Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Cinta yang membutakan mata hati


__ADS_3

"Pak Farid tolong lepaskan tangan saya, bapak bukan mahram saya, tolong lepaskan pak" Aisyah kesulitan melepaskan pegangannya, ia malu dilihat beberapa pengunjung restoran. Apa lagi bagi Aisyah bersentuhan dengan lawan jenis dengan sengaja baginya haram'


Anwar yang tak bisa menahan kecemburuannya langsung berlari mendekati mereka berdua


"Pak Farid tolong lepaskan tangan Aisyah" kata Anwar sambil membantu Aisyah melepaskan genggaman tangan bosnya


"Pak Anwar tidak usah ikut campur, Aisyah sebentar lagi akan menjadi istri saya" tegas Farid dengan nada kemarahannya pada Anwar


"Istri" kata Aisyah terkejut bukan main


"Apa...! Istri...?" Anwar pun juga terkejut dengan perkataan bosnya


"Maksud pak Farid berbicara seperti itu apa?" Tanya Aisyah, tiba-tiba suaranya berubah menjadi keras, ada keberanian yang muncul karena perkataan Farid bukanlah lelucon yang pantas.


"Ayo masuk" Farid kembali menarik tangan Aisyah, ia buru-buru melangkah menuju mobilnya. Farid membantu Aisyah membuka pintu mobil, ia memaksa Aisyah duduk di depan, lalu ia berjalan memutar memasuki pintu mobil yang sebelah. Ia bergegas menancapkan gasnya tanpa menunggu Anwar. 


Tiba-tiba Farid menghentikan mobilnya ke pinggir jalan raya, ia mendekati Aisyah duduk di sampingnya. Farid meraih sesuatu didekat Aisyah, posisinya sudah seperti mau mencium bibir Aisyah. Aisyah yang sedari tadi melontarkan berbagai pertanyaan padanya langsung terdiam sejenak, ia menutupi matanya rapat-rapat, ia takut Farid akan melakukan sesuatu padanya.


"klik" suara seat belt yang terpasang membuat Aisyah bisa bernafas lega,


Ternyata Farid hanya membantu Aisyah yang lupa memasang seat beltnya.


 


Farid kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Aisyah yang sedari tadi tak mendapatkan jawaban dari pertanyaan. Ia merasa tak pantas bekerja dengan lelaki aneh seperti Farid.


Ia berencana untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang baru ia kerjakan satu hari itu.


Sesampainya di kantor, Farid memerintah Aisyah dengan keris


"Cepat turun dan kerjakan tugas mu. Kamu lupakan perkataan ku tadi" suruh


Anwar dengan wajah galaknya. Ia langsung meninggalkan Aisyah di lobby, dia kembali pergi dengan mobilnya.


Aisyah bingung dengan sikap bosnya yang berubah ubah, terkadang baik, galak, bahkan konyol. Benar-benar lelaki aneh yang membingungkan.


Di kantor Aisyah tak sengaja bertemu dengan Rani.


Rani yang mengenalinya, ia langsung kalap, ia memaki Aisyah didepan seluruh karyawan.


"Mau ngapain kamu disini wanita nggak tahu malu. Mau menggodabsuamiku dengan dandanan mu seperti ini. Dasar wanita munafik sok suci" maki Rani


Sambil menarik gamis Aisyah dengan kasarnya.


"Tidak mbak, mbak Rani salah paham... Aku" 


Rani langsung memotong ucapan Aisyah


"Dasar pelakor... Pergi dari sini. Security cepat usir wanita ini" teriak Rani


Semua karyawan saling mencibir Aisyah


"Ternyata pelakor, hina banget wanita seperti itu, dandanannya santun tapi dalamnya busuk"


"Iya mending copot tuh jilbab, mempermalukan umat muslim saja"

__ADS_1


Cibiran sebagian karyawan terdengar jelas di telinga Aisyah, ia menahan air matanya supaya tak jatuh. Tetapi tetesan bening itu menetes membasahi kedua pipinya.


Dua security yang datang segera menarik tangan Aisyah, mereka menyeretnya keluar.


