
Di akhir pekan ini Anwar kembali berkunjung ke rumah Farid, seperti biasanya ia selalu membawakan mainan untuk si kembar
Sebelum masuk ke dalam rumah ia melihat sosok Ema yang tengah menyiram tanaman dengan selang airnya, Anwar tampak melirik mencuri pandang tanpa sepengetahuan Ema.
"Pak Anwar" sapa Gunawan
"Pak Gunawan... mengagetkan saja" kata Anwar gelagapan karena terkejut
"Mari silahkan masuk pak Anwar, semua orang sepertinya ada di taman belakang. Non Fani juga ada disini" seru Gunawan
"Ya pak, sebentar saya ada urusan dengan Ema" kata Anwar sambil kembali mengarahkan pandangannya pada Ema yang masih fokus dengan pekerjaannya
"Baik pak" jawab Gunawan
Anwar pun melangkah mendekati Ema, entah perasaan apa yang ia rasakan saat itu, yang pastinya jantungnya berpacu begitu cepat. "Aduh ngomong apa ya? kenapa aku jadi canggung gini" serunya dalam hati, ia sudah berada tepat di belakang Ema
Dengan perasaan canggung ia pun menepuk bahu Ema dari belakang
"Eh...eh..." Ema sangat terkejut, dengan refleks ia berbalik badan dan selangnya tanpa sengaja membasahi tubuh Anwar
"Ah... maaf... maaf tuan, saya tidak sengaja" ucap Ema ketakutan
"Bodoh... bodoh, kok bisa barusan aku bayangin wajah lelaki ini. Eh tuan Anwar beneran ada disini, bodohnya aku malah mengguyurnya sampai basah kuyup" pekik Ema kesal dalam hati
Anwar mengusap wajah basahnya, kemudian ia merapikan rambut basahnya sambil berkata
"Nggak papa, aku yang salah udah ngagetin kamu"
"Maaf pak, saya benar-benar tidak sengaja" ucap Ema sambil menunduk lesu
Ema tak berani menatap paras Anwar, ia hanya menatap celana hitam Anwar yang juga basah olehnya. Wanita lugu itu tak berhenti menyalahkan dirinya sendiri, atas kebodohannya.
"Kan aku sudah bilang nggak papa, jangan takut begitu dong Ema. Emh... aku boleh minta tolong kan? Tolong pinjamkan baju Farid untuk ku ya?" pinta Anwar, ia sudah merasa hawa dingin dari pakaian basahnya merasuk ke dalam tubuhnya
"Baik-baik pak" tanpa basa-basi Ema bergegas masuk ke dalam rumah untuk mencari tuanya
__ADS_1
Sesampainya di taman belakang ia mulai berbicara dengan Farid
"Permisi tuan Farid, itu di depan ada tuan Anwar, pakaiannya basah karena saya tidak sengaja menyiramnya, itu... tuan Anwar meminjam pakaian" tutur Ema sembari mengotak atik jemarinya
"Kamu ambilkan di walk in closet ya Ma, kamu pilihkan pakaian yang masih baru, di laci bawah sendiri" jawab Farid, kemudian ia bergegas ke depan untuk menemui Anwar
"Ema ayo aku bantu Carikan" kata Aisyah
"Sayang kalian berdua sama Abi dulu ya.
