga
"Iya" jawab Anwar keceplosan, padahal ia tidak fokus dengan pertanyaan istrinya, ia hanya asal menjawab saja.
"Mas Anwar jahat... Awas kalau mas Anwar minta jatah nggak bakalan ku kasih" kata Rani sambil mengepakkan tangan suaminya
"Iya" jawab Anwar lagi, ia kembali mengiyakan perkataan istrinya, tanpa sadar ia telah membuat Rani semakin kesal padanya.
Karena kesal Rani melangkah cepat meninggalkan suaminya, ia berjalan menyusuri jalanan Malioboro seorang diri.
__ADS_1
*** Ini part nya aku tambahin ya kak.
Sebagai penulis yang masih baru saya memang harus banyak belajar, dan juga mendengarkan Krisan dari kalian... Terimakasih dukungannya, dan mohon maaf bila ada kata yang kurang berkenan, Insya Allah chapter-chapter selanjutnya akan saya buat lebih banyak jumlah katanya.***