Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Rani menghina Aisyah


__ADS_3

Karena kesal  Rani melangkah cepat meninggalkan suaminya, ia berjalan menyusuri jalanan Malioboro seorang diri.


Ketika itu Anwar tidak  menyadari kalau penampilan seksi istrinya sungguh menarik kaum Adam.


Rani terus berjalan dengan menenteng tas merahnya, wajahnya masih di penuhi kekesalannya pada sang suami.


"Hei cantik... Sendirian aja, aku temani ya" ucap salah seorang lelaki yang mungkin usianya lebih muda darinya.


"Boleh... Ayo temani aku jalan-jalan aku lagi bete nih" jawab Rani. Dengan gampangnya ia menerima tawaran lelaki asing itu


"Hei aku Juna"


"Aku Rani"


"Kamu cantik sekali... Dan juga tubuhmu seksi seperti Jenifer Lopez"


"Masak sih"


"Iya benar-benar Perfect"


"Hemh... Terimakasih. Kamu juga tampan, masih muda lagi"


Rani mulai tergoda dengan lelaki tersebut, penampilannya yang keren layaknya anak band membuat Rani tak bisa memalingkan wajahnya. Apalagi paras lelaki tersebut tampak ada keturunan blesteran, rambutnya yang ikal tergelung berantakan semakin menambah ketampanannya


"Kamu mau nggak aku ajak ke tempat yang indah banget, pasti kamu bakalan suka"


"Mau... Mau banget"


Rani bahagia mendapatkan teman barunya, karena kekesalannya kepada suaminya yang membuatnya bersedih tadi, kini dia bisa terhibur oleh lelaki muda yang bernama Arjuna itu.


Ia menghabiskan waktunya sampai larut malam bersama Arjuna.


"Juna aku mau minum lagi" kata Rani sempoyongan, dia menyodorkan gelasnya pada Arjuna

__ADS_1


"Tentu sweety..." Jawab Arjuna tersenyum sambil menuangkan bir ke dalam gelasnya


"Ayo kita berpesta" teriak Rani sambil berjoget bersama Arjuna, ia meliak liukkan tubuh indahnya di dalam pelukan lelaki tersebut. Sungguh ia tengah mabuk, tak sadar akan statusnya yang sudah bersuami.


"Kamu mabuk berat sweety, kita istirahat di kamar aja ya" kata Arjuna dengan senyum liciknya.


Ia memapah tubuh seksi Rani meninggalkan club' malam tersebut. Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai atas yang memang ada banyak kamar untuk menginap.


Disalah satu kamar tersebut Arjuna melampiaskan nafsunya kepada Rani. Seperti layaknya seorang kekasih mereka berhubungan badan, 


Rani seakan menjadi fantasi liar Arjuna. Arjuna meluapkan gairahnya dengan posisi yang sama persis dengan film panas yang sering ia tonton bersama rekannya. Ia memainkan beberapa fantasinya hingga membuatnya mencapai puncak kenikmatan, dan itu ia lakukan berulang kali sampai Rani berbaring tak sadarkan diri.


"You are so hot sweety. I really like u... 


Ini no handphone ku... Kalau kamu merindukan ku, aku akan datang padamu" 


Ketika Rani tersadar, ia membaca lembaran kertas itu sembari tersenyum, hatinya sungguh berbunga-bunga. Ternyata berhubungan dengan lelaki yang lebih muda darinya itu sangatlah menyenangkan.


"Aku pasti menelfon mu lagi Juna" katanya dengan senyum senyum sendiri layaknya seorang yang sedang jatuh cinta


"Salah sendiri mas Anwar masih sering memikirkan wanita sok suci itu. Kalau mas Anwar selingkuh, tentunya aku bisa membalasnya" gumamnya menyalahkan sikap suaminya. Bukanya menyesal karena berbuat dosa, ia malah melimpahkan kesalahannya kepada sang suami.


Rani tampak membereskan barang-barang ke dalam tasnya, kemudian ia bergegas keluar dari tempat hiburan malam itu.


