Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Cinta Fina


__ADS_3

Sudah seharian Fina memandangi layar ponselnya, bolak-balik ia membuka aplikasi hijau di ponselnya, tapi tak kunjung mendapatkan chat dari nomor dokter Hamid.


"Tahu gini, kemarin aku yang minta nomornya duluan, Jadi error' gini otakku, kenapa kepikiran dia terus ya" pekik Fina dengan semburat merah diwajahnya.


"Ting" akhirnya yang ia tunggu muncul juga, notifikasi whatsapp dari nomor baru.


"Hai Fina, apa kabar?


Aku Hamid


Save nomor ku ya"


"Yes...yes..." Fina melonjak gembira, polahnya sudah seperti anak kecil saja.


Pucuk dicinta ulang pun tiba, baru mau membalas chat sang dokter, Hamid tiba-tiba menelfon dirinya.


Aneh bukanya mengangkat telfonnya, Fani malah salah tingkah, ia hanya memandangi layar ponselnya sambil tersenyum bahagia.


Ketika nada deringnya hampir menghilang, dengan respect ia langsung menjawab panggilannya


"Ha...lo..." Ucap Fina dengan nada terputus


"Halo Fina, aku Hamid, kamu sibuk nggak hari ini" tanya Hamid


"Emh tidak" jawab Fina menggigit bibir bawahnya


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama, aku ingin ngobrol sebentar boleh tidak"


"Oh... Boleh boleh... Di mana?"


"Di restoran xx dekat rumah sakit ya, aku tunggu kamu disana"


"Iya... Sampai jumpa"


Fina menutup panggilannya, segera ia melampirkan sling bag di pundak kirinya.


Dia melangkah cepat menuju mobil sportsnya.


Saking bahagianya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia sudah tidak sabar untuk menemui Hamid, seorang dokter yang memenuhi benaknya seharian ini.


Sampailah ia di restoran dekat tempat Hamid bekerja. Di dalam restoran tersebut sudah ada Hamid yang sedang menunggu kedatangannya.


Ketika melihat sosok Fina memasuki area restoran, Hamid mengangkat tangannya sambil tersenyum ke arah wanita itu.


Fina pun membalasnya dengan mengukir senyuman di bibirnya, sungguh manis senyuman yang ia pancarkan.

__ADS_1


"Hai Hamid, udah lama ya nungguinya"


Perlahan Fina duduk di kursi di depan Hamid


"Nggak kok, baru sepuluh menitan"


"Mbak...mbak" seru Hamid pada salah satu waiters


"Mau pesan apa Fin?" Tanya Hamid


Waiters muda itu memberikan buku menunya kepada Hamid dan Fina


"Aku mau minum aja, fruit teanya satu ya mbak" terang Fina sembari meletakkan buku menunya


"Saya lemon tea hangat mbak" imbuh Hamid


Setelah mencatat pesanan pelanggan, sang waiters pun meninggalkan mereka


"Ditunggu sebentar ya tuan, nyonya"


"Iya mbak" jawab Fina


Hamid tampak bingung memulai pembicaraannya, bahkan beberapa kali mereka terlihat kikuk saat berbicara dengan kata-kata dan intonasi yang sama.


"Aku"


"Aku"


Hamid mengangkat alisnya, dia menambahkan 


"Maaf Fin, apa kamu tidak keberatan kalau aku mengundang mu ke acara amal Minggu depan, sebenarnya aku kekurangan teman untuk membantu mempersiapkannya. Ya itu pun kalau kamu ada waktu, aku nggak memaksa kok"


"Tentu saja aku mau, apa lagi ini acara amal, mau banget Hamid." Jawab Fina dengan expresi senangnya


"Alhamdulillah kamu tidak menolaknya, terimakasih ya Fin"


"Sama-sama"


Setelah beberapa menit berbincang, waiters pun datang dengan nampan dikedua tangannya, ia menyajikan dua minuman di atas meja


"Silahkan diminum mbak, mas"


"Terimakasih"


Sambil menghilangkan rasa dahaga, mereka kembali mengobrol. Kali ini mereka berbicara lebih intens, Hamid  mulai menyelidik dengan berbagai pertanyaan padanya, sedikit demi sedikit lelaki itu mulai tertarik dengan kepribadian Fina yang periang dan humoris.

__ADS_1


"Aku senang bisa kenal kamu lebih jauh, kamu orangnya smart nyambung diajak ngobrol" puji Hamid, ia merasa nyaman ngobrol dengan wanita tinggi semampai itu


"Ih dokter bisa saja, jadi malu... pegangan ah, takutnya ntar terbang" canda Fina


"Hehehe sini aku tangkap, ntar langsung aku taruh dihatiku, biar hatiku nggak kosong lagi" goda Hamid


Semburat merah kembali menghiasi wajah Fina. Entah kenapa ada perasaan aneh dihatinya, padahal kata-kata itu hanyalah bualan sebagai balasan candaannya saja.


"Hei kok bengong, jangan parno gitu dong, ini pertama kalinya aku ngegombalin cewek loh" 


"Ih siapa yang parno, orang aku lagi mikirin sesuatu." Elak Fina pura-pura tenang


"Mikirin apaan Fin? Pacarmu ya?" Selidik Hamid lagi


"Nggak kok, orang aku jomblo forever... Hehehe aku ini perawan tua dok, nggak laku-laku" canda Fina yang terlalu vulgar menceritakan kehidupan pribadinya


"Sama Fin, aku juga jomblo kok" terang Hamid dengan senyum tipisnya


"Masak sih dok, dokter Hamid ganteng loh, nggak mungkin belum punya pasangan" kata Fina tak percaya


"Jangan panggil aku Dok terus dong Fin, panggil Hamid aja ya biar lebih akrab. Jujur aku memang belum punya pasangan, aku suka minder kalau dekat dengan wanita, aku takut pasangan ku tidak nyaman dengan pekerjaan ku" 


"Kok gitu, pekerjaan seorang dokter itu sangat mulia loh, dokter Hamid mungkin terbawa perasaan saja kali"


Sepertinya Fina ada harapan untuk mengejar cinta sang dokter, Selama ini ngenes juga nasibnya tidak pernah beruntung dalam percintaan, ia memang sulit mendapatkan pasangan, dulu di kampus ia sering dikejar-kejar mahasiswa seangkatan dengannya, tetapi setelah mengetahui Farid kakaknya yang terlalu over protektif dan juga galak, mereka semua mundur alon-alon


Tak berani menghadapi kesangaran dan juga galaknya seorang Farid.


Sampai sekarang ia tidak pernah berpacaran dengan pria manapun, pernah mencintai seorang lelaki teman sekampusnya, tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Lelaki itu sudah memiliki kekasih, bahkan tidak cuma satu wanita saja, bisa dibilang ia jatuh hati dengan lelaki yang salah.


Dia juga pernah mencintai lelaki dewasa yang super perhatian padanya, lelaki yang pengertian dan super romantis, tetapi setelah semakin dalam ia menyimpan perasaannya, ternyata lelaki tersebut menipunya. Lelaki itu ketahuan memiliki istri dan anak yang masih bayi.


Memang Allah belum mempertemukan jodoh untuknya, di usianya yang ke 27 tahun ia kembali jatuh hati pada seorang lelaki, kali ini ia jatuh hati pada seorang dokter di depannya, dokter yang terus saja memenuhi benaknya. 


Apakah Hamid memang jodoh pilihan Allah untuknya, Fina sangat berharap lelaki itu juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya. Ia percaya Allah akan memberikan jodoh terbaik untuknya, semoga Hamid benar-benar berjodoh dengannya.


Salah satu tanda kebesaran Allah Subhanahu Wata'ala adalah menjadikan pasangan manusia sebagai suami dan istri.


Orang-orang yang tadinya tidak saling mengenal bisa Allah pertemukan dan Allah hadirkan kasih sayang di hati masing-masing.


Jodoh juga termasuk rejeki. Karena jodoh telah ditetapkan oleh Allah, maka kita harus percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik.


Seperti rezeki, jodoh juga akan sampai kepada kita dan tidak akan pernah tertukar.


Semoga READERS yang belum menemukan jodohnya, segeralah didekatkan dengan jodoh pilihan Allah

__ADS_1


Dan semoga READERS yang sudah menemukan jodohnya, bahkan sudah mendapatkan keturunan yang shaleh dan sholehah, semoga semakin ditentramkan hatinya, diberikan kebahagiaan dan juga rejeki yang halal berlimpah.


__ADS_2