Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Kedatangan Anwar


__ADS_3

"Yah... ayah" panggil Abang dengan expresi ketakutan. Ia takut ayahnya akan menghukumnya


"Apa?" jawab Farid tegas


"Abang nggak salah Yah, Abang nggak sengaja copotin tangan Barbienya adik, dan Abang juga nggak.... eh... yang ini Abang salah yah, Abang sengaja nempelin permen karet di tangan adik Zizah. Maaf yah" tutur Abang jujur dengan kenakalannya


"Abang sudah tahu letak kesalahannya dimana? lalu kenapa masih nakalin adik, apa Abang senang lihat adik Zizah sedih dan menangis?" tanya Farid masih menggendong tubuh Abang Al. Meskipun dirinya tengah marah, tetapi ia masih bisa memakluminya, bagaimanapun putranya masih kecil, dengan berkata jujur dan mengakui kesalahannya saja. Hal itu sudah patut diacungi jempol. Ia senang putranya memiliki jiwa kejujuran yang tinggi.


"Abang nggak nakalin adik yah, Abang loh cuma main-main biasa aja, lucu-lucuan gitu loh yah. Tapi adik malah nangis, huh.... nggak enak yah punya adik perempuan, aku mau adik laki-laki yah." rengek Abang Al


Farid langsung tak bergeming, bibirnya terasa kelu oleh penuturan Abang Al.


"Ayah kok diam ?" tanya Abang lagi


"Abang ngomongnya ngaco, sekarang Abang Duduk disini, tungguin ayah selesai mandi" pinta Farid sambil menurunkan putranya di atas sofa


Abang Al duduk menunggu di atas sofa, dia merasa bosan dan gelisah


"Ah ayah ngeselin" kata Abang Al mendengus kesal



Keesokan harinya suasana rumah Farid sudah  hingar bingar karena kegaduhan di kembar yang lagi kejar-kejaran, mereka berdua tampak girang bermain lari-larian.



Tiba-tiba Anwar datang membawa dua paper bag yang berisi mainan mobil-mobilan dan boneka Teddy bear



"Assalamualaikum" Anwar berjalan menghampiri si kembar



"Om ini siapa?" tanya si kembar bingung lalu mereka berlari menjauh sambil berteriak memberi tahu sang bunda "Bun, ada orang asing"



Aisyah yang tadinya asik membaca majalah islami, ia langsung mendongak menatap kedua putranya "Itu Bun orang asing" Abang Al dengan cergas menoleh dan menunjuk ke arah Anwar



"Mas Anwar" Aisyah menatap manik hitam lelaki yang berjalan lima meter dari tempatnya



"Bunda kenal?" tanya Abang Al sedangkan Azizah yang ketakutan tampak bersembunyi di dekapan sang bunda



Azizah memang memiliki sikap yang pemalu dan kurang bisa bersosialisasi dengan orang baru



"Sayang itu Om Anwar, kalian pasti sudah lupa, Om Anwar pernah main ke rumah kita, pas kalian baru lahir dan kalian berumur satu setengah tahun. Dulu kalian suka sekali bermain dengan Om Anwar" terang Aisyah menjelaskan siapa gerangan lelaki jangkung berparas tampan yang berjalan mendekati mereka.



Anwar sudah semakin dekat, akhirnya si kembar pun menoleh dan melihat sosok Anwar dari ujung kaki sampai ujung rambut


__ADS_1


"Ada apa dek? kok si kembar lari melihat ku. Nggak terasa kalian berdua sudah besar ya, ini Om Anwar punya hadiah untuk kalian" Anwar memberikan paper bagnya pada si kembar



"Mas Anwar gimana kabarnya, Abang Adek ayo Salim dulu sama Om Anwar" setelah mengambil hadiahnya, mereka berdua mencium tangan Anwar



"Terimakasih hadiahnya Om Anwar" ucap Azizah



"Makasih ya Om" jawab Abang Al juga



"Sama-sama anak manis" jawab Anwar sembari menciumi kening si kembar secara bergantian



"Mari silahkan masuk mas" kata Aisyah mempersilahkan masuk.



