
Setelah selesai berbincang bersama suaminya dan juga Umi, Aisyah menyuruh Ema untuk mulai bekerja membantu bi Inah. lalu Farid mengajak Aisyah ke kamar untuk membicarakan sesuatu hal yang penting.
Di dalam kamar Farid tengah duduk di sofa berdampingan dengan istrinya.
"Sayang ada yang mau mas omongin" tutur Farid sambil mengelus punggung tangan Aisyah berulang
"Ada apa mas" rasa was-was langsung menghantui Aisyah, ia mengingat kejadian setahun lalu saat Anwar menalak dirinya. Entah kenapa tiba-tiba di benaknya tersirat oleh masa lalu kelamnya.
"Sayang kamu kenapa kok wajah kamu jadi sedih begitu" tanya Farid ketika melihat expresi sedih istrinya
Aisyah pun hanya menggeleng, ia tak mungkin menceritakan ketakutannya. Kegagalan yang dialaminya dahulu sudah seperti momok yang menakutinya.
"Sayang, mas mau ijin... nanti malam mas ada perjalanan bisnis ke Singapura bersama Sony, mungkin mas akan tinggal disana beberapa minggu. Apa kamu tidak papa sayang kalau aku tinggal?" sebenarnya berat hati Farid meninggalkan istrinya dalam keadaan hamil seperti ini, tetapi ini adalah pekerjaan pentingnya untuk menunjukkan eksistensinya di kancah internasional. Mungkin kalau istrinya tidak hamil, ceritanya akan berbeda, Farid pasti akan mengajaknya kemana pun ia pergi.
"Iya mas nggak papa kok, kan Umi juga ada disini yang bakal bantuin Aisyah. Emh... jadi ini juga alasan kenapa mas Farid memperkerjakan Ema?" tutur Aisyah dengan lekuk senyum di bibirnya
"Hehehe iya sayang, maaf ya" Farid kembali tak enak hati
"Mas Farid jangan minta maaf lagi dong, Aisyah ngerti kok kalau mas Farid sangat perhatian dan tidak ingin kehamilan Ais kenapa napa.
Mas Farid tenang saja, Ais akan jaga bayi kita baik-baik, mas Farid aku pasti merindukan mu" seketika suasana berubah menjadi haru, ia harus terpisah dengan suaminya selama beberapa hari.
Kedua matanya berkaca-kaca, Farid memeluknya dengan hangat.
"Mas juga sayang, mas rasanya tidak ingin terpisah meskipun sebentar saja. Apa lagi mungkin aku akan tinggal di Singapura untuk beberapa Minggu, atau bagaimana kalau kamu ikut saja ?" terang Farid sembari mengelus mahkota istrinya yang tertutup oleh jilbabnya
"Nggak mas, aku dirumah saja. Kasihan si kembar kalau aku kecapekan pasti juga berpengaruh dengan kesehatan bayi kembar kita" tolak Aisyah sambil mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit
Farid pun menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang lalu ia berbaring di pangkuan sang istri
__ADS_1
"Anak-anak ayah' jangan nakal ya didalam perut bunda, ayah pasti akan merindukan kalian berdua... cup.. cup.." Farid mengelus perut istrinya, lalu ia mengangkat kepalanya dan kemudian mencium perut istrinya dua kali.
Aisyah membelai lembut rambut cepak suaminya "Iya ayah, ayah' hati-hati ya disana, jaga kesehatanmu ya mas, semoga Allah senantiasa menjaga kita dimana pun kita berada
"Amin... Syukron Humaira ku"
Aisyah langsung mencium bibir suaminya yang masih berbaring di pangkuannya, ia memberikan morning kissnya pada sang suami. Farid memanfaatkan keadaan itu, ia beranjak dari pangkuannya lalu ia membopong tubuh istrinya dan membaringkan di atas ranjang.
"Sayang... ayo main bola dulu, aku sudah rindu ingin mengunjungi kedua putraku "
"Mas Farid kan semalam sudah, masak mau berkunjung lagi" Aisyah tersipu malu, ia perlahan membuka kancing kemeja suaminya lalu ia memapakkan jemarinya pada dada sixpack suaminya.
