Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Malam pertama (Romantis)


__ADS_3

Di kediaman Farid.


Farid langsung membopong tubuh Aisyah ke dalam kamarnya.


"Cie yang udah sah...!" Goda Fina menggeleng tak percaya dengan sikap kakaknya yang sok romantis.


"Mas Farid turunin dong... Aku malu sama Fina" terang Aisyah dengan wajah merah merona seperti tomat.


Tanpa menjawab Farid melangkah cepat menaiki anak tangga, lalu ia membuka pintu kamarnya dengan  masih membopong tubuh Aisyah.


"Hei kalian cepat kasih aku keponakan yang lucu-lucu loh ya" teriak Fina dari lantai bawah. Ia sangat bahagia sekali, akhirnya kakaknya yang sudah berusia 33 tahun itu telah melepaskan masa lajangnya.


Di dalam kamar, Farid menurunkan tubuh Aisyah dengan hati-hati.


Kemudian ia berlari ke pintu untuk mengunci pintunya.


"Mas Farid tidak capek?" Tanya Aisyah tersenyum simpul, betapa lucunya melihat tingkah lucu suaminya.


"Tidak" jawabnya singkat, ia memapakkan duduknya di depan kekasih halalnya.


"Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan sayang?" Tanya farid


Rona pipi Aisyah langsung memerah, dengan tersipu malu ia mengangguk pelan.


"Sayang sekarang kita sudah sah menjadi suami istri. Bolehkh aku memegang wajah cantik mu." tanya Farid yang tengah duduk berhadapan dengan Aisyah di atas ranjang big size-nya.


Aisyah dengan malu-malu menganggukkan kepalanya lagi. Ia merasakan sentuhan tangan kekar Farid yang begitu lembut. Ia menatap wajah tampan suaminya tanpa berkata satu patah kata pun.


"Sayang apa boleh aku mencium mu" ucap Farid lagi, dan lagi-lagi Aisyah hanya mengangguk tersipu malu. Sebenarnya dihatinya ada perasaan takut untuk melakukan hubungan suami istri, ia takut akan teringat sosok  lelaki yang pernah menjadi suaminya. Tetapi  ia kembali berfikir, ia tidak mungkin menolak hubungan ini karena ia tidak ingin menjadi istri durhaka yang tak mau melayani suaminya.


Farid menghela nafasnya, ia menatap wajah istrinya yang terlihat ragu-ragu. Kemudian ia mengajak Aisyah untuk shalat dua raka'at sebelum berhubungan intim. Memang sebelumnya kiyai yang membimbingnya sudah memberikan arahan kepadanya, kalau sebelum melakukan hubungan suami istri harus melakukan shalat dua rakaat dan juga mengucapkan doa sesuai tuntunan Rasulullah.


Hal inilah yang membuat hati Aisyah lebih tenang dan nyaman dengan sosok suaminya. Meskipun Farid baru mendalami agamanya, tetapi saat berhubungan pun ia masih mengikuti tuntunan sesuai syariat Islam.


Setelah selesai menjalankan syari'atnya.


Farid kembali membopong tubuh Aisyah ke atas ranjang,  perlahan ia memiringkan wajahnya mendekat pada bibir indah istrinya. Kemudian Ia mengecup lembut bibir mungil itu. 


"Apa kamu sudah siap untuk ke tahap selanjutnya, maaf kalau aku terlalu memaksamu." Tanya Farid memegang kedua pipi Aisyah 


"I...iya mas...!" ucap Aisyah terbata bata. Perasaan malu, gugup sekaligus bahagia.


"Kita lakukan pelan-pelan saja ya. Hehehe tak usah khawatir, aku tak akan memakanmu seperti singa yang telah lama kelaparan." Tutur Farid sambil mencium kening Aisyah.


Perlahan bibir Farid menempel pada bibir tipis Aisyah, kecupan hangat itu begitu menghangatkan tubuh keduanya.


Desahan panas keluar dari mulut Farid, tangannya perlahan mulai menurunkan resleting gaun pengantin yang dipakai istrinya, mencium tengkuknya sampai ke punggung mulusnya, seketika tubuh Aisyah menegang oleh kecupan lembut serta sentuhan suaminya


Pelan-pelan Farid membaringkan tubuh Aisyah yang yang sudah tak tertutup kain, ia menyusuri lekuk tubuh istrinya dengan sentuhan bibirnya, tangan nakalnya mulai melepaskan kancing pengait yang menutupi kedua gundukan di dada istrinya. Dengan nafas panasnya, ia mulai menikmati hubungan halalnya. Erangan demi erangan keluar dari mulut mereka berdua. Mereka pun mulai hanyut oleh nikmatnya surga dunia.


