
Sesampainya di rumah, Rani meluapkan semua kekesalannya pada suaminya.
"Mas kamu sudah berani menamparku di depan bos brengsek itu. Aku nyesel nikah sama kamu mas" ucap Rani dengan lantang.
"Maafkan aku sayang, aku khilaf... Aku hanya minta satu hal dari mu. Tolong dengarkan ucapan suamimu ini, jangan menentang keputusan ku ini" terang Anwar menyesali perbuatan kasarnya tadi di kantor.
Ia hanya meminta istrinya agar tidak menentang keputusannya, karena dia sangat menjunjung tinggi martabatnya sebagai kepala keluarga. Ia menyadari dikala dirinya tersulut emosi, ia akan sulit mengendalikannya, bahkan mungkin ia bisa berbuat lebih dari ini.
"Mas Anwar keluar saja dari perusahaan itu, kita bisa merintis usaha bersama, atau kalau tidak kita bisa melamar di perusahaan lain dengan menyembunyikan identitas pernikahan kita" bujuk Rani.
Ia merasa khawatir bila Anwar bekerja tanpa didanpingi olehnya. Tentunya ia akan semakin dihantui oleh rasa cemburunya yang berlebihan itu.
"Sayang aku minta sekali ini saja menurutlah, ini demi kebahagiaan keluarga kita. Kamu cukup dirumah, biar aku yang bekerja. Kamu bisa melakukan aktivitas sesuka mu, aku akan Carikan pembantu untuk membantu tugas rumah, kalau kamu bosan kamu bisa shopping dan ke salon yang kamu mau. Asalkan kamu bisa bahagia, aku turuti semua kebutuhan mu sayang" terang Anwar kembali memberikan pengertian pada istrinya.
"Oh... Jadi mas Anwar mau nyogok aku nih ceritanya. Mau ngasih fasilitas ke istri tapi aku harus ngebebasin kamu selingkuh dibelakang ku gitu... Huh.. nggak akan." Elak Rani kembali, entah bagaimana jalan pikirannya kala itu, otaknya sudah terkontaminasi oleh virus cemburu butanya.
"Masya Allah Ran... Kenapa pikiran mu sekerdil itu, bisa tidak kamu mempercayai suamimu ini, aku tidak pernah punya niat sedikit pun untuk berselingkuh. Dan asal kamu tahu aja, aku menikahimu karena aku menginginkan keturunan. Kalau kamu tetap tidak mau mendengar kan ku... kamu boleh angkat kaki dari sini" ancam Anwar sudah ngidap-ngidap dengan sikap istrinya yang terlalu over.
"Sial... Ternyata lelaki ini hanya memanfaatkan ku sebagai mesin pencetak bayi. Oke.... Aku ikuti alur yang kau mau, asalkan cintamu hanya milik ku" gumamnya dalam hati, ia akhirnya menuruti perkataan suaminya, karena memang dia tidak mau ditinggalkan oleh lelaki yang ia cintai.
"Maaf mas Anwar... Aku janji akan menuruti semua perkataan mu, tapi jangan menyuruh ku pergi dari sini. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu sayang" Rani mulai merayu suaminya yang sudah terlanjur marah, ia merajuk di pundak suaminya lalu mencium bibirnya dengan centilnya.
__ADS_1
"Nah gitu dong sayang, kamu cukup di rumah nglayanin aku aja. Kamu harus banyak istirahat dan jangan banyak pikiran biar cepat hamil" akhirnya Anwar luluh juga oleh rayuan maut istri centilnya.
"Iya mas..."
"Terimakasih sayang" kata Anwar sambil mencium kening istrinya
Dalam hatinya Rani sungguh picik, ia berusaha mengendalikan Anwar melalui keturunan yang dia inginkan.
Dan dia juga akan membalas dendam pada Farid yang sudah berkali-kali menghinanya didepan orang.
🍁🍁🍁
Malam itu Farid menjemput Aisyah di toko. Sebelum pulang, Aisyah menawarkan secangkir kopi untuknya. Lalu mereka pun menikmati minumannya sambil mengobrol
"Terimakasih Aisyah... Ini juga berkat bantuan mu, sebenarnya aku ingin sekali melamarmu di depan keluarga mu" ucap Farid dengan wajah sumringah.
Sejak kesadarannya akan taubat, paras Farid selalu memancarkan binar senyuman dikala bertutur kata, nada bicaranya yang biasanya kasar kini juga lebih halus dan sopan.
"Mas Farid, Ais boleh bertanya?"
"Iya... Boleh"
__ADS_1
"Kenapa mas Farid ingin menikahi Ais yang berstatus janda. Apa mas tidak malu?"
"Tentu saja tidak, aku lebih malu pada Allah bila aku membohongi perasaanku sendiri. Aku tulus mencintai mu karena Allah Ais... Kamu lah yang sudah menyadarkan diriku, kalau dalam mimpiku aku tidak bertemu dengan mu... Mungkin Allah sudah menghukum ku di neraka'nya"
"Jadi mas Farid pernah memimpikan ku... Aku juga pernah memimpikan mas Farid... Aku melihat senyuman mas Farid yang begitu menenteramkan hatiku"
"Benarkah...?"
"Iya mas..."
"Sepertinya Allah meridhoi hubungan kita. Bagaimana kalau secepatnya kita ke kampung, kita temui kedua orang tua mu.. aku ingin segera melamarmu Ais"
"Emh... Aku masih bimbang mas, aku belum yakin dengan hatiku. Sejujurnya aku masih belum bisa melupakan mas Anwar" Aisyah terpaksa jujur dengan perasaan yang ia rasakan sampai sekarang ini, bahwa dihatinya masih terselip sosok lelaki yang pernah menjadi suaminya itu.
"Tidak papa Ais, aku akan sabar menunggu mu sampai kamu siap membuka hatimu untuk ku"
Kata-kata itu tampak tegar dari luar, tetapi hatinya seperti tertusuk jarum.
Jadi selama satu bulan lebih usahanya berta'aruf dengan Aisyah masih belum menemukan titik akhir.
"Kalau saja aku yang pertama menempati hati mu, mungkin tak akan pernah kusia-siakan wanita shalihah seperti mu, tak akan kubiarkan kamu meneteskan air mata yang begitu berharga itu... Ya Allah bukakanlah pintu wanita yang kucintai, rasa cinta yang kau anugerah kan ini, semoga dia bisa merasakannya"
__ADS_1
Farid hanya bisa mengucapkannya dalam hati saja. Semoga Aisyah bisa menyadari kalau cintanya lebih besar dari Anwar.