Farid mulai mengecup bibir peach istrinya, dengan penuh kelembutan ia melanjutkan ke tengkuk jenjangnya.
Aisyah merasakan kehangatan dari setiap sentuhan lembut suaminya. Mereka berdua pun larut dalam peraduan cintanya
"Mas... aku mencintaimu" Aisyah memeluk tubuh suaminya dengan erat
Farid semakin menatap ke dalam mata istrinya, ia merasakan ketenangan dan kedamaian dalam mata bening istrinya.
Ia menopang kepalanya dengan tangannya, sambil memandangi wajah istrinya yang telah tertidur pulas.
Setelah beberapa jam kemudian, Aisyah terbangun. Matanya memandang ke seluruh ruangan, mencari keberadaan Farid.
"Mas... mas Farid, kamu di mana mas?" Aisyah tak menemukan keberadaan suaminya di dalam kamar. Lalu ia beranjak ke kamar mandi untuk berendam air hangat di bathtub, karena kecapekan ia tadi sampai ketiduran.
Aisyah telah selesai berendam, kemudian ia membilas tubuhnya dengan air hangat yang mengalir dari shower. Ia menggunakan handuk kimononya untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Mas Farid kemana ya...? kok nggak ada" Aisyah menggerutu mondar-mandir mencari Farid, sudah hampir satu jam ia tidak melihat keberadaan suaminya. Padahal ia ingin menghabiskan waktunya bersama Farid, mungkin ia akan merasa kesepian untuk beberapa Minggu kedepan.
__ADS_1
Ia mengambil pakaian dress panjang berwarna hitam dari dalam walk on closet lalu segera mamakainya, ia juga tak lupa mengenakan jilbab dengan warna yang senada. Kemudian ia kembali melangkah keluar menuju meja rias, memoles bibir tipisnya dengan lipstik berwarna peach, warna kesukaannya
Selang beberapa menit kemudian, Farid datang membawa bouquet bunga yang disembunyikan di belakang punggungnya.
"Selamat siang sayang? Hemmmhhh wangi starla" Farid mendekati istrinya yang sedang duduk berdandan di depan cermin angle-nya
"Mas Farid kemana saja sih? kok pergi nggak bilang-bilang dulu.!" ucap Aisyah menggerutu lagi, semakin hari moodnya semakin sering berubah, terkadang ia manja lalu tiba-tiba marah, dan juga sedih. Mungkin ini juga salah satu bawaan hamilnya, karena perubahan hormon di dalam tubuhnya. Di saat hamil hormon estrogen dan progesteron di tubuhnya akan mengalami peningkatan yang signifikan. Hal inilah yang mempengaruhi neurotransmitter yang mengatur suasana hatinya.
"Maaf ya sayang, aku keluar beli ini untukmu?" Farid memberikan bouquet itu di hadapan Aisyah "I love u... sayang..!"
Hatinya langsung merekah ketika melihat bouquet mawar merah yang diberikan oleh suaminya
"Makasih ya mas Farid" Aisyah langsung berdiri mencium bibir suaminya, sebagai tanda terimakasihnya
"Aku ada satu lagi hadiah untukmu sayang" Kata Farid sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna merah. Lalu ia membuka kotak itu didepan Aisyah.
Dan betapa mengejutkan ketika ia melihat isi kotak itu, begitu berkilauan. Ini adalah cincin berlian yang sangat indah, cincin itu sangat cocok untuk jemari indah Aisyah
"Aku pakaikan ya.. sayang" Farid mengambil cincin berlian itu dari kotak marronnya, lalu Ia menyematkan cincin itu di jemari tengah istrinya
"Cantik sekali mas... cincinnya" Aisyah menunduk melihat jemarinya yang dihiasi dua cincin berlian yang melingkar
"Masih cantikan kamu.. sayang..!
daripada cincinnya."
"Ah... mas Farid bisa aja. Makasih banyak ya mas?" ucap Aisyah tersipu malu, wajahnya merah merona dengan pujian suaminya
"Sama-sama sayang."
__ADS_1
Farid kembali mencium kening istrinya, Farid sangat mencintai istrinya, sedetikpun ia tak akan mampu tanpa melihat senyum dan mata bening istrinya yang begitu meneduhkan hatinya