
Menikah Yang Ke-dua
Chapter 15
"Kamu kenapa Is?" Tanya Fina lagi
"Ini Fin, ini...
Alamat ini tempat mas Anwar bekerja" jawab Aisyah dengan bibir yang bergetar, rasanya tidak mungkin ia bisa bekerja sekantor dengan mantan suaminya yang notabennya dirinya masih sulit melupakannya.
Aisyah dihadapkan dengan pilihan yang sulit, di suatu sisi dia butuh pekerjaan itu untuk menyibukkan diri supaya cepat bisa melupakan Anwar, tetapi Allah malah menghadapkan dirinya dengan sesuatu yang berkaitan dengan Anwar.
Sebenarnya apa rencana Allah sesungguhnya?
"Apa...?
Jadi kakakku bos dari mantan suamimu sekaligus pelakor itu" tanya Fina terkejut, bibirnya langsung mengkerut ketika mendengar nama Anwar, lelaki yang tega menyakiti hati sahabatnya.
"Iya Fin... Sepertinya aku nggak bisa masuk ke perusahaan kakakmu Fin, aku kembali ke kampung saja ya" terang Aisyah ketakutan.
Ia tidak mungkin kuat melihat orang yang ia cintai bersama wanita itu, seketika hatinya rapuh, semangat hidupnya mulai drop lagi.
"Jangan Is, kalau menurutku ini adalah momen yang bagus untuk mu membuktikan pada mereka kalau kamu bisa move on, kamu bisa hidup tanpa lelaki brengsek itu." Jelas Fina ingin sahabatnya cepat move on dari Anwar
__ADS_1
Aisyah terdiam, bibirnya yang bergetar serasa tak bisa menjawab perkataan sahabatnya.
"Ayo lah Is, jangan melewatkan kesempatan bagus ini. Tunjukkan pada mereka, buat Anwar menyesal karena telah mencampakkan mu..." Bujuk Fina lagi.
Ia ingin sekali merubah penampilan Aisyah, ia ingin membalas semua perbuatan Anwar pada sahabatnya. Meski Aisyah tidak menyukai rasa dendamnya pada Anwar, tetapi ia ingin membuat Anwar menyesal seumur hidupnya.
"Aku tidak mau berurusan dengan Rani Fin, aku tidak mau dia mengira aku ingin merebut mas Anwar darinya" ada rasa kecewa yang mendalam ketika dia mengingat hari itu, hari dimana suaminya lebih memilih Rani ketimbang dirinya.
"Please deh Is, ngapain kamu mikirin perasaan tuh pelakor, jangan terlalu baik dong Is, pikirkan perasaan mu sendiri lah..!" Tegas Fina
"Pokoknya kamu harus mencobanya Is. Kalau kamu mundur begitu saja. Mending kamu lupakan persahabatan kita aja...!" Ancam Fina dengan wajah marahnya, mungkin dengan cara seperti ini Aisyah mau mendengarkan ucapannya
"Fin ... Jangan bicara seperti itu dong, aku sudah kehilangan mas Anwar, aku nggak mau kehilangan sahabat ku juga" pinta Aisyah memohon sembari menggenggam tangan Fina
Fina hanya diam saja, ia pura-pura tidak merespon permohonannya Aisyah.
Mungkin memang ini sudah jalan yang dipilihkan Allah untuknya, sesulit apapun ia akan berusaha kuat menghadapinya.
🍁🍁🍁
POV Aisyah
Ya Allah aku mohon lancarkanlah urasanku, berikan aku kekuatan bathin untuk melewatinya.
__ADS_1
Aku merasa tidak percaya diri dengan penampilan ku, Fina yang membantuku memilihkan gamis berwarna peach ini senada dengan warna kerudung ku, ia juga mendandani ku dengan dandanan yang menurutnya smooth tetapi terlalu berlebihan menurutku. Gamis yang sedikit longgar dan juga dandanan yang tak biasa membuat ku tak nyaman mengenakannya.
"Kamu cantik banget kok Is, Perfect..." Ucap Fina memujiku, entah benar atau tidak, menurutnya aku pantas mengenakan pakaian ini untuk interview ku dengan kakaknya.
"Cepat masuk... Jangan lupa senyum oke" imbuhnya mendorong ku pelan untuk segera masuk ke dalam.
Perlahan aku melangkah ke depan, sesekali aku menengok ke belakang ke arah Fina, rasanya begitu berat untuk melangkahkan kaki ke perusahaan ini untuk yang kedua kalinya.
Aku menoleh lagi ke belakang, kulihat Fina masih berdiri di tempatnya tadi, dari kejauhan kulihat tangannya mengacungkan jempol untuk menyemangati ku.
"Bismillahirrahmanirrahim...
Robbanaa 'aatinaa miladunka rohmatan, wahayyi' lanaa min amrinaa rosyadaa. Amin"
Ya Allah, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.
Pudarkanlah kegugupan ku ini, tolong jangan pertemukan aku dengan mas Anwar untuk sekali ini saja, aku tak yakin mampu menjawab interviewnya bila aku melihatnya.
Konsentrasi ku bisa buyar bila melihatnya.
"Permisi Mbak saya ada jadwal interview hari ini dengan bapak Farid" kataku sedikit gugup dan gemetar.
"Iya mbak, silahkan naik ke lantai 5 ya mbak, disana ada 2 ruangan besar, yang sebelah kiri ruang meeting, nanti mbak masuk saja ke ruangan sebelah kanan, disitu ruangan pak Farid" jelas salah seorang karyawati Bank
__ADS_1
"Terimakasih mbak" ucapku sembari setengah membungkuk
Aku kembali melangkah memasuki lift, sesuai instruksi dari karyawan tadi aku menekan tombol Lima. Alhamdulillah sampai di sini aku tak melihat mas Anwar.