Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Aisyah juga manusia


__ADS_3

Mereka semua sudah sampai di kantor polisi, Dengan langkah panjang mereka mulai memasuki ruangan yang ditunjukkan oleh penjaga.


"Mari silahkan duduk, silahkan menunggu di sini, sebentar lagi tersangka akan di bawa ke mari" ucap salah seorang polisi


Mereka semua tampak gelisah, tak sabar melihat wajah tersangka pembunuhan Akhmad. Berbeda dengan Farid, ia tampak tenang karena memang mengetahuinya lebih dulu. Tetapi ada sedikit kekhawatiran pada istrinya, ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Aisyah ketika melihat Rani yang menjadi tersangkanya


Kira-kira bagaimana reaksi Aisyah saat melihat Rani, seseorang yang selalu menyakiti hatinya berulang kali, tetapi ia selalu memberikan maafnya.


Rani datang melangkah terhuyung dengan mengenakan seragam tahanan , kaos oblong dan celana komprang berwana oranye.


Aisyah berdiri mematung, kedua matanya menatap sosok Rani yang berjalan dengan seringai menghina. Wanita tidak berakhlak itu masih bertingkah sombong seperti tak ada rasa penyesalan dengan perbuatan kejinya


Dengan gaya sombongnya Rani berkata "Hahaha... bagaimana rasanya kehilangan orang yang kalian sayang, sakit kan? enak kan? hahaha..." wanita jahat itu kembali mengolok sembari menyeringai senang


Aisyah yang tak bisa menahan gejolak di dadanya, ia meluapkan emosinya dengan menampar wajah Rani dengan keras


"Plaaaakkkkk...."


"Pembunuh, wanita tak punya akhlak... sampai tujuh turunan, tak akan ku maafkan perbuatan keji mu. Neraka jahanam tempat yang pantas untuk wanita seperti mu" Aisyah getam-getam melontarkan sumpah serapahnya.


Rani menggertakkan giginya, mengangkat kedua tangannya yang masih menyatu terikat oleh borgol.


Ia hendak meninjukan genggaman tangannya pada perut Aisyah, kali ini Aisyah dengan refleks menangkis tangannya, ia kembali mendaratkan satu tamparan ke wajahnya, sampai bibir pinggir Rani berdarah.


Polisi dengan sigap mengamankan Rani, Fina dan Farid tampak memegangi kedua tangan Aisyah yang tengah tersulut emosi. Sedangkan Abi masih shock, beliau tidak menyangka ternyata orang yang tega menyakiti keluarganya ada Rani mantan istri Anwar.

__ADS_1


"Masya Allah, kejam sekali wanita itu, dia layak dipenjara seumur hidup, tolong hukum wanita itu sesuai hukum yang berlaku, berikan keadilan pada keluarga kami pak" terang Abi pada petugas kepolisian


"Sudah sayang, jangan kotori tangan mu untuk wanita keji itu" terang Farid mengusap lembut punggung Aisyah, untuk menenangkan hati istrinya yang terbakar oleh api amarah.


"Iya Is, lebih baik kita pulang saja ya" ajak Fina yang juga mencoba menenangkan Aisyah dengan mengelus punggung tangannya


"Itu semua belum seberapa, Rani harus menderita seumur hidupnya, Allah harus memberikan keadilan pada kami, aku ingin dia membusuk dalam penjara" Aisyah menuntut keadilan pada sang pencipta, ia tahu jodoh, rejeki dan kematian adalah kehendak Allah, tetapi ia masih belum bisa memaafkan candala seperti Rani.


Meski Tuhan memberikan segalanya, cinta, harta, dan anak, tetapi Tuhan masih memberikan cobaan padanya, hari yang seharusnya membahagiakan berubah menjadi tragis. Ini semua karena wanita hina itu, wanita candala yang berhati iblis.


