
Abang Al merasa dirinya terlalu dikekang oleh kedua orang tuanya, ia tampak sedih, berlari mengasingkan diri di taman belakang rumah
Setiap Abang kesal atau sedih pasti dia akan datang ke taman belakang rumah, duduk merenung sambil memberi makan ikan koi kesayangannya
Abi yang melihat kemurungan Abang Al, beliau datang membawakan segelas susu hangat untuk cucunya, "Albiru.... Albiru... Kakek membawakan susu hangat untuk mu" seru Abi dengan senyum membujuk
Abang menoleh, ukiran senyum keterpaksaan yang ia pancarkan membuat kakek tertawa geli
"Ada apa ini cucu kakek kok sedih begini" Kata Abi sambil memberikan segelas susu hangat itu untuk Abang
"Terimakasih kek" Abang Al mulai meneguk susunya, setelah habis separuh ia meletakkan gelasnya di samping tempat duduknya
"Kakek, Al sedih selalu dipaksa ayah' sama bunda buat ngaji. Kepala Al pusing kek, nggak bisa konsentrasi tiap membaca Alquran" terang Al dengan polosnya
Sang kakek tampak bingung menjawabnya, Aisyah dan Farid memang benar, sebagai orang tua mereka memberikan dasar ilmu agama sejak dini, untuk membentengi kehidupan anak-anaknya kelak agar menjadi anak-anak yang shaleh dan Sholehah.
Tetapi mereka harus extra mendisiplinkan sang putra sulung karena dia adalah tipe anak yang keras kepala, berbuat sesuai dengan kehendaknya, dan terkadang tak mau mendengarkan penuturan orangtuanya
Kakek pun mulai memberikan solusinya "Bagaimana kalau Abang ikut ngaji di masjid, kakek lihat setiap sore banyak anak-anak yang ngaji di sana. Sepertinya Abang akan nyaman belajar Alquran disana"
"Alah nggak mungkin dibolehin sama ayah dan bunda. Kan ayah dan bunda pandai sekali dalam membaca Alquran, jadi mana boleh Abang belajar dengan orang lain." Gerutu Abang sambil melengus kesal
"Besok biar kakek yang bicara sama ayah dan bunda, sekarang Al bobok yuk, sudah malam nanti dicariin ayah loh"
Al kembali melengus kesal, kemudian ia bertanya pada sang kakek
"Kakek, kenapa sih kita harus belajar Alquran, kan sulit banget kek, enak belajar bahasa Indonesia saja"
Bicara Abang sungguh polos, celetukan-celetukannya membuat Abi kebingungan mencari jawabannya.
"Al-Qur'an itu seperti jantung di dalam tubuh kita bang, selalu berdetak selama kita masih bernafas, kalau kita tidak bisa mengamalkan ilmu agama, maka kita akan seperti orang hidup yang tidak punya tujuan" terang sang kakek
Entah Abang mengerti atau tidak dengan jawaban sang kakek. Pastinya Abang yang usianya masih kecil belum bisa mencerna bahasa sang kakek
__ADS_1
"maksudnya nggak punya tujuan itu apa kek?" Tanya Abang lagi
"Aduh, kakek bingung, besok kakek kasih jawabannya ya. Sekarang ayo kita masuk, Sebelum tidur jangan lupa gosok gigi dan berwudlu, jangan lupa juga baca doa sebelum tidur" terang sang kakek menginstruksikan kebiasaan rutin sebelum berangkat tidur
"Iya kek"
Bang Al langsung berlari masuk ke dalam rumah
"Abang tunggu, bang bantuin Zizah beresin mainan dong" Teriakan si bungsu Azizah menghentikan langkah Abang
Bang Al menoleh lalu berkata "Maaf dek Zizah, Abang udah ngantuk mau bobok dulu"
"Ekhem... ekhem. !"
Dari atas tangga tampak Farid menuruni anak tangga, dia yang melihat Albiru menolak permintaan Azizah langsung berdeham dengan cergas
"Iya dek sini Abang Al bantuin"
Al menoleh ke atas, ia melihat sang ayah ada di atas tangga, Wajah Abang berubah ketakutan dengan cepat kilat ia berlari menuruni anak tangga, kemudian ia membantu adiknya membereskan mainannya. Raut wajah Abang seperti tak ada masalah, padahal dia tadi enggan membantu sang adik. Ia masih kesal dengan Azizah, karena dia terlalu cengeng dan gampang mengadu pada ayah bundanya
"Sama-sama dek"
Mereka berdua sudah selesai beberes, lalu Farid yang sudah berada di lantai dasar, ia terus mengawasi kedua putranya.