Usai melakukan malam pertamanya,


Farid langsung membalikkan tubuhnya di samping Aisyah, ia memiringkan tubuhnya lalu memeluk tubuh indah istrinya.


Tangannya memeluk Aisyah


"Makasih ya sayang... aku bahagia banget, akhirnya aku bisa menikahimu dan melakukan hubungan halal ini" bisik Farid di telinga istrinya seraya memejamkan matanya karena sudah lemas kecapekan, karena malam pertamanya ia lakukan usai perjalanan jauhnya.


"Sama-sama mas, aku ke kamar mandi dulu ya" terang Aisyah tersenyum manis menatap wajah suaminya, betapa bahagianya ia bisa melayani suaminya dengan hati yang ikhlas dan Alhamdulillah tidak terselip sedikit pun oleh sosok Anwar mantan suaminya.


Perlahan Aisyah menyisihkan tangan suaminya dari tubuhnya, ternyata suaminya sudah tertidur pulas. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi. Mengisi bathtub dengan air hangat, lalu ia masuk ke dalam bathtub yang sudah terisi penuh air hangat, ia mulai berendam membersihkan tubuh lengketnya.




Tak terasa sudah satu bulan usia pernikahan Aisyah Dengan Farid.



Farid selalu menyayanginya dengan penuh cinta dan kasih sayang. 



Aisyah juga sangat berperan penting dalam menjaga rumah tangganya, meski sejak menikah ia tidak diperbolehkan bekerja, ia selalu menghormati keputusan suaminya.



"Sayang aku berangkat dulu ya?" Terang Farid sambil memeluk tubuh  Aisyah dari belakang.



Ia tak pernah membayangkan ternyata sosok suaminya adalah tipe orang yang super perhatian dan romantis.



"Kak... Nggak malu apa sama aku...! Jiwa jombloku meronta tau" kata Fina sengil, setiap pagi kedua netranya selalu disuguhkan dengan kemesraan kakaknya



"Cepat habiskan makanan mu... Dan cepatlah berangkat ntar kamu telat loh" titah sang kakak, dengan masih memeluk tubuh Aisyah ia berbisik



"Aku mau lagi sayang"



"Ya udah aku berangkat dulu, puas-puasin kemesraan kalian di belakang ku" terang Fina dengan raut wajah kesalnya

__ADS_1



"Fin ini bekalnya lupa" Aisyah melepaskan pelukan Farid, ia melangkah mendekati Fina, kemudian memberikan kotak bekal itu untuk adiknya. Sejak menikah memang Aisyah selalu membuatkan bekal untuk makan siang suaminya dan adik iparnya.



Fina pun segera mengambil tas yang berisi kotak nasi tersebut



"Hari ini apa menunya Is?" Tanya Fina dengan senyum dekik ciri khasnya.



"Nasi goreng seafood Fin" jawab Aisyah juga dengan senyum sumringahnya



"Wah enak nih... Jadi nggak sabar pengen makan" terangnya lagi



Fina sungguh bahagia mendapatkan kakak ipar yang super baik seperti Aisyah, meskipun sudah menikah dengan kakaknya, ia bisa membagi perhatiannya padanya.



"Ya udah aku berangkat dulu ya... Assalamualaikum"



"Waalaikumsalam" jawab Aisyah dan Farid serentak



Akhirnya kesempatan untuk berduaan datang juga. Ia kembali memeluk tubuh Aisyah dari belakang



"Mas Farid geli ah..!" Ucap Aisyah merasa bulu kuduknya berdiri ketika Farid mencium tengkuknya.



"Aku mau lagi sayang... Ayo ke kamar" Farid langsung membopong tubuh Aisyah naik ke lantai atas.



"Mas... Kamu sayang banget ya sama aku?" 



