Menikah Yang Ke-dua

Menikah Yang Ke-dua
Kehadiran Umi


__ADS_3

Rani masih duduk terpaku dengan emosinya yang membara


"Sial... Gara-gara adiknya Farid, rencana ku jadi gagal" geram Rani sembari meninju tangannya ke udara


Ia tampak kesal dengan Fina, kalau saja Fina tidak datang, mungkin rencananya untuk membunuh janin Aisyah akan berhasil. Ia belum puas kalau belum bisa membuat Aisyah dan keluarganya menderita


"Aduh perutku sakit sekali" tiba-tiba Rani merasakan sakit perut yang luar biasa, rasanya ada sesuatu yang meremas-remas isi perutnya. Sudah beberapa hari ini dua sering merasakan sakit perut yang begitu menyiksa


Dia berjalan tertatih dengan sempoyongan


"Tolong... Tolong perutku sakit sekali"


pekiknya meminta tolong, wajahnya pucat pasi,, matanya mulai berkunang-kunang, dan ia pun jatuh pingsan


Beberapa perawat yang melihat Rani tergeletak di lantai, mereka langsung mengangkat tubuh wanita itu ke atas tempat tidur pasien, kala itu dokter Hamid yang memeriksa kondisinya.


Hampir satu jam Rani pingsan, akhirnya ia siuman juga. 


"Dimana saya..." Kedua matanya menatap langit-langit, lalu berkelanjutan melirik seisi ruangan dengan mata bulatnya.


"Anda dirumah sakit, tadi perawat menemukan anda tergeletak di lantai dengan kondisi tak sadarkan diri, jadi mereka membawa anda kemari" jelas dokter Hamid dengan nada sopanya


"Saya sakit apa dok? Perut saya nyeri sekali, dan haid saya sudah sebulan ini nggak berhenti dok" terang Rani menangis tersedu-sedu, ia menyuarakan kegelisahan yang melanda hatinya, sakit perut yang begitu menyiksa dan juga datang bulan yang tak kunjung berhenti, kedua hal itu sangat membuatnya tidak nyaman, gara-gara hal itu, Arjuna menjauhinya


"Tenang nona, saya sudah memeriksa kondisi anda. Beberapa tim dokter mendiagnosa anda sakit kanker serviks stadium awal, untuk lebih jelasnya, kita tunggu hasil lab'nya keluar" terang dokter Hamid menjelaskan penyakit yang diderita Rani, gejalanya memang mengarah kesitu.


"Apa dok.. kanker serviks? Apa bisa sembuh dok? Aku tidak mau mati dok... Tolong selamatkan saya Dok" Rani menangis histeris, gelisah dan takut, ia takut penyakitnya tak bisa disembuhkan. Apalagi keinginannya untuk membalas dendam juga belum terwujud, ia merengek meminta kesembuhan pada dokter Hamid.


"Tunggu hasilnya besok ya, Anda istirahat saja, kondisi Anda juga masih lemah" perintah dokter Hamid


Sang dokter pun keluar dari ruangan Rani. Di atas tempat tidur Rani tampak gelisah, ia tidak bisa memejamkan kedua matanya. 


Hatinya tengah dirundung ketakutan, ia takut hasil pemeriksaannya benar-benar positif kanker serviks.

__ADS_1


"Ya Allah semoga aku tidak terkena penyakit mematikan itu, aku masih ingin hidup ya Allah, aku ingin menikah dengan Arjuna dan aku juga ingin membalaskan dendam ku pada Farid dan Aisyah. Mereka berdua harus menderita" Rani meremas kain yang menutupi ranjangnya, hati kecilnya tengah memendam kebencian yang begitu besar


Pantaskah meminta kesembuhan dari penyakitnya, dengan menyebut nama Allah diiringi dengan hati yang dipenuhi oleh dendam dan juga kebencian. Allah tidak akan meridhoi doa seperti itu , sepantasnya Rani memohon ampunan pada Allah, dan meminta maaf pada orang-orang yang telah ia dzolimi


🍁🍁🍁


Mentari pagi mulai berbinar cerah, suara kicauan burung menambah indahnya suasana pagi di kediaman keluarga Farid.


"Tin.. tin..."


Gunawan telah tiba, ia datang bersama Umi Fatimah Ibunda Aisyah.


Mendengar suara klakson mobil Gunawan,  Aisyah buru-buru keluar menuju halaman. Dengan senyum bahagia ia menyambut kedatangan sang ibunda tercinta.


Umi keluar dari mobil, beliau berjalan  menenteng tas merahnya.


"Assalamualaikum nak"


"Umi kangen sama kamu Ais, gimana kondisi cucu kembar umi" terang Umi perlahan melepaskan pelukannya, kedua matanya tertuju pada perut Aisyah, beliau mengelus perutnya dengan lembut.


"Aduh... Cucu-cucu umi, baik-baik ya di dalam perutnya bunda, nenek sudah tak sabar menantikan kehadiran kalian"


"Hehehe... Iya nenek, dedek juga udah nggak sabar pengen main sama nenek" 


"Hehehe kamu bisa saja Ais" Ucap Umi dengan lengkung senyumnya.


"ayo masuk Umi" ajak Aisyah menggandeng lengan ibunya


"Biar saya yang bawa tasnya nyah" bi Inah menghampiri mereka berdua, lalu ia mengambil alih tas merah yang dibawa Aisyah. Tak lupa ia juga mencium tangan mertua majikanya.


"Ini bi Inah Umi, bi tolong bawa tas Umi ke kamar tamu ya"


"Baik nyonya" bi Inah pun bergegas menuju kamar tamu. 

__ADS_1


"Duduk sini Umi, pasti Umi capek ya? Sini aku pijitin" Aisyah duduk disamping ibunya, ia memijat pundak sang ibunda. Paras Umi tampak letih karena perjalanan jauh yang memakan waktu cukup lama


"Sudah Ais, kamu lagi hamil harus dijaga baik-baik, jangan terlalu banyak aktivitas." Umi meraih tangan putrinya, ia meletakkan kedua tangan putrinya di pangkuannya


"Umi bersyukur sekali nak, akhirnya Allah memberikan kepercayaan pada kalian, jaga baik-baik cucu Umi, mulai sekarang Umi akan cerewetin kamu. Ais harus nurut apa pun perintah Umi, ini semua demi kebaikan mu dan bayimu nak" tutur lembut Umi memberikan nasihat pada putrinya.


"Iya Umi, Ais bakal nurutin semua perkataan Umi, terimakasih ya Umi." Aisyah kembali membungkuk mencium tangan ibunya


"Ini minumnya nyah, mari silahkan diminum" bi Inah menyajikan 2 cangkir teh di atas meja


"Terimakasih bi" kata Aisyah dengan senyum manisnya


"Terimakasih Bi" imbuh Umi


"Sama-sama nyah" bi Inah pun kembali ke dapur dengan nampan kosong ditangannya.


Aisyah kembali berbincang dengan ibunya, mereka berdua saling melepas rindu satu sama lain. Aisyah sedikit sedih ketika ibunya bercerita tentang ayahnya, Abi tidak bisa ikut ke kota karena beliau sedang sibuk dengan pekerjaan bertaninya. Apalagi Akhmad juga akan menghadapi ujian akhir sekolah, jadi beliau lebih memilih untuk menemani Akhmad sampai ujiannya usai.


Setelah hampir satu jam berbincang, Aisyah menyiapkan makanan untuk makan siang bersama ibunya.


"Umi setelah ini Ais tinggal ke kantornya mas Farid dulu ya, Ais mau nganterin makan siang untuk mas Farid" terang Aisyah sambil mengisi kotak nasinya.


"Iya nak, di mana kamar Umi? Umi mau zuhuran dulu"


"Mari saya antar Umi"


Aisyah meletakkan centong nasinya, ia mengantar ibunya ke kamar yang akan beliau tempati.


Setelah itu Aisyah kembali ke meja makan, ia kembali melanjutkan aktivitasnya. Setelah semuanya selesai, ia pergi ke kamar untuk mengambil sling bagnya, kemudian ia mengambil tas kotak yang berisikan bekal untuk makan siang suaminya.


"Ayo berangkat pak gun, pak gun sudah makan siang kan?" Tanya Aisyah menghampiri Gunawan yang duduk di teras sambil menikmati secangkir kopinya.


"Sudah Bu Aisyah, mari...Bu" jawab Gunawan sembari menyeruput kopinya, setelah itu meletakkan cangkir kopinya di atas meja

__ADS_1


__ADS_2