
Setelah selesai mandi, Abang Al pergi ke kamar sang bunda, bersiap untuk menerima hukuman yang membosankan yang akan diberikan sang bunda.
"Bunda.. bun...nda..." Abang melangkah berjinjit mengendap-endap masuk celingukan mencari sosok sang bunda
"Ehkem....ehem... " deham Aisyah mengagetkan bang Al
"Bunda ngagetin aja"
bang Al menoleh, berlari memeluk sang bunda
Aisyah dengan sigap menggendong putra kecilnya yang sudah tumbuh menjadi anak yang bandel dan nakal, ia menciumi kedua pipi bang Al
"Bunda, Abang sudah besar, malu Bun kalau dicium begini" ucap Abang dengan expresi lucu dan menggemaskan, bang Al langsung mengusap pipinya dengan
"Hemh... kalau Abang merasa sudah besar, kenapa masih nakalin adek Zizah, anak baik itu nggak boleh seperti itu, harus mengalah dan jagain adiknya. Ini Abang malah ngerjain adiknya terus, dek Zizah di bikin nangis terus. Gimana bisa dibilang sudah besar Abang" terang Aisyah menuturi putranya, ternyata menjadi seorang ibu tidak mudah, harus extra double sabarnya
"Bunda hari ini nggak menghukum Abang kan?"
"Siapa bilang nggak ada hukuman, itu..."
Aisyah melirik ke arah meja, kedua netranya menunjukan pada bang Al, bahwa dua buah buku Al-Qur'an sudah ada di atas meja
"Akh... bunda... tuman"
kata bang Al mendengus kesal
"Abang tuh yang tuman, kebanyakan nonton TV sama main gadget. Sekarang ayo Abang ngaji dulu, biar pandai membaca dan mengartikan Al-Qur'an dengan baik dan benar" ajak Aisyah dengan nada mendayu-dayu menggoda putranya yang bandel itu
Bang Al memang agak kurang bersemangat ketika belajar Al Qur'an ataupun sholat, beda sekali dengan Azizah, diusianya yang ke lima tahun dia sudah hafidz Al-Qur'an dan dia juga sering ikut acara keagamaan dari mulai da'i cilik, acara lomba membaca surat-surat pendek, dan acara Islam lainya
Farid dan Aisyah memang mendoktrin kedua anak kembarnya untuk mendalami ilmu agama yang baik dan benar, semua itu untuk kebaikan keduanya, supaya kelak bisa membedakan jalan yang benar maupun yang salah. Mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya.
Tetapi mereka bingung, bagaimana cara mengajari putra kecilnya yang amat bandel dan nakal itu, kalau di daftarkan ke pondok pesantren, Abi Thalib melarangnya karena beliau begitu menyayangi Abang Al. Sejak kematian Umi, Abi merasa kesepian, dengan kehadiran Al yang sudah tumbuh menjadi anak yang lucu, ia merasakan ada teman hidup lagi. Al sudah bisa di ajak bercanda dan bermain, sungguh beliau sangat terhibur sekali
Abi memang menyayangi kedua cucunya, tetapi tak bisa terelakkan kalau beliau begitu condong ke Abang Al
Abang Al sangat mirip seperti almarhum Akhmad ketika kecil, bahkan wajah Albiru sama Akhmad kecil parasnya bagai pinang dibelah dua, itulah yang membuat Abi merasakan kebahagiaan hidupnya telah datang kembali
Kisah yang sangat memilukan kembali melanda keluarga Aisyah, khususnya Abi Thalib yang sampai sekarang masih hanyut dalam kesedihan batinnya. Kisah memilukan itu terjadi dua tahun lalu. Umi Fatimah istri tercintanya telah tiada, beliau mengalami komplikasi akibat tekanan darah tinggi dan juga pembengkakan jantung