Ia menuju hotel dimana tempat ia dan yang lainnya menginap. Dandanannya yang sedikit acak-acakan membuat semua staf hotel memandanginya.


Rani tampak tak menyadari hal itu, ia dengan percaya dirinya masuk ke dalam lift. Ketika pintu lift akan tertutup, tiba-tiba terbuka kembali. Kedua matanya membelalak melihat sosok Aisyah yang tengah masuk satu lift dengannya.


Aisyah pura-pura tidak tahu, ia hanya berdiri menunduk di depan Rani. Kemudian Rani yang merasa jengkel dengan mantan istri suaminya itu. Ia menarik tangan Aisyah kebelakang sampai menatap dinding lift, Aisyah berusaha membela dirinya.


"Ada apa mbak, kenapa mbak Rani menarikku dengan sangat keras"


"Kamu... Dasar wanita sok suci, munafik...!

__ADS_1


Sampai kapan pernikahanmu akan bertahan, kamu itu wanita mandul. Tidak akan pernah bisa memberikan keturunan untuk suamimu" cela Rani dengan nada kasarnya


Hati Aisyah terasa pedih mendengar perkataan Rani, ia takut dengan yang dikatakan Rani itu ialah benar. Padahal sudah terbukti waktu dulu dia memeriksakan kandungannya ta ada masalah dalam hal tersebut. Hanya saja Allah yang masih belum mempercayakan itu padanya.


Aisyah menitihkan air matanya, ia tak bisa berkata-kata. Faktanya memang dirinya di ceraikan Anwar karena belum bisa memberinya keturunan


"Lihat ini perutku... Ada janin mas Anwar disini? Kamu tidak akan pernah menjadi wanita sempurna karena kamu itu mandul...hah" Rani kembali mendorong Aisyah.


Ia menunjukkan perutnya yang masih rata bahwa didalam perutnya ada nyawa lain. Sesungguhnya Rani hanya membual saja, ia berusaha menyakiti perasaan Aisyah dengan menyindir seperti itu.


Pintu lift sudah terbuka, Rani keluar lebih dahulu, kemudian Aisyah keluar sembari menyeka air matanya dengan tisu.


Tuduhan Rani masih terngiang ngiang di benaknya. Ia takut tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Ia takut rumah tangganya akan gagal untuk yang kedua kalinya.


Perlahan ia melangkah memasuki kamarnya, dengan wajah yang masih memerah ia memancarkan kesedihannya. 


"Sayang kamu kenapa?


Kamu habis nangis ya?" Tanya Farid langsung menaruh koran yang ia baca.


Farid segera beranjak dari tempatnya, ia melangkah menghampiri istrinya.


"Duduklah sayang, sebenarnya ada masalah apa? Ceritalah"


"Mas Aisyah takut, Ais takut mas Farid akan meninggalkan Ais karena Ais tidak bisa memberikan keturunan untukmu mas" mata Aisyah kembali menitikkan air mata, ia tidak berani menatap mata suaminya


"Sayang... Jangan bersedih seperti itu, meskipun Allah menghendaki hal tersebut, Insya Allah suami mu ini akan tetap setia, aku sudah berjanji kepada mu kalau kita akan menua bersama sampai menuju surganya. Ingatlah sayang, janjiku itu disaksikan oleh seluruh keluarga kita dan Allah sebagai saksinya" terang Farid mengangkat dagu istrinya, ia mengusap air mata itu dengan penuh kelembutan.


Perlahan kedua netranya menatap lawan bicaranya, iya melihat kejujuran dari netra suaminya.


"Terimakasih mas... Maafkan aku karena sudah membuat mu khawatir." Aisyah memeluk pinggang suaminya yang tengah menunduk di hadapannya.


"Iya sayang, lain kali jangan berfikiran seperti itu ya. Jodoh, kematian, dan rejeki itu sudah diatur sang Ilahi, kita tidak boleh mendahuluinya."

__ADS_1


"Iya mas"


Farid pun meminta istrinya untuk bersiap, mereka berdua akan segera turun ke bawah untuk melihat pagelaran seni tari yang diadakan di halaman Mall.


__ADS_2