
Setelah selesai berbincang dengan Hamid, Fina pun pulang ke rumah karena waktu juga sudah hampir malam
Di rumah Aisyah dan ibunya sudah menyiapkan masakan hidangan khas orang Jawa
Berbagai menu masakan sudah tersedia di atas meja, dari mulai sayur jantung pisang, terong goreng, tempe goreng, sambal terasi, oseng petai, dan juga rendang terlihat sangat menggugah selera.
"Assalamualaikum" Fina melangkah masuk, ia mencium tangan Umi
"Waalaikumsalam, ayo nak cuci tanganmu, kita makan bersama" kata Umi
"Tunggu mas Farid ya Umi, sebentar lagi pulang kok" tutur Aisyah, sebenarnya perutnya sudah tidak sabar untuk menyantap hidangan di atas meja itu
"Wah... Sepertinya enak ya, bisa-bisa berat badan ku naik nih, kalau umi masak enak terus" kata Fina juga sambil melirik ke atas meja
"Assalamualaikum"
Akhirnya Farid pulang juga, Aisyah sedari tadi sudah tak sabar ingin memakan masakan uminya
"Waalaikumsalam" jawab mereka bertiga bersamaan
Farid mencium tangan Umi, lalu Aisyah juga melakukan seperti halnya Farid, ia mencium tangan suaminya, lalu ia mengambil tas ditangan suaminya.
"Kak Farid ayo cuci tangan dulu, perutku sudah lapar nih" ajak Fina
Farid pun mengangguk, mereka berdua mencuci tangan terlebih dahulu.
Aisyah meletakkan tas kerja suaminya di atas meja di ruang tengah, lalu ia kembali bergabung bersama mereka di meja makan
Semua orang pun mulai membaca doa sebelum menikmati hidangannya, Umi mengambilkan nasi untuk mereka bertiga
__ADS_1
"Sudah Umi, terimakasih biar saya sendiri, Umi makan saja" terang Farid menghargai perhatian mertuanya
"Sayang ... !
Makan yang banyak ya , biar anak kita cepat besar" imbuh Farid sambil mengambil beberapa lauk dan menaruhnya di atas piring istrinya.
"Terimakasih mas" jawab Aisyah sambil menikmati makanan lezatnya, masakan umi memang begitu menggugah selera, sampai-sampai ia menghabiskan dua porsi makan malam dari biasanya
"Is, gimana rasanya hamil muda? Apa memang orang hamil selera makannya bertambah ya?" Tanya Fina penasaran, ia sebenarnya sedikit terkejut dengan perubahan Aisyah, Aisyah yang biasanya makanya cuma sedikit, sekarang menjadi dua porsi lebih dari biasanya, bahkan kalau cocok seperti ini bisa nambah lagi dan lagi
"Tidak nak Fina, bawaan hamil itu berbeda-beda. Kalau seperti Aisyah begini namanya hamil ngebo, apa-apa dimakan asal nggak mual, ada juga yang namanya hamil medeking biasanya yang hamil nggak bisa makan apa-apa, bawaannya mual dan tidak kuat melakukan aktivitas berat, jadi harus banyak istirahat. Semoga saja nanti nak Fina kalau sudah menikah, bisa langsung hamil kaya Aisyah." Tutur Umi sambil mendoakan Fina, Aisyah tampak begitu menikmati hidangan makan malamnya, sampai ia tak sadar dengan pembicaraan mereka
"Amin, terimakasih doanya umi" jawab Fina malu-malu, ia tengah membayangkan duduk di pelaminan bersama Hamid.
"Fin kamu kok senyum-senyum sendiri sih, jangan-jangan kamu sudah punya pacar ya?" Terka Farid
"Ih kalian berdua kepo deh, hehehe bisa dibilang masih pdkt lah" jawab Fina santai
"Aku doakan semoga kalian berjodoh ya Fin, semoga dokter Hamid bisa menjadi imam yang baik untuk mu kelak" kata Aisyah. Perutnya sudah kenyang, ia menaruh kedua sendoknya, piring di depannya juga sudah bersih tanpa sisa makanan
"Amin ya Allah"
"Amin ya rabbal allamin" jawab Fina dan Umi mengamininya
Setelah selesai makan malam, umi dan Fina membereskan meja makan, Umi melarang putrinya untuk ikut andil dalam urusan beres-beres, kecuali kalau membantu memasak beliau masih memperbolehkan karena Aisyah yang memaksa, katanya kalau tidak mencium aroma dapur sehari saja rasanya ada yang berbeda, suasana hatinya bisa tidak tenang
Farid dan Aisyah berjalan beriringan menaiki anak tangga, lelaki itu sesekali menatap paras istrinya, ingin sekali ia membopong tubuh istrinya seperti hari-hari biasanya, tetapi sejak kemarin, sejak kedatangan Umi, Farid merasa tidak enak mengumbar kemesraan di depan sang mertua.
Sesampainya di lantai atas, Farid menengok ke lantai bawah, matanya melirik ke segala arah.
__ADS_1
"Mas turunkan mas, malu kalau dilihat umi" ujar Aisyah sedikit terkejut dengan polah suaminya yang tiba-tiba membopong tubuh gendutnya
"Hust, jangan keras-keras sayang. Aman kok, umi dan Fina nggak lihat kita kok. Lagian mas sudah nggak tahan, sehari aja nggak membopong tubuh kamu bawaannya kesal, sampai tadi di kantor aku marah-marah nggak jelas" terang Farid sambil melangkah menuju kamarnya, nafasnya terasa berat sepertinya berat badan istrinya sudah naik pesat
"Hehehe bawaan dede bayi itu mas" goda Aisyah sembari tersenyum ia mencubit hidung mancung suaminya
"Mungkin begitu sayang" Farid semakin tertatih, perlahan ia menurunkan tubuh berat istrinya ke atas peraduan
"Sayang ayo main bola, aku sudah tidak sabar mau mengunjungi kedua bayi kita" tutur Farid sembari memegang lembut dagu Aisyah
Kedua pipi Aisyah langsung merah merona, dengan tersipu malu perlahan ia mengangguk.
Bibir mereka saling mendekat, keduanya menikmati kecupan hangatnya
Farid kembali meluaskan ciumannya, ia menyusuri tengkuk jenjang istrinya. Sungguh aroma tubuh ini yang membuatnya seperti candu yang memabukkan. Keromantisan itu berakhir di peraduan cintanya
***
Hubungan suami istri merupakan salah satu kebutuhan biologis setiap manusia yang harus dipenuhi. Selain untuk memenuhi kepuasan, hubungan suami istri juga bisa merupakan sebuah ibadah jika dilakukan sesuai syariat Islam dan sunah.
Setelah melakukan hal tersebut mereka berdua langsung membersihkan diri dengan mandi junub, sebelum beristirahat mereka berdua juga menunaikan ibadah shalat sunnah berjamaah.
***Mohon maaf bila ada pembaca yang non muslim, boleh di skip ya, atau juga boleh membaca karya ku yang lainnya. Di karya ku yang ini memang sengaja aku selipkan ilmu agama, biar kita bisa saling belajar kebaikan dan saling mengingatkan satu sama lainnya***
Mohon maaf bila ada aksara ku yang tidak sesuai dengan penafsiran kalian, atau ada sesuatu kalimat yang salah secara penulisan ataupun artinya, mohon Krisan-nya...
Terimakasih
__ADS_1