Sejak saat itu Abi Thalib dan keluarganya merasa kehilangan sosok ibu yang sabar dan penyayang, kehidupan Abi Thalib kala ditinggalkan sang istri begitu menyedihkan, beliau juga sering sakit-sakitan, hingga akhirnya beliau terkena osteoporosis di usianya yang ke 64 tahun. Tetapi Alhamdulillah, setahun kemudian Abi kembali bisa tersenyum bahagia, itu semua berkat kedua cucu kembarnya. Si kembar yang sudah mulai pandai diajak ngobrol dan bercanda, membuat Abi terhibur oleh tingkah lucu keduanya
__ADS_1
"Assalamualaikum Bun, Hmh... bang Al nakal lagi ya?" sapa Farid yang baru saja pulang dari kantor, dia menaruh tasnya di atas nakas
"Waalaikumsalam Yah, ya begitulah Yah, bang Al suka banget nakalin adek Zizah, pusing aku yah" Aisyah mengadu pada suaminya, menatap kedua manik hitamnya dengan tatapan sayu
Farid masuk ke kamar mandi, lalu cuci tangan, kemudian keluar untuk mencium kening Aisyah dan Albiru
"Hehehe sabar ya sayang, sini bang Al biar ayah' yang ajarin" kata Farid menggendong putra jagoannya dari tubuh istrinya
"Abang nggak malu ya, masak kalah sama adek Zizah, Abang juz tiga aja nggak selesai-selesai bagaimana nanti mau masuk sekolah Al Azhar bang" tutur Farid menurunkan putranya di sofa.
Farid kembali ke kamar mandi untuk berwudlu, kemudian ia kembali ke sofa untuk memulai ngajinya
"Abang, Sekarang giliran Abang" setelah selesai melantunkan surat Al-fatihah dan Al Baqarah, Farid meminta gantian bang Al yang membaca
"Ake Yah, siap deh A'uudzu billaahi minasy-syaithoonir rojiim
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Alḥamdu lillāhi rabbil'ālamīn
Ar raḥmānir raḥīm
Māliki yaumid dīn
Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn
Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm
__ADS_1
Sirāṭallażīna an'amta 'alaihim gairil-magḍụbi 'alaihim wa laḍ ḍāllīn.
sodaqallahullazim, amiiiiinnnnn
Farid terkejut, kok bang Al cuma baca surat Al Fatihah saja, kemudian ia berkata "Bang Al ayo baca surat Al Baqarah, Ayah mau dengar"
"Hehehe, sudah yah, besok lagi ya? Al kebelet mau ke kamar kecil dulu" bang Al. langsung mengambil ancang-ancang, pura-pura tak bisa menahan pipis, dia lalu berlari keluar
"Kenapa harus pipis di luar, kan disini juga ada kamar mandi, astaghfirullah hal adzim putraku yang satu ini sungguh buandel sekali" keluh Farid sambil tersenyum tipis, ia menyadari bang Al memang bandel, mirip seperti dirinya sewaktu kecil sering sekali bolos ngaji.
"Bang Al.. selalu begitu yah, bikin darah tinggi" kata Aisyah mendekati suaminya
"Bunda udah nyiapin air hangat buat Ayah, ayah' mandi dulu gih" kata Aisyah dengan ukiran senyum di bibirnya
"Terimakasih sayang, jangan terlalu dipikirkan ya, Abang kan masih kecil, nanti kalau sudah dewasa pasti bisa membedakan mana yang terbaik. Ayo mandi bareng.. sayang" terang Farid sambil mencium bibir Aisyah, berusaha menggoda istrinya yang masih terlihat cantik dan awet muda. Sekarang tubuh Aisyah sudah langsing seperti dahulu, meskipun lekukannya tak indah seperti dahulu, tetapi Aisyah masih terlihat anggun dan cantik dengan penampilan syar'i nya
"Hemh... buruan Yah, nanti airnya keburu dingin" Aisyah mendorong pelan punggung suaminya
"Cium lagi"
Farid kembali berbalik badan, kembali melontarkan kecupan di bibir manisnya.
Aisyah tampak tersenyum bahagia mendapatkan keromantisan sang suami
__ADS_1