"Kalian berdua sini dulu"
Titah Farid sambil berjongkok dan membuka kedua tangannya lebar-lebar
Kedua bocah itu langsung berhambur menghampiri sang ayah, memeluk sang ayah. Lalu Farid menggendong mereka berdua, mencium kening mereka bergantian
"Ayo sekarang waktunya tidur, ayah mau bantuin kalian gosok gigi dulu" kata Farid sambil melangkahkan kakinya menaiki anak tangga
"Ternyata kedua malaikat ayah sudah besar dan berat" celetuknya senang bisa melihat pertumbuhan kedua anaknya yang begitu cepat
__ADS_1
"Ayah apa ayah tidak capek? Tubuh Adek dan Abang kan berat yah" seru Azizah dengan keluguannya
"Nggak papa dek, lihat ini lengan ayah besar sekali. ayah pasti kuat kok, iya kan yah" bang Al mengelak perkataan adiknya, ia menyindir ayahnya, tentu saja ini adalah momen kesukaan Al, di sayang dan diperhatikan sang ayah.
"Iya sayangnya ayah' ayah kuat kok, dulu saja waktu kalian berdua masih di dalam perutnya bunda, ayah kuat kok menggendong kalian bertiga" jawab Farid senang. Meski rasa letih menghampiri karena banyaknya aktivitas kantor, peluh itu terbayarkan dengan melihat ketiga malaikatnya yaitu istri tercintanya dan juga kedua putranya
"Beneran yah? wah ayahku super Hero" seru Aisyah kembali girang
"Biasa saja lah dek, nggak usah lebay. Abang mah percaya kalau ayah kuat. Tapi tubuh ayah nggak sebagus om Dedy Corbuzier kok" celetuk Abang Al, ia berfikir tubuh ayahnya tidak se atletis aktor yang sering ia tonton melalui aplikasi YouTube itu
"Jadi tubuh ayah' nggak sebagus Om Dedy ya Bang?" kata Farid cemberut, ia memberikan expresi kekecewaan karena ungkapan Abang Al
"Ayah ngambekan
maksud Abang itu, tubuh ayah sudah bagus kok tapi...!" kata Abang Al tersenyum sambil mengetuk kepalanya dengan jari telunjuknya, seperti tengah memikirkan jawaban yang pas untuk pertanyaan ayahnya
"Kok ada tapinya bang" jawab Zizah
"Iya... tapi kenapa bang? imbuh Farid bertanya pada putranya
Farid tahu betul bagaimana sifat putra sulungnya, Abang memang pandai beralasan, di dalam benak anak itu dipenuhi dengan ide-idenya yang jahil dan ingin menang sendiri
"Tapi apa ya? Abang lupa hehehe"
Farid langsung tertawa, ia gemas dengan kelucuan putranya. Bahkan ia mencium putranya karena gemas
"Akh... sakit lah yah" kata Abang sembari mengelus pipinya yang dicium oleh Farid, karena terlalu gemas, Farid mencium pipi Abang dengan menekan bibirnya yang menempel di pipi Abang
"Rasain Abang, sakit kan bang. Yeh... Ayah membalas perbuatan Abang pada Adek. Abang kan sering mencubit dan mencium pipiku seperti itu, sekarang Abang rasain pembalasannya" seru Azizah senang dengan kesakitan Abangnya, Azizah sering sekali dijahilin Abangnya seperti itu, bahkan sampai membuat pipinya sakit dan memerah
"Adek nggak boleh bicara seperti itu, tidak boleh membalas dendam, adek harus jadi anak yang pemaaf, Ingat kan di dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam surat Asy-Syuura ayat 43 yang artinya: Tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan. Pemaaf memang bukan sifat yang muncul begitu saja pada diri manusia, sederhananya pemaaf adalah sifat yang tumbuh dalam diri kita ketika kita terbiasa melatih diri secara rutin dan terus-menerus, untuk memberikan maaf dan juga meminta maaf. Bunda kan sering bilang, kalau salah satu dari kalian ada yang salah, harus berani mengakui kesalahannya dan langsung meminta maaf. Hal seperti itulah yang mencerminkan sikap yang baik. Apa Kedua anak ayah ini memiliki sikap yang demikian?" terang Farid memberikan penuturan pada kedua anaknya
"Iya yah" jawab keduanya
__ADS_1
Memaafkan bukanlah sesuatu yang aneh dalam keseharian. Menjadi orang yang pemaaf juga dapat mengantarkan kita kepada ketenangan hidup, kebahagiaan, dan teman yang banyak. ... Kedua, mengingat-ingat keburukan kita terhadap orang lain dan lupakanlah keburukan yang pernah dilakukan orang lain terhadap kita.