Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Terjebak dalam kegelapan


__ADS_3

Aisyah sudah kembali lagi ke kampung halamannya. Ia pulang dengan menyembunyikan masalahnya rapat-rapat. Karena ia tak mau membuat kedua orang tuanya khawatir padanya.


Selama di kampung ia sudah berganti nomor, ia benar-benar ingin membuka lembaran barunya, ia bisa bernafas tenang tanpa memikirkan kedua lelaki yang membuatnya dirundung dosa.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Di rumah sakit


Sudah dua Minggu ini Farid dirawat di ruang ICU, kondisinya masih tetap kritis, ia belum siuman sampai sekarang.


Fina, adiknya sekaligus satu-satunya keluarganya yang dengan setia menemaninya. Fina begitu telaten mengurusnya, dari mulai menyeka sampai menggantikan pakaiannya setiap hari.ย 


Malam itu mata Fina berkantung, warna hitam di pelupuk matanya menandakan kalau dirinya masih terjaga dari tidurnya.


Ia terus menerus menangis sembari menggenggam tangan kakaknya. Banyak kata yang ia ucapkan pada kakaknya, berharap Farid bisa mendengar cerita indah yang mereka lalui semasa bersama.


"Ayo dong kak bangun.... Kak Farid bangun, aku merindukan sosok kakak yang cerewet, yang selalu melarang ku, yang selalu mengomeli ku bila aku berbuat kesalahan. Aku merindukan mu kak.....ayo bangun kak" pintanya memohon, mata pandanya kini berair, ia kembali menitikkan air matanya. Tetesan bulir bening itu membasahi tangan Farid


"Aisyah.... Aisyah... Menikahlah denganku..." Tiba-tiba kata-kata itu keluar dari bibir Farid.

__ADS_1


Perkataan itu membuat Fina kaget bukan main, ia berdiri dari kursinya, dengan sigap ia mengusap kedua netranya. Lalu ia berlari keluar memanggil dokter.


"Dok... dokter... Cepat kemari, kakak sudah siuman" teriaknya dari luar pintu.


Seorang dokter dan perawat yang berada tak jauh dari posisinya langsung melangkah cepat menuju ruang ICU dimana Farid dirawat.


Dokter tersebut segera mengambil stetoskopnya, mengaitkan dua ujung stetoskop ke daun telinganya lalu dengan hati-hati ia mulai memeriksa kondisi pasien.


Kedua mata Farid masih tertutup rapat, tetapi ia tak hentinya menyebut nama Aisyah.


"Siapa orang yang disebut pasien? Mungkin dengan bertemu dengan orang tersebut pasien bisa cepat siuman" terang sang dokter.


"Belum Mbak, kakak anda sedang mengigau. Sepertinya wanita yang disebut kakakmu itu sangat berarti baginya. Ini adalah kesempatan yang baik untuk kondisi pasien agar cepat siuman" terang sang dokter memberikan pendapatnya. Kasus Farid ini adalah kasus langka bagi sang dokter. Beliau sudah mengecek seluruh rekam medis pasien tapi tidak ada penyakit yang membahayakan. Bahkan luka di kepalanya adalah luka benturan biasa yang tidak sampai menyebabkan gegar otak. Sang dokter bingung kenapa Farid masih tak sadarkan diri dari komanya.


Entahlah... Mungkin ini adalah kehendak Allah, kuasa Allah yang menghendaki segalanya yang tak mungkin menjadi mungkin.


Ataukah ini adalah wujud hukuman dari Allah untuknya, karena ia sering menduakan-Nya, ia lebih mengagungkan hartanya dibandingkan Allah yang sudah menciptakannya dan memberinya harta yang berlimpah.


Di dalam tidur panjangnya, ia tengah tersesat di suatu tempat yang gelap gulita. Ia berlarian kesana kemari mencari secercah binar bening dari sang surya. Kedua matanya benar-benar dibutakan oleh kegelapan... Ya ada setitik cahaya pun yang menerangi langkahnya. Sampai pada akhirnya ia tersungkur di dalam kegelapan, ia ingat akanย  petuah wanita yang tengah hadir dalam hidupnya. Kata-kata Aisyah seperti tengiang-ngiang dibenaknya. Seketika ia menangis histeris, ia memohon ampun pada sang khalik.

__ADS_1


"Ya Allah... Ampunilah hamba yang penuh dosa ini, selama ini hamba lupa menyebut nama mu.... Hamba lupa mensyukuri nikmat yang telah engkau berikan.... Ya Allah izinkan hamba menebus dosa-dosa hamba.... Aku mohon berikan kesempatan untuk hamba... Ya Allah" di alam bawah sadarnya ia benar-benar menyesali perbuatannya, perbuatan yang selama ini merugikan orang lain serta dirinya sendiri.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Fani menyeka air mata kakaknya yang terus menetes, ia terenyuh melihat kondisi kakaknya.


"Kak Farid, kamu kenapa kak... Bangunlah kak, aku sangat membutuhkan mu" katanya sambil terus menyeka kedua netra kakaknya secara bergantian.


Bulir bening yang keluar dari netra itu seakan menumpahkan seluruh kesedihannya.


"Aisyah... Tolong selamatkan aku...!" Kata-kata itu kembali dilontarkan olehย Farid


"Iya kak... Aku akan membawa Aisyah kesini, aku akan mempertemukan mu dengannya kak" jawab Fina dengan sesenggukan.


Sejak kepergian Aisyah, dia memang sudah beberapa kali menghubunginya tetapi nomornya tidak aktif. Entah ada masalah apa yang disembunyikan sahabatnya itu, ia yakin masalah itu menyangkut kakaknya.


Ketika ia tak mendapatkan kabar dari Aisyah ia memutuskan untuk menjemputnya di kampung. Ia ingin mengajak Aisyah menjenguk Farid. Karena lelaki yang berbaring tak sadarkan diri itu begitu mengharapkan kedatangannya.ย 


Fina yakin inilah jalan satu-satunya untuk menyembuhkan kakaknya dari komanya

__ADS_1


__ADS_2