Aisyah memang bukan wanita yang sempurna, meskipun ia memiliki ilmu agama yang cukup, tetapi ia hanya manusia biasa yang tidak luput dari dosa. Ia tak bisa menahan emosinya, sampai perkataannya begitu terdengar kasar. Semua itu karena luka dihatinya yang masih basah, kepedihan itu membuat dirinya tersulut emosi dan juga mengucapkan sumpah serapahnya


*** Setelah empat bulan kemudian***


Lambat laun Aisyah mulai mengikhlaskan kepergian sang adik, sekarang Abi dan Umi lebih fokus memperhatikan Aisyah, mereka selalu setia mendampingi putrinya, kemanapun Aisyah pergi mereka akan ikut menjaganya, dari mulai memeriksakan kandungannya ke dokter, senam kehamilan, atau kemanapun mereka akan ikut mendampingi putrinya


Sebentar lagi ia akan melahirkan kedua bayi kembarnya yang lucu-lucu. Kedua orang tuanya juga sangat menantikan kehadiran cucu-cucunya. Apalagi Farid yang super over tak sabar menantikan kelahiran kedua bayi kembarnya.


Setelah menikah Fina ikut tinggal bersama Hamid dan keluarga besarnya, meski begitu mereka berdua masih sering menyambangi kediaman kakaknya, seminggu sekali dia datang untuk menghabiskan waktu akhir pekannya bersama keluarga kakaknya.


Hari ini Farid mendapatkan kabar kematian Rani, ingin rasanya ia memberi tahu kabar duka itu pada istrinya, tetapi ia urungkan niatnya, ia tak ingin mengingatkan kenangan buruk yang sudah di kubur dalam-dalam.


Di dalam kamar ia menghabiskan waktunya bersama Aisyah, "Sayang sebentar lagi si kembar lahir, kita persiapkan nama yang bagus untuk mereka ya" ucap Farid tersenyum bahagia, ia tidur di pangkuan sang istri, sesekali ia mencium perut besarnya lalu mengelus dengan lembut.


Aisyah mengelus rambut hitam suaminya, sekarang ia tak bisa menunduk mencium bibir suaminya, karena terganjal oleh perut besarnya.

__ADS_1


"Mas aku ingin mencium mu" ucapnya malu-malu


"Hehehe nggak bisa nyium ya sayang, biar aku saja yang mencium mu" kata Farid beranjak dari pangkuan Aisyah, dengan sigap ia menciumi bibir istrinya


"Aku dulu mas" Aisyah memegang tengkuk suaminya perlahan menekan ke depan sampai kedua bibirnya menempel di bibir Farid.


Farid tersenyum intens, lelaki itu begitu mensyukuri mempunyai istri seperti Aisyah. Aisyah adalah satu-satunya wanita yang berlabuh di dermaga hatinya. 


Mereka berdua saling melengkapi, mencintai dan mengasihi, menghormati dan menghargai satu sama lain


Aisyah adalah orang yang paling berarti dalam hidupnya, wanita shalihah itu sangat berpengaruh baginya, setiap langkah kebaikan yang ia tujukan, itu adalah berkat tangan Allah melalui Aisyah Humairahnya.


Aisyah juga memiliki garis takdir yang penting dalam perjalanan hidupnya dalam mendalami ilmu agamanya.


Farid memang sangat mencintai Aisyah, bahkan wanita itu memiliki tempat teristimewa di hatinya. Di setiap sujud ia selalu memanjatkan doa untuknya 


 “Ya Allah, ampunilah Aisyah dari dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, yang tersembunyi dan yang terlihat.”


Kecintaan besar yang dinikmati Aisyah dari sang suami tentu saja merupakan faktor pemicu pada sebagian orang untuk merasa iri, dengki dan cemburu. Sehingga banyak yang tak menyukai keharmonisan keluarga nya, membuat perkara untuk menjatuhkan dan menyakiti hatinya. Namun Allah selalu membebaskan dirinya dari segala musibah, Allah sudah seperti pelindung baginya.


Dalam hal tersebut, Aisyah juga manusia, yang tidak sempurna, tidak luput dari dosa. Sebaik apapun dirinya, seshalihah apapun dirinya dihati kecilnya masih tersimpan rasa sakit, sakit terzolimi oleh wanita yang bernama Rani. Entah sampai kapan kebencian itu tertanam di hatinya, yang jelas waktu yang akan menghapusnya.


***


Ayo readers jangan lupa tinggalkan jejak kalian di kolom komentar dan like seluruh chapternya. Terimakasih semoga bermanfaat.

__ADS_1


Salam santun dari author


__ADS_2