"Tentu dong sayang, kamu itu bidadari surgaku, ibarat kata kamu itu secercah cahaya yang menerangi hati ku"




"Ya dong... Biar Humaira ku ini selalu bahagia"



Kedua pipi Aisyah langsung merona tersipu malu, ada kebahagiaan tersendiri saat Farid memanggilnya dengan sebutan sayang layaknya Rasullullah kepada istrinya Siti Aisyah



"Mas turunkan aku, nanti kamu telat loh"



"Ya nggak bakalan telat dong sayang, kan aku direkturnya"



"Ya maksud ku sebagai direktur mas harus memberikan contoh yang baik kepada para karyawan kan"



"Tunggu sepuluh menit lagi, ntar aku pasti berangkat"



Tibalah di kamar mereka, Farid menurunkan tubuh istrinya menduduki sisi ranjang



"Sayang... Terimakasih ya"



"Terimakasih untuk apa mas"



"Terimakasih karena kamu sudah menerima segala kelebihan dan kekurangan ku, tolong kalau kamu tidak menyukai apapun dari sikapku yang menurut mu salah, kamu bisa menegurku sayang"



"Iya mas, Insya Allah"


__ADS_1


Kemudian Farid mencium kening istrinya dengan penuh kelembutan.



"Sudah... Cepatlah berangkat mas" terang Aisyah ia membalas kecupan suaminya dengan mengecup bibirnya.



"Cup ..cup



..cup..cup..." Empat kecupan langsung mendarat di bibir mungil Aisyah



Paras cantik Aisyah kembali memerah, ia bergegas turun mengantarkan suaminya sampai ke depan pintu.



"Ini tasnya mas" Aisyah memberikan  tas kerja suaminya dan juga bekalnya.



"Terimakasih sayang... Aku berangkat dulu ya"



Aisyah langsung mencium punggung tangan suaminya, kemudian suaminya kembali mengecup keningnya



"Ingat kalau kemana-mana harus pakai supir, jangan jalan kaki lagi" titah Farid melarang istrinya untuk bepergian seorang diri, apalagi Aisyah sering sekali pergi ke pusat perbelanjaan dengan berjalan kaki. Farid hanya mengkhawatirkan keselamatan istrinya saja.



"Baik mas... Hati-hati di jalan ya mas" kata Aisyah mengangguk



"Assalamualaikum"



"Waalaikumsalam"



Aisyah melambaikan tangannya pada suaminya yang sudah berlalu dengan mengendarai mobilnya.



"Terimakasih ya Allah engkau telah menganugerahkan suami yang baik seperti mas Farid, semoga Engkau selalu meridhoi hubungan kami" doa Aisyah begitu mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepada nya.



🍁🍁🍁



Keadaan rumah tangga Aisyah memang tampak harmonis, hal itu begitu berbeda dengan rumah tangga Anwar yang selalu dibayang-bayangi dengan pertengkaran. Anwar tampak kewalahan menghadapi istrinya yang terlalu cemburuan dan selalu membantah itu.



Kehidupan yang tidak pernah terbayangkan, sangat berbanding terbalik dengan kehidupannya bersama Aisyah dahulu.



Rani selalu mengekangnya, terlalu over protektif padanya, dan tidak pernah mempercayai setiap tutur katanya. Dan yang paling dibencinya ialah Rani tidak pernah menghargai dirinya sebagai kepala rumah tangga.



"Sayang aku berangkat dulu ya" kata Anwar



"Emh" jawab Rani tanpa memandang sang suami, ia tampak sibuk dengan layar ponselnya, itulah kebiasaan buruk Rani setelah Anwar melarangnya bekerja. Ia hanya sibuk dengan belanja onlinenya, dan juga berfoya-foya bersama rekan-rekannya.



Anwar pun pergi dengan hati yang terenyuh



"Ya Allah apa ini hukuman ku karena telah menyakiti hati wanita berhati malaikat seperti Aisyah... Tolong sadarkanlah istri ku ya Allah, aku ingin dia menjadi istri yang baik dan shalihah seperti Aisyah"



Ada penyesalan yang mendalam yang masih membekas di hatinya. 



Akankah Anwar bisa bertahan dengan rumah tangga yang seperti itu?



Ataukah harapannya untuk mendapatkan keturunan segera terkabulkan?


__ADS_1


\*\*\*\*Nantikan chapter selanjutnya... Terimakasih sudah setia menemani cerita Aisyah... Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah, dimudahkan pintu rezekinya, serta diberkahi dengan kesehatan.\*\*\*


__ADS_2