Abi.. Ais ke atas dulu bantuin Ema ya" kata Aisyah sambil menurunkan kedua putranya dari pangkuannya
"Iya Bun" jawab si kembar dan Abi Thalib mengangguk saja
Aisyah dan Ema pun bergegas naik ke atas, Di dalam kamar mereka langsung menuju ruang tengah, yaitu ruang penyimpanan pakaian dan juga aksesoris milik Farid dan Aisyah
"Ema, menurutmu mas Anwar bagaimana?" tiba-tiba Aisyah menanyakan hal yang private pada Ema. Sontak membuat Ema celingukan kebingungan
"Maaf maksud nyonya bagaimana apanya" tanya Ema balik bertanya, ia malu mengakui maksud dari pertanyaan Aisyah
"Sepertinya mas Anwar suka loh Ma sama kamu, menurutmu gimana? apa kamu juga menyukai lelaki seperti mas Anwar" tanya Aisyah kembali
"Aku pernah kenal dekat dengan mas Anwar loh Ma, insyaallah aku yakin mas Anwar menaruh hati padamu. Aku malah setuju kalau mas Anwar beneran suka sama kamu, ya meskipun mas Anwar pernah salah memilih pendamping tetapi sebenarnya mas Anwar itu lelaki yang baik dan bertanggung jawab kok Ma" imbuh Aisyah sambil memilihkan pakaian untuk Anwar
"Ema bingung nyah, nggak mungkin tuan Anwar menyukai wanita janda seperti saya" Ema kembali mengelaknya. Padahal mulut tak seraya dengan hatinya, dalam hati ia begitu senang mendengar penuturan Aisyah
"Jangan bingung Ma, kalau pun kalian benar-benar berjodoh insyaallah Allah akan mendekatkan kalia. Ini pakainya kamu kasihkan mas Anwar langsung ya" kata Aisyah sambil memberikan dua helai pakaian pada Ema
"Iya nyah"
Ema mengambil pakaian tersebut, kemudian segera turun ke bawah untuk memberikan pakaian tersebut pada Anwar.
Ema masih dihantui oleh rasa penasarannya, penasaran dengan penuturan Aisyah apakah memang begitu adanya. Meskipun memiliki suami seperti Anwar hanyalah mimpi baginya, tetapi ia sangat berharap mimpinya bisa menjadi kenyataan
"Ma mau kemana kok buru-buru begitu" tanya Fina yang melihat Ema menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa
__ADS_1
"Itu non Fina, mau memberikan baju ganti untuk tuan Anwar" jawab Ema
"Memangnya Anwar ada di sini?" tanya Fina sinis, ia sedikit ilfil mendengar nama Anwar disebut, dulu ia membenci lelaki itu karena dia tega menyakiti hati sahabatnya
"Iya non, masih di halaman"
"Ya udah sana" jawab Fina mengkerutkan bibirnya
Ema pun kembali melangkah keluar, di luar sudah ada Farid dan Anwar yang tampak mengobrol, di tengkuk Anwar terlihat handuk putih yang menyelimuti
"Ini tuan bajunya" kata Ema sambil memberikan dua lembar pakaian di tangannya kepada Anwar
Setelah itu Ema kembali melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Farid dan Anwar masuk ke dalam rumah
"Sebentar ya Rid, aku ganti baju dulu... makasih loh ya bajunya, jadi ngrepotin kamu" terang Anwar
"Lah biasa saja War, kita kan sudah seperti saudara, jangan sungkan-sungkan" jawab Farid
"Aku tunggu di taman belakang ya" kata Farid sebelum meninggalkan Anwar
"Oke" jawab Anwar
Setelah selesai berganti pakaian, bukanya keluar ke taman belakang rumah, Anwar malah keluar menuju halaman rumah, dia melihat Ema yang tengah melipat selang air ditangannya, kemudian ia mengambil paper bag putih yang ia letakkan di teras meja, lalu ia memberikan paper bag tersebut pada Ema
"Ema ini hadiah buat kamu"
Ema langsung menoleh ke belakang, ia berbalik dengan paras malu ia meraih paper bag dari tangan Anwar
"Apa ini tuan Anwar?" tanyanya melirik isi paper bag itu
"Itu hadiah khusus untuk mu, semoga kamu suka ya" kata Anwar tersenyum
"Terimakasih pak Anwar" ucap Ema turut mengukir senyumnya
"Besok kamu mau nggak aku ajak makan siang bareng"
__ADS_1
perkataan Anwar membuatnya menelan salivanya "Huk...huk...tuan mau mengajak saya makan siang? Maaf sepertinya saya tidak bisa tuan, besok saya harus menemani si kembar bermain" tolak Ema secara halus
Ia mengelak ajakan Anwar karena dirinya memang tak memiliki waktu luang untuk jalan-jalan ataupun keluar mencari hiburan. Dia lebih memanfaatkan waktunya untuk menjaga si kembar dan membantu membersihkan seluruh rumah karena bi Inah sudah tak sekuat dulu lagi, Sekarang bi Inah hanya bertugas memasak saja, setelah itu beliau pulang ke persinggahan sebelah rumah Utama. Jadi sekarang yang menghendel seluruh pekerjaannya ialah dirinya, tetapi Alhamdulillah Aisyah juga sering membantu pekerjaannya