
Laura sedang bersantai di ranjang empuk yang berada dikamarnya, hari ini merasa sangat bosan karena tidak ada satu pun orang yang mengajaknya keluar untuk bersenang-senang. Akhirnya Laura pun memilih untuk bersantai saja di apartment miliknya itu. Ia melakukan beberapa aktivitas untuk memanjakan dirinya dan juga untuk menjaga wajahnya agar selalu terlihat cantik. Begitulah Laura, selalu merawat dirinya dengan sangat baik karena bagi Laura kecantikan adalah kebahagiaan untuknya.
Laura mendengar ponselnya berbunyi dan terlihat nama John lah yang tertera di ponselnya itu. Dengan cepat Laura langsung meraih ponsel miliknya dan segera menjawab panggilan dari John. Setiap John menghubunginya pasti ia akan tersenyum karena akan dengan mudah ia mendapatkan banyak uang dari pria yang bernama John itu.
"Baiklah. Kau tahu ini tidak termasuk dalam perjanjian kita sebelumnya, dan kau harus membayarku dengan sangat mahal karena aku akan membuang waktuku hanya untuk bertemu denganmu dan juga keluargamu itu! Kau paham?" Ucap Laura dengan sangat jelas, setelah seseorang di sebrang sana menyetujui permintaannya Laura pun menutup panggilan di ponselnya.
Laura tersenyum dengan sangat lebar saat mengetahui bahwa Agatha meminta dirinya untuk kembali makan bersama, tapi kali ini Agatha meminta untuk Laura datang ke rumahnya dengan alasan supaya lebih dekat dengan keluarga John.
"Hidupku terasa sangat bahagia setelah bertemu dengan pria tampan itu," Lirih Laura sambil merebahkan tubuhnya kembali ke ranjang empuk miliknya.
***
John tersenyum simpul setelah selesai berbicara dengan Laura melalui ponsel, ia selalu berpikir bahwa Laura bukan lah wanita yang biasa. Bagi John, Laura adalah wanita yang sangat pintar dan juga licik karena wanita itu selalu bisa memanfaatkan setiap keadaan saat Agatha meminta untuk bertemu dengan Laura.
Bukan masalah yang besar untuk John jika ia harus membayar Laura dengan harga yang sangat mahal, karena sejak awal tujuannya hanya untuk membuat Agatha berhenti menjodohkannya. Tapi hari ke hari ada rasa penasaran yang terlintas dalam pikiran John tentang wanita yang bernama Laura itu, banyak hal tentang Laura yang sangat ingin John ketahui.
__ADS_1
"Kau membuatku penasaran Laura," Lirih John sambil menatap layar ponselnya yang terlihat jelas foto dirinya dan juga Laura. Itu John lakukan hanya untuk meyakinkan semua keluarganya jika ia benar memiliki kekasih.
John tidak berhenti menatap wajah cantik Laura di layar ponsel miliknya, sejujurnya ia sangat mengakui bahwa Laura memang sangatlah cantik. Dan John sangat yakin pasti banyak pria diluar sana yang berebut untuk menjadi kekasih Laura, tapi sayangnya ia lah yang beruntung menjadi kekasih Laura walaupun hanya pura-pura.
Tanpa John sadari kini ia tengah tersenyum saat mengingat Laura, jangankan melihat wajah cantik wanita itu dengan mengingat namanya saja kini sudah membuat John tersenyum. John merasa sangat beruntung di pertemukan dengan wanita secantik Laura, karena dengan itu ia dapat bebas dari permintaan neneknya yang sangat tidak masuk akal.
John mulai membenarkan jas nya yang terlihat sedikit berantakan karena tidak ingin terlihat kusut dan berantakan oleh para pasien yang akan ia periksa. John menghela nafasnya dengan cukup kasar, ia merasa jika tubuhnya sangat lelah karena hari ini cukup banyak pasien yang harus ia tangani. Karena John adalah seorang dokter spesialis umum, maka semua kalangan usia dapat ia temukan.
"Gracia," Ucap John memanggil salah satu pasien nya yang sudah menunggu diluar ruang kerja John.
"Apa keluhanmu?" Tanya John sambil menatap serius wajah cantik Gracia. John bangkit dari duduknya dan segera memeriksa keadaan Gracia, karena wanita itu kini tengah merasakan demam yang sangat tinggi.
John kembali ke tempat duduknya yang di ikuti oleh Gracia, "Kau jangan makan yang sembarangan terlebih dahulu, karena kondisimu sedang tidak baik. Dan ku ingatkan juga untukmu jangan terlalu capek dalam beberapa waktu! Jika kondisimu sudah baik kau bisa kembali beraktivitas seperti biasa," Ucap John sambil menuliskan resep obat untuk wanita yang berada dihadapannya itu.
Wanita yang bernama Gracia itu pun hanya tersenyum dan mengangguk dengan pelan, ia terlihat seperti gugup saat berhadapan langsung dengan pria setampan John. Terlihat dari wajahnya yang semula putih menjadi sedikit memerah, dan John tertawa kecil melihat tingkah wanita itu.
__ADS_1
John tersenyum sambil menatap Gracia, "Kau kenapa? Apa ada yang kau rasakan lagi?" Tanya John dengan sangat ramah ditambah senyum yang terukir di wajah tampannya yang membuat siapa pun wanita akan terhanyut dengan ketampanan yang dimiliki oleh John.
"T..tidak ada dok, aku hanya gugup karena berhadapan langsung dengan pria tampan sepertimu," Ucap Gracia dengan cepat menundukan kepalanya karena merasa sangat malu dengan apa yang ia ucapkan barusan.
John tertawa cukup keras mendengar ucapan wanita yang tak lain adalah pasien nya itu, bukan hanya Gracia yang berkata seperti itu. Bahkan sudah puluhan bahkan ratusan pasien yang John periksa mengatakan persis seperti apa yang dikatakan oleh Gracia, dan itu sudah menjadi hal yang biasa untuk John bahkan ia menganggap bahwa hal seperti itu adalah obat lelah ia selama bekerja. Kebahagiaan seorang dokter adalah melihat pasiennya sembuh ataupun melihat pasiennya merasa bahagia.
"Kau lucu sekali. Kenapa kau harus merasa gugup hanya karena berhadapan denganku? Lagian aku tidak akan menggigit ataupun memakanmu Gracia," Ucap John sambil tertawa cukup keras dan membuat wanita itu ikut tertawa.
Gracia merasa kalau John adalah orang yang sangat baik, dan ia berharap jika dirinya bisa lebih dekat dengan John. Menjadi teman yang baik dan saling bertukar pikiran ataupun saling bercerita layaknya sebagai seorang teman di luar sana.
"Ini resep obatmu dan bisa kau ambil di tempat pengambilan obat. Ada yang ingin kau tanyakan lagi padaku Gracia?" Tanya John sambil memberikan resep obat pada wanita cantik itu.
Gracia terdiam sejenak sambil melihat John yang sedang sibuk merapikan beberapa file yang berada di mejanya itu, "Apa kau bersedia untuk menjadi temanku dok? Teman yang bisa bertukar cerita ataupun bertukar pikiran denganku?" Tanya Gracia dengan suara yang terdengar sangat pelan karena merasa malu dengan John yang kini menatapnya dengan sangat serius.
"Baiklah. Mulai hari ini kita berteman, dan kau bisa datang kepadaku