"Rasain tuh... Kamu sudah berani melawan ku. Kamu kira aku rela melepas mas Anwar, untuk melihat muka mu saja tak ku izinkan" gumam Rani dengan liciknya


Aisyah hanya menurut saja, ia melangkah keluar bersama security. Kesedihannya semakin bertambah, semua orang yang melihatnya terus memaki dirinya dengan kata-kata tak pantas.


Buliran bening itu terus menetes deras, betapa malunya dirinya, ia tak bisa menjelaskan kesalahpahaman itu. 


"Ya Allah aku lelah, aku lelah dengan semua ini... Aku berpasrah diri padamu ya Allah" ia duduk di depan halaman kantor meratapi nasibnya.


"Kenapa ujian mu begitu bertubi tubi ya Allah, aku sudah tidak kuat" Aisyah yang tidak bisa menahan kesedihannya, ia merasa putus asa. Ia ingin mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan dirinya pada mobil yang lewat.


Tatapannya kosong, ia melangkah mendekati jalur padat kendaraan.


"Aisyah" teriak Farid langsung berlari ke arah wanita yang tengah putus asa itu.


Dengan cepat Farid menarik tangan Aisyah, ia menjatuhkan tubuh lemah itu di dada kekarnya. Aisyah menangis sejadinya di dalam pelukannya. Ia mengelus punggung Aisyah, hatinya terenyuh karena tangis kesedihan wanita itu.


"Mas Anwar aku ingin mati saja mas" kata Aisyah menyandarkan keluh kesahnya pada Farid, kedua tangannya memeluk tubuh kekar itu, dia mengira lelaki yang menolongnya itu adalah Anwar


Farid membalas dekapan itu dengan begitu erat, meski Aisyah menganggap dirinya adalah mantan suaminya. Ia sudah cukup bahagia bisa merasakan kesedihan wanita yang tengah membayangi benaknya seharian ini.


Anwar tengah memergoki mereka berdua, ia mengira mereka tengah bermesraan, ia tak percaya Aisyah bisa berbuat serendah itu.


Perasaan cemburu yang kian membara seakan tak bisa terkontrol lagi, emosinya memuncak melihat wanita yang selama dua tahun ini bersamanya tengah menyandarkan kepalanya dalam dekapan dada lelaki lain.


"Aisyah..!" Bentaknya


Mendengar suara Anwar, ia langsung melepaskan pelukannya sembari mendongak ke atas. Wajah yang ia kira mantan suaminya ternyata ialah bosnya.


"Mas Anwar kamu salah paham mas" jelas Aisyah sambil menggenggam tangan Anwar


"Nggak dek, kedua mataku melihat dengan jelas perbuatan hina mu" Anwar mengelak kejelasan Aisyah, ia melangkah cepat meninggalkan Aisyah.


Aisyah duduk tertunduk di pinggir jalan. 


"Lepas... Lepaskan aku" teriaknya marah. Saat Farid mencoba membantunya berdiri.


"Ayo aku antar pulang" ucap Farid memaksa.


Dengan sigap ia membopong tubuh lemah Aisyah masuk ke dalam mobilnya. 


"Turunkan aku mas Farid, aku tidak mau mas Anwar salah paham lagi" pintanya sembari menggerakkan kakinya berharap Farid akan menurunkan tubuh beratnya


"Diam kamu... Ngapain kamu masih mengharapkan lelaki seperti itu, kamu cantik dan pintar, masih banyak lelaki yang lebih dari Anwar yang mau sama kamu" terang Farid menegaskan pada wanita yang ia bopong.


Salah seorang karyawan melihat aksi yang dilakukan bosnya itu


"Itu bukanya wanita sok polos yang jadi pelakor tadi. Ternyata dia pintar dan licik, pak Farid sampai tergoda padanya" cerocos karyawan itu dari kejauhan.


Farid segera membuka pintu mobilnya, dia meletakkan tubuh Aisyah diatas kursi depan, tak lupa ia juga memasangkan seat belt untuknya.


Kemudian ia kembali memutar arah menuju pintu satunya, setengah terburu-buru ia melajukan mobilnya.

__ADS_1


Di dalam mobilnya tampak tatapan Aisyah kosong, entah kesedihan sebesar apa yang membuatnya sampai ingin mengakhiri hidupnya. Apa mungkin ini semua karena cinta, cinta yang begitu membutakan mata dan pikiran seseorang.


Di setengah perjalanan ia menelfon adiknya, meminta pendapat Fina tentang keadaan sahabatnya sekarang.


Fina menyarankan untuk membawa Aisyah pulang ke kediaman mereka, selama Aisyah di kota itu sudah menjadi tanggung jawab Fina.


Setengah jam kemudian Farid tiba di  kediamannya. Di depan pintu sudah ada Fina yang menunggu kedatangannya dengan perasaan khawatir.


"Aisyah kamu nggak kan" tanyanya sambil memapah sahabatnya masuk.


Mereka berdua mengantarkan Aisyah ke dalam kamar tamu. Fani membaringkan tubuh lemah sahabatnya itu di atas ranjang big size di kamar tersebut.


Fani menarik tangan kakaknya keluar.


Ia melontarkan berbagai pertanyaan pada kakaknya karena kekhawatirannya pada Aisyah.


"Aisyah kenapakak?"


"Apa kakak melakukan kesalahan yang fatal?"


"Atau kakak menindasnya lagi" duga Fina pada Farid


Farid angkat bicara


"Ini semua karena lelaki brengsek itu, Aisyah masih mengharapkan cinta si brengsek itu" ucap Farid geram, rasanya mulutnya tak rela menyebutkan nama Anwar. 


Fani tahu yang dimaksud kakaknya itu adalah Anwar mantan suami sahabatnya.


Rencananya kali ini telah gagal, ia ingin membuat Anwar yang berlutut di hadapan sahabatnya malah sahabatnya la yang kembali tersakiti.


Ia bingung bagaimana caranya menyadarkan Aisyah, kalau Anwar lelaki yang tidak pantas ia perjuangkan.


"Aku mandi dulu, kamu urus tuh sahabat bodohmu" kata Farid bergegas naik ke lantai atas. 


Ia melepas kekesalannya dengan berendam air hangat di dalam bathtub.


Kemudian Fina kembali melangkah masuk ke dalam kamar tamu. Ia melihat sahabatnya itu tengah tertidur pulas


"Kenapa sih Is kamu masih mengharapkan cinta lelaki seperti itu, kenapa pikiran mu sedangkal itu. Kamu cantik, baik, dan penyayang. Banyak orang yang menyukai mu dengan tulus. Please lupakan Anwar Is" kata Fina diiringi dengan tangisannya, ia juga sedih melihat Aisyah seperti itu.


Mata Aisyah yang terpejam kembali menitikkan air matanya, kedua telinganya mendengar suara sahabatnya dengan jelas. Dia bangun dari tidurnya, segera ia memeluk Fina sahabatnya.


"Aku tidak bisa melupakan mas Anwar, rasanya sakit banget Fin" rengek Aisyah dengan tangisannya


Fina mengelus kepala sahabatnya yang tertutupi kerudung itu, ia mencoba menenangkan sahabatnya.


"Jangan sedih lagi Is, ada aku disini... Memang sulit melupakan orang yang kita sayangi, tapi kamu harus berusaha ya, jangan putus asa seperti ini lagi" terang Fina sesenggukan.


"Sekarang kamu istirahat ya, aku ambilkan makanan untuk mu" Fina melepaskan pelukannya, ia beranjak keluar untuk menyiapkan makanan untuk sahabatnya.


"Tunggu Fin" kata Aisyah menghentikan langkah Fina


Fina menoleh ke arahnya.


"Aku mau shalat Fin, aku pinjam sajadahnya ya!" 

__ADS_1


Fina mengangguk, ia kembali melanjutkan langkahnya, tujuan yang tadinya ke dapur kini berubah ke kamarnya. Ia naik ke lantai atas untuk mengambil perlengkapan sholat di dalam kamarnya.


__ADS_2