
Kedua mempelai tengah memasuki acara, mereka berdua naik keatas podium pelaminan untuk memulai ijab qobulnya.
Farid yang didampingi oleh pamannya serta Aisyah bersama ayahnya. Pak penghulu tengah membuka acaranya dengan diawali berdoa terlebih dahulu, kemudian beliau memasrahkan acara tersebut pada ayah Aisyah, karena memang beliau sendiri yang akan menikahkan putrinya.
Ayah Aisyah mengulurkan tangan kanannya, menjabat tangan Farid yang berada di depannya.
Perasaan gugup bercampur aduk serasa menghantui Farid ketika Abi Thalib menjabat tangannya
"Ananda Farid Hardja Diningrat bin almarhum Joko Diningrat saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Aisyah Fitria Lhasa dengan mas kawin berupa perlengkapan sholat dan mahar satu juta rupiah dibayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Fitria Lhasa binti Abdul Thalib dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"
Meskipun sedikit gugup dan gemetar akhirnya Farid mengucapkan ijab qobulnya dengan benar. Acara tersebut diakhiri oleh kata "Sah" dari para saksi dan juga tamu undangan yang melihat khidmatnya acara tersebut. Aisyah mencium tangan suaminya, kemudian Farid mencium keningnya.
Dari kejauhan tampak ada sosok lelaki yang tengah berdiri sambil terus menatap wajah Aisyah, ia terlihat sedih di acara bahagia itu. Ia ialah Anwar, hatinya merasa sakit ketika melihat mantan istrinya dinikahi lelaki lain.
Kedua cincin kawin pun mempelai sematkan ke jari manis pasangannya
"Aisyah... Apa kamu benar-benar sudah melupakan ku, hati ku rasanya tak ikhlas melepaskan mu." Gumamnya dalam hati, ia tampak menitikkan setetes buliran bening dari pelupuk matanya.
Tetesan itu yang tak sengaja membasahi tangan Rani. Rani langsung mendongak menatap wajah suaminya.
"Mas... Ngapain sedih gitu sih? Apa mas nggak rela Aisyah menikah dengan bos gila itu" tanya Rani dengan kesal ia menarik bahu suaminya
"Ya nggak lah sayang, aku malah bahagia melihat Aisyah menikah lagi, jadi kamu nggak perlu takut, tidak ada wanita yang menyaingi mu. Cuma kamu sayang yang ada dihati aku" elak Anwar meyakinkan istrinya dengan kata-kata manisnya. Padahal dalam hatinya ia menahan kesedihannya, mungkin rasa pedih itu juga pernah dirasakan Aisyah ketika ia lebih memilih Rani ketimbang mempertahankan Aisyah.
__ADS_1
Seluruh tamu undangan pun naik ke atas podium pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
Kemudian Rani mengajak Anwar untuk ikut bergabung di podium tersebut. Tetapi ia menolaknya karena ia sangat malu kepada keluarga mantan istrinya itu, sebagai lelaki yang pernah menjadi suami Aisyah ia telah menceraikannya tanpa memulangkannya kepada keluarga secara baik-baik.
"Terserah mas aja deh, aku mau naik sendiri" ucap Rani ngeyel ingin naik ke podium.
Ia pun meninggalkan Anwar, berjalan menuju podium dengan gaun pesta berwarna maroon, tampak sekali lekuk seksinya dan kecentilannya.
"Selamat ya pak Farid, Aisyah... Semoga pernikahan kalian langgeng" ucapnya sambil berjabat tangan kepada kedua mempelai. Dalam hati sebenarnya ia sangat muak mengatakan ucapan itu kepada Farid dan Aisyah.
Kemudian ia menjabat kedua orang tua Aisyah. Dengan bangga ia memperkenalkan dirinya kepada kedua orangtua itu
"Perkenalkan pak buk.. saya Rani suaminya mas Anwar. Aku doakan ya Aisyah biar cepat hamil kaya aku, atau jangan-jangan kalian sudah tahu ya kalau Aisyah mandul" terang Rani sengaja menyindir Aisyah di depan kedua orangtuanya
Padahal sesungguhnya Rani belumlah hamil, itu hanya kebohongannya saja untuk menghina keluarga Aisyah
"Udah Umi... Jangan emosi begitu, ini hari bahagia putri kita lo... kita doakan saja semoga pernikahannya sakinah mawadah warahmah, semoga secepatnya Allah memberikan mereka keturunan." Terang Abi sambil menggenggam tangan Umi.
Akhirnya acara tersebut telah usai, setelah menikmati hidangan yang disajikan, seluruh tamu undangan termasuk Anwar dan istrinya bergegas pulang.
"Aku memang lelaki pecundang" kesalnya dalam hati, sambil menyetir mobilnya ia menyalahkan dirinya sendiri. Rasa penyesalan di akhir yang begitu menusuk hati. Kalau saja dulu tidak menuruti keinginan Rani, pasti ia masih menjadi suami Aisyah. Padahal dulu ia sangat ingin memoligami Aisyah karena hubungan itu juga diperbolehkan dalam Islam.
"Mas kalau kita punya anak, pengennya cowok atau cewek dulu" kata-kata Rani menyadarkannya, inilah tujuannya menikahi Rani, untuk menurunkan keturunannya.
"Laki atau perempuan sama saja sayang, yang penting kamu bisa memberiku keturunan" Jawab Anwar tersenyum, ada kebahagiaan tersendiri saat Rani menyebut nama anak.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Di kediaman keluarga Aisyah, Farid dan Aisyah tengah bersiap untuk pulang ke kota bersama keluarganya.
Sebelum berangkat mereka kembali sungkem untuk kedua kalinya, berharap restu orang tuanya tetap menyertai langkahnya dimanapun mereka berada.
Kedua orangtuanya menitihkan air matanya, dengan penuh doa mereka melepaskan putrinya untuk tinggal bersama Farid.
"Kalian sering-seringlah mengunjungi kami, Abi doakan semoga langkah kalian selalu diridhoi Allah SWT."
Abi mengangkat bahu Farid kemudian memeluk erat menantunya itu
"Tolong jaga Aisyah ya nak Farid, saya titipkan Ais pada nak Farid"
"Tentu Abi, saya sangat mencintai Aisyah, saya tak akan pernah membiarkannya bersedih"
"Terimakasih nak Farid"
"Abi Umi... Akhmad kami berangkat dulu ya... Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam nak... Hati-hati di jalan ya nak"
Akhirnya Aisyah bersama keluarga suaminya meninggalkan kediamannya.
Seluruh anggota keluarga naik mobil Fina, sedangkan Farid dan Aisyah menaiki mobil mewahnya yang dikendarai oleh supir.
__ADS_1
Meskipun Aisyah melarangnya untuk melakukan suatu hal yang berlebihan, dari hatinya yang paling dalam, ia ingin menunjukkan pada orang-orang yang tak menyukai istrinya. Bahwa ialah lelaki yang pantas untuk mempersuntingnya.