Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Reaksi Rani


__ADS_3

Aisyah sudah tidak sabar menantikan kedatangan sang ibunda.


Suaminya tengah meminta Gunawan untuk menjemput Umi di kampung. Umi sementara waktu akan tinggal bersama mereka di kota, beliau akan menemani putrinya yang tengah hamil muda.


Pagi-pagi sekali Aisyah sudah sibuk di dapur bersama bi Inah, ia tengah menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Setelah selesai menyajikan beberapa makanannya di atas meja makan, lalu ia bergegas ke kamar Fina.


"Fin... Nanti temani aku ke dokter ya, mas Farid nggak bisa nemenin soalnya ada meeting mendadak"kata Aisyah berbicara di samping Fina yang lagi asyik berdandan di depan cermin.


"Iya Is habis ini aku temenin, hari ini aku free kok. Nanti kita sekalian belanja kebutuhan dedek kembar ya" jawab Fina sambil terus memoles wajah mulusnya.


"Oke Fin, yuk sarapan dulu" ajaknya


Setelah sarapan pagi bersama, Farid buru-buru berangkat ke kantor. Sedangkan Aisyah dan Fina tengah bersiap untuk memeriksakan kandungannya ke dokter.


Sesampainya di rumah sakit, Aisyah mengantri seperti ibu hamil lainya, ia tidak mau suaminya membantunya seperti kemarin. Kartu VIP rumah sakit yang diberikan oleh suaminya, sengaja tidak ia gunakan karena ia tidak ingin membuat bunda hamil lainya berfikir Su-udzon tentang dirinya


Ketika tengah mengantri, Fina meminta izin kepada kakak iparnya untuk membeli beberapa camilan dan minuman di luar. Ia berjalan menyusuri taman rumah sakit, kedua matanya sesekali fokus pada layar ponselnya, sampai tidak menyadari  kalau ia menabrak seseorang dari belakang.


"Buukkk"


"Maaf... Aku nggak sengaja" ucap Fina sambil mengelus keningnya


Lelaki tinggi kekar itu menoleh ke belakang, kedua mata Fina seakan tak mau berkedip, ia terus mengamati lelaki di depannya dari ujung kaki sampai kepala. Wajahnya yang oval, bibirnya yang tipis, dan hidungnya mancung seperti artis India favoritnya.


"Nggak papa, kenalin aku Hamid" lelaki berbadan tinggi tegap itu menjulurkan tangannya


Fina pun langsung menjabat tangannya, dengan senyum sumringah ia memperkenalkan dirinya


"Fina..." Tutur Fina setengah mengangguk

__ADS_1


"Anda seorang dokter?" Tanya Fina mengeja penampilan lelaki itu, dari pakaian putih yang ia kenakan itu sudah membuktikan kalau lelaki tinggi tegap itu adalah seorang dokter.


"Iya aku dokter di rumah sakit ini, ngomong-ngomong siapa yang sakit" mereka berdua pun berjalan beriringan sambil mengobrol


"Nggak ada yang sakit kok dok, aku lagi nganterin kakak ipar ku periksa kandungan." Jawab Fina sedikit kikuk dan malu-malu


"Jangan panggil aku Dok, panggil aku Hamid saja."


"Baik dokter Hamid... Eh sorry... Hamid maksudku"


"Oya kalau boleh tahu berapa nomor ponselmu, siapa tahu saja kita bisa berteman"


"Oh boleh... boleh... Catat ya... 085 xxxxx"


"Oke udah aku save, thanks ya Fin... Aku duluan ya"


Fina pun mengangguk, sedangkan Hamid berbalik berjalan ke arah yang berlawanan, jadi lelaki itu tadi hanya berniat untuk berkenalan dan mengantarnya sampai di depan mini market saja.


"Dreettt... dreettt" handphone Fina berdering


"Halo Fin, kamu dimana? Aku sudah selesai ini"


"Masya Allah Is... Sampai lupa aku, ya sudah aku kesana sekarang"


Fina berbalik arah, ia tidak jadi masuk ke dalam mini market karena Aisyah sudah selesai memeriksa kandungannya dan sekarang tengah menunggunya.


Fina berjalan cepat memasuki area rumah sakit, dari kejauhan ia melihat Aisyah sedang mengobrol dengan seorang wanita.


"Itu siapa? Kenapa dia mau mendorong Aisyah" ujar Fina sambil berlari dengan hilsnya, ia takut wanita tak dikenal itu menyakiti Aisyah.


"Hei lepaskan tangan mu dari tubuhnya, siapa kamu? Beraninya mengganggu Aisyah" terang Fina sambil mengatur nafasnya, ia dengan emosi mendorong tubuh Rani dari depan Aisyah.

__ADS_1


"Kamu yang siapa, kamu nggak usah ikut campur urusan ku dengan wanita sok suci ini." Rani menaikkan nada bicaranya, ia geram karena tiba-tiba Fina mendorongnya sampai ia tersungkur. Dengan sigap ia segera berdiri dengan gaya arogansinya


"Kalau kamu berani menyakiti tubuh Aisyah sedikit pun, kamu akan berurusan dengan ku... Ingat nama ku Fina Hardja Diningrat." Terang Fina kembali mendorong dada Rani sampai tubuhnya terpental ke atas kursi. Rani diam tak bergeming ketika mendengar nama wanita itu dengan marga yang sama dengan nama mantan bosnya, yaitu Farid Hardja Diningrat.


"Jadi dia adiknya Farid, awas saja...


Akan ku hancurkan keluarga kalian" pekik Rani dengan kekesalan dalam hatinya


Fina lalu menarik tangan Aisyah, mereka berdua cergas meninggalkan wanita gila yang bernama Rani itu.


"Kamu nggak papa kan Is" tanya Fina khawatir, ia melihat kedua mata Aisyah merah sembab akibat menangis


Aisyah menggeleng sambil mengusap air mata di kedua pipinya


"Wanita gila itu siapa sih Is?" Tanya Fina lagi


"Dia Rani Fin, istrinya mas Anwar"


"Pantas saja, gayanya kampungan nggak berpendidikan begitu, tapi benar kan dia nggak menyakiti mu, tadi aku khawatir banget Is soalnya kamu kan lagi hamil, aku takut wanita gila itu berbuat yang nggak-nggak sama kamu"


Fina begitu mengkhawatirkan keselamatan Aisyah, Karena sahabatnya itu tengah mengandung dua janin kembar yang akan jadi keponakannya


"Nggak papa kok Fin, aku baik-baik saja. Ayo Fin aku capek banget" 


Aisyah dan Fina pun melangkah cepat menuju lobby, lalu mereka berdua bergegas menaiki mobilnya, kemudian Fina segera melajukan mobil sportsnya.


Di dalam mobil, Aisyah tampak memikirkan sesuatu. Ia bingung dengan tuduhan yang Rani lontarkan tadi, Rani memaki dirinya, ia menuduh dirinya dalang dari perceraiannya dengan Anwar.


Dan yang lebih parah lagi, ternyata Rani tidak mengandung, dia mengakui kebohongannya di depan dirinya


Tapi kenapa wanita gila itu malah membenci bayi yang dikandungnya, apa salah kedua janinnya, kenapa Rani ingin membunuh tiga nyawa sekaligus dengan mendorong tubuhnya. Untung saja Fina datang tepat waktu, syukurlah Aisyah terselamatkan jadi Rani tidak sampai mendorong tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2