
Di Kediaman Farid
Setelah usai makan malam bersama Umi dan Fina, Aisyah masuk ke dalam kamarnya.
Tiba-tiba hatinya merasa tak nyaman, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.
"Prank " foto suaminya di atas nakas terjatuh begitu saja.
"Ya Allah firasat apa ini, tolong lindungilah suamiku di manapun ia berada, aku mohon berikanlah jalan kebaikan di setiap langkahnya" gumam Aisyah sembari duduk memungut foto suaminya, dengan paras gelisah ia memohon yang terbaik untuk suaminya
Aisyah berjalan ke luar, ia meminta Ema untuk membersihkan sisa-sisa pecahan bingkai foto suaminya.
Setelah Ema keluar, di dalam kamar Aisyah kembali duduk termenung dengan menyangga dagunya dengan telapak tangannya, ia terus menatap wajah suaminya dari lembaran foto yang ada di tangan satunya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mas Farid, kanapa mas Farid tidak bisa dihubungi" gundahnya lagi, sudah berkali-kali ia mencoba ?menelfon suaminya, tetapi nomornya tidak aktif.
Karena hatinya semakin gelisah, Aisyah bergegas menunaikan sholat istikharah. Ini adalah solusi untuk menenangkan hati dan pikirannya.
Di setiap doanya ia selalu menyebut nama suaminya, memohon untuk memberkati setiap langkah dan keputusan yang terbaik untuk nya. Dan dijauhkan dari segala hal yang buruk dan dzolim.
Dan apabila benar terjadi kedzoliman semoga Allah senantiasa menolongnya, memberikan petunjuk yang terbaik untuknya, sekaligus berpasrah diri pada takdir yang belum mereka diketahui
" Allah, Engkau adalah yang mencukupi orang yang bertawakal kepadanya dan yang menyandarkan kepadanya, yaitu Dia yang memberi dari ketakutan kepada orang yang takut, Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dan barangsiapa yang berlindung kepada-Nya dan meminta pertolongan dari-Nya dan bertawakal kepada-Nya, maka Allah akan melindunginya, menjaganya, dan barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan membuat nyaman dan tenang dari segala sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan, dan Allah akan memberikan segala macam kebutuhan yang bermanfaat. ” (Taisirul Azizil Hamidh: 503)
Hati seseorang istri memanglah peka, karena sepenggal jiwanya telah menyatu dengan suaminya. Apapun setiap masalah yang dihadapi suaminya, seorang istri juga bisa merasakannya. Pasangan suami istri yang demikian lah, yang akan berjodoh di dunia akhirat
"Dreettt.,.. dreettt"
Aisyah segera mengambil benda pipih di atas nakas, gawainya berdering, sepertinya itu adalah telepon dari Farid
"Mas Farid, Alhamdulillah doaku kau dengar ya Allah" gumam Aisyah senang melihat *video call* dari suaminya
"Halo assalamualaikum mas, mas Farid tidak papa kan?" tanya Aisyah sedikit khawatir ketika melihat wajah suaminya yang tampak pucat pasi
"Nggak papa sayang, kepala ku cuma sedikit pusing, sepertinya aku kecapekan sayang" jawab Farid lesu
"Cepat minum obat mas, dimana mas Sony aku mau bicara sama dia"
"Sony dikamar sebelah, jangan khawatir begitu sayang, mas nggak papa kok, mas Farid cuma kangen pengen liat senyuman mu dan mata indahmu sayang" lelaki pucat itu tampak memancarkan binar bahagia ketika melihat paras wanita yang ia sayangi
__ADS_1
"Mas Farid, jangan lupa makan sama minum obat ya, Ais juga merindukan mu mas, semoga keadaan mas cepat membaik ya" Aisyah menjawab dengan embun yang tertahan di kelopak matanya, ia sedih karena disaat suaminya sedang sakit, ia tak bisa merawat sang suami, jarak yang memisahkan mereka berdua, membuatnya semakin khawatir dengan kondisi kesehatan suaminya
"Sayang jangan sedih ya, mas nggak papa kok, mas juga sudah menelfon Sony untuk membeli obat, sebentar lagi pasti dia datang" ujar Farid mencoba menenangkan istrinya, ia tak mau Aisyah terbebani oleh sakitnya, apalagi kondisinya tengah berbadan dua juga "Sayang aku janji, setelah minum obat pasti sembuh, jangan terlalu dipikirkan ya, kasihan si kembar nanti juga ikut sedih" imbuhnya lagi
Aisyah segera mengusap bulir bening yang menitik dari pelupuk matanya, "Janji ya mas, kalau mas Farid sakit Ais juga ngerasain sakit juga"
"Iya sayang, mas Janji setelah ini mas akan makan yang banyak setelah itu minum obat dan istirahat. Sekarang senyum dulu ya Humaira ku"
Aisyah pun mengukir senyum tipisnya dan berkata "Semoga cepat sembuh suamiku"
"Amin, terimakasih Humaira. Mas tutup dulu,nanti malam mas *video call* lagi"
"Assalamualaikum"
Farid menutup panggilan videonya.
Aisyah masih duduk terpaku dengan gawai didadanya, dalam hati ia tak henti mendoakan kesembuhan suaminya
"Ya Allah angkatlah penyakit Suamiku, sembuhkanlah dia dari rasa sakitnya, berikanlah ketenangan di hati ku dan juga suamiku"
Rasa gelisah terus mendera hatinya, terkadang seorang istri harus menanggung beban kepedihannya, disaat terpisah dari orang tercinta, Allah memberikan cobaan melalui sakitnya
"Tok...tok"
Terdengar suara ketukan pintu, Aisyah langsung mengusap kembali pipi basahnya, sambil melangkah ke pintu ia membenarkan jilbabnya.
__ADS_1
"Nyonya saya disuruh nyonya besar untuk mengantarkan bubur dan susu ini" seru Ema yang sudah berdiri di depan pintu sambil menyangga nampanya
"Terimakasih Ema, tolong kamu taruh di meja ya, aku masih belum lapar"
"Loh nyonya kan dari pagi belum makan, tolong dimakan sekarang nyah, mumpung masih hangat, kalau nanti nyonya sakit, saya bisa dimarahi tuan Farid" Ema tampak perhatian dengan Aisyah, ia takut kalau Aisyah tidak mau makan kesehatan kedua janinnya akan terganggu. Apalagi Farid sudah memberikan mandatnya. untuk merawat Aisyah sebaik mungkin
"Tapi aku nggak nasfu makan, nanti saja ya" jawab Aisyah kembali mengelak perkataan Ema
"Minum susunya saja ya nyah"
Ema memberikan segelas susu itu untuk Aisyah, karena merasa dipaksa oleh Ema akhirnya ia meminum susunya sampai habis. Aisyah menyadari bagaimana pun juga ia harus mengisi perutnya yang kosong, apalagi dalam rahimnya juga ada kedua janinnya yang membutuhkan nutrisi untuk pertumbuhannya.
"Maaf ya Ema, aku merepotkan mu" kata Aisyah tidak enak hati karena menolak perhatian yang Ema berikan, karena terlalu khawatir dengan kondisi suaminya, Aisyah jadi kurang berselera makan.
Padahal biasanya setiap pagi setelah sholat subuh ia selalu minta dibuatkan bubur ayam, dan paginya setelah aktivitas kecil ia kembali sarapan pagi bersama yang lainya. Tetapi hari ini berbeda, sedari subuh sampai sekarang perut Aisyah belum terisi nutrisi sedikit pun
"Nyonya tidak perlu minta maaf, ini sudah jadi tugas saya untuk merawat nyonya. Setelah ini tolong dimakan buburnya ya nyah, kasihan dedek bayinya kalau nyonya tidak mau makan"
Aisyah mendengar penuturan Ema dengan rasa empatik, ia menunduk mengelus perutnya yang sedikit buncit dan ia berkata dengan nada lirihnya "Sayangnya bunda, maafin bunda ya, ayo sekarang kita makan ya sayang"
Aisyah pun segera duduk di sofa, Ema tampak bahagia melihat majikannya makan dengan lahap, meskipun ia melihat paras majikannya yang tampak kurang bahagia, ia akan berusaha untuk menghiburnya
Tanpa berbicara Ema segera keluar pintu, ia pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu untuk Aisyah
Setelah itu Ema kembali ke kamar Aisyah, ia melihat mangkuk besarnya sudah kosong, itu artinya Aisyah sudah menghabiskan makanannya
__ADS_1