
Menikah Yang Ke-dua
Chapter 12
Farid dan Anwar mulai membahas dokumen yang Farid minta, ia senang dengan cara kerja Anwar yang cerdas dan memiliki semangat yang tinggi.
Di ruangan suaminya Rani tampak ngomel-ngomel sendiri, ia masih terngiang-ngiang masalah tadi pagi, saat Farid membentaknya di depan seluruh karyawan.
"Sayang kamu kenapa marah-marah begitu" tanya Anwar sembari memeluk istrinya dari belakang
"Aku kesel banget mas sama pak Farid, aku malu mas, seumur umur baru kali ini aku dipermalukan di depan orang banyak" kata Rani dengan mencebikkan bibir merahnya
Anwar mengelus rambut istrinya "Sabar sayang, jangan diambil hati ya, mungkin kharakter pak Farid memang seperti itu. Kalau sudah tahu begini kita harus lebih hati-hati sayang, jangan sampai dia tahu hubungan kita, selama di kantor kita harus menjaga rahasia ini dari pak Farid" jelas Anwar
"Ini tangan ngapain gerayangan sih mas, katanya mau jaga rahasia hubungan kita, tapi nyatanya mas Anwar nggak tahan ya hehehe" ucap Rani sembari menyisihkan tangan suaminya dari dadanya.
" Emh... Iya sayang, aku nggak bisa jauh-jauh dari mu, bawaannya pengen dekat terus" goda Anwar, ia mencium bibir merah istrinya
__ADS_1
"Mas udah ntar ketahuan bos galak kita loh" kata Rani menghentikan aksi suaminya.
Mereka berdua memang sudah terbiasa bermesraan sejak Anwar masih sah menjadi suami Aisyah. Apa lagi pak Bayu pimpinan yang dulu juga mengetahui hubungan mereka, pak Bayu tak pernah melarang mereka bermesraan di kantor karena Rani menyimpan rahasia besar yang disembunyikan olehnya dan bos lamanya itu.
"Iya... Iya... Ingat ya sayang, kamu jangan ceroboh lagi seperti tadi pagi" ucap Anwar mengingatkan istrinya.
Tok...tok...tok...!
"Pak Farid..." Kata Anwar terkejut, untung saja saat mendengar ketukan pintu, ia mundur dua langkah dari posisi istrinya
"Pak Anwar ini dokumennya, secepatnya kirim ke klien kita." Titah Farid
"Saya permisi dulu pak." Ucapnya sembari melangkah cepat ke luar ruangan suaminya
Setelah Rani meninggalkan tempat itu, Farid mulai mengobrol dengan Anwar
"Pak Anwar besok jam satu siang, ikut saya meeting bersama investor dari Surabaya ya. Pak Anwar tidak usah mengajak sekertaris kecentilan itu"
__ADS_1
Farid memang tidak menyukai Rani sejak awal, keduanya Rani itu wanita yang kecentilan dan suka mencari perhatian.
"Baik pak" Jawab Anwar singkat, ia sedikit tersinggung dengan perkataan bosnya yang merendahkan istrinya. Bagaimana pun ini sudah menjadi pilihannya dengan Rani, jadi ia harus ikhlas menerima konsekuensinya.
Jam kerja sudah usai, Anwar terpaksa harus meninggalkan istrinya di kantor karena Farid berjalan keluar dari kantor bersamanya. Anwar mengedipkan matanya ketika berpapasan dengan Rani, Rani mengerti isyarat yang dimaksud suaminya. Dengan wajah cemberut akhirnya ia pulang sendirian naik taksi.
Ketika sampai di rumah, ia marah-marah dengan Anwar, ia kesal karena situasi kantor yang sudah membuatnya tak nyaman. "Mas Anwar harus lakuin sesuatu mas, aku bisa gila kalau bos galak itu tetap tak memihak kita. Sekarang kita tak bisa bebas lagi mas" terang Rani dengan kemarahannya
"Sabar sayang, kalau memang sudah tak nyaman di kantor, kamu berhenti kerja aja ya? Aku lebih senang kamu dirumah, cukup nglayanin aku aja sayang" pinta Farid, ini adalah kesempatan emasnya untuk membuat istrinya mengundurkan diri dari kantornya
"Nggak mas, sekali enggak mau aku tetep nggak mau. Aku nggak mau jadi wanita udik kaya Aisyah, aku nggak mau mas Anwar punya sekertaris baru. Pokoknya mas Anwar cuma milik aku seorang" terang Rani tetap kekeuh, akhirnya ia mengutarakan alasannya yang sebenarnya.
"Masya Allah sayang, aku sudah jadi milikmu seutuhnya, bahkan aku sudah menceraikan Aisyah demi kamu. Kenapa kamu masih tak mempercayai ku..!" Kata Anwar kesal, ia tak menyangka Rani sangat berambisi memiliki dirinya seutuhnya, sikap cemburuan yang berlebihan itu muncul begitu saja setelah ia sah menjadi suaminya, hal tersebut menjadi sesuatu yang tak disukai Anwar. Ia kecewa dengan sikap Rani yang terlalu berlebihan
"Mas Anwar nggak usah munafik, dulu saja mas Anwar bisa tergoda dengan ku. Itu tak menutup kemungkinan mas juga tergoda dengan sekertaris barumu nanti" Rani berbicara dengan nada keras yang disertai kemarahan.
Itu membuat Anwar menarik nafas dalam "Terserah kamu aja, aku pusing" ucap Anwar pasrah, ia bergegas masuk ke dalam kamar
__ADS_1
"Mas tunggu, jangan pergi aku masih mau bicara sama kamu" teriak Rani.
Anwar tak menghiraukannya, ia malah membanting pintu kamarnya dengan kasar "Braakkkkk"