Selama empat tahun ini Anwar di tugaskan Farid untuk memimpin kantor cabang di Surabaya, selama bercerai dengan Rani dan mendapatkan kabar kematian Rani, ia belum membuka hatinya kembali untuk perempuan lain.



Anwar lebih menikmati masa dudanya, dan tak terbesit sedikitpun dibenaknya untuk menikah lagi. Mungkin karena trauma dengan pernikahannya yang pernah gagal dua kali, membuatnya enggan untuk menikah lagi



Hari itu, Anwar berada di Jakarta karena mendapat panggilan dari kantor pusat. Kantor cabang di Surabaya yang dikelolanya mendapatkan loyalty yang cukup besar, selama dua tahun ini Anwar bisa menembus pasar saham yang lumayan besar. Bahkan beberapa klien perusahaan juga mengakui keuletan dan kerja keras Anwar




"Yah... yah... mas Anwar sudah datang" teriak Aisyah dari lantai bawah, ia berjalan masuk sambil menggandeng kedua tangan putranya



"Mas Anwar silahkan duduk, mungkin ayahnya anak-anak lagi mandi. Sebentar ya mas" ucap Aisyah melangkah ke arah dapur



Sedangkan Abang Al dan adik Zizah menghampiri Anwar lalu duduk di pangkuannya, Anwar mulai bercanda tawa bersama mereka. Si kembar juga tampak nyaman dekat dengan Anwar, mungkin karena Anwar tulus dengan kasih sayangnya terhadap anak-anak.



"Ema tolong buatkan teh untuk tamu di depan ya, aku mau ke kamar dulu" pinta Aisyah dari balik pintu dapur, ia kemudian beranjak naik ke lantai atas untuk memberitahu suaminya kalau Anwar sudah menunggunya di ruang tamu



"Ini tehnya pak" kata Ema membungkuk sembari menyajikan secangkir teh untuk Anwar



"Mbak Ema duduk sini" tiba-tiba Abang Al menarik lengan Ema, membuat Ema terduduk di samping tubuh Anwar, lengannya juga tak sengaja bertatapan dengan lengan Anwar


__ADS_1


"Kamu nggak papa" ucap Anwar menatap manik hitam terang milik Ema



"Nggak papa pak, Maaf, saya permisi dulu" kata Ema bergegas ke dapur



Setelah meloloskan pandangannya dari sosok wanita yang santun dan lugu itu, ia kembali menatap si kembar, bermain tepuk-tepuk dengan mereka berdua



"Om... Om Anwar suka nggak sama mbak Ema" celetuk Abang Al dengan polosnya, wajah jahilnya mulai terlihat oleh Anwar



"Hust... anak kecil nggak boleh ngomong begitu, Abang Al dah mulai pinter ya, tetapi Abang nggak boleh bertanya seperti itu... Oke" tutur Anwar sambil melekukkan jemarinya membentuk huruf Ok.



"Abang Al nakal ya Om, tenang saja Om, nanti Adek aduin ke ayah biar Abang dihukum" seru Azizah juga dengan wajah polosnya



"Dasar tukang ngadu" olok Abang Al sinis



"Eh...eh.. nggak boleh bertengkar, kalian berdua kakak beradik harus rukun ya, ntar kalau rukun Om bakal kasih hadiah yang banyak untuk kalian berdua"



Lekuk senyuman Anwar menghiasi bibir tipisnya



"Beneran Om" tanya Abang



"Iya bener"



"Ye...eee..." Azizah turut bersorak girang



"Adek mau bilang ayah ah, Om Anwar baik banget mau kasih hadiah boneka yang banyak" kata Azizah langsung merosot turun dari pangkuan Anwar, Zizah berlari menaiki anak tangga



"Mbak... Mbak E...ma" teriak Abang Al dengan nada mendayu-dayu



"Ada apa Abang Al, Abang mau dibuatkan susu ya?" Ema langsung berlari keluar, sambil mengatur nafasnya, ia menjawab teriakkan Abang Al



"Sini deh mbak, aku bisikkin" kata Abang sambil melambaikan tangannya

__ADS_1



Kira-kira kejahilan apa lagi yang akan dilakukan Abang, next tunggu chapter selanjutnya ya, di chapter selanjutnya jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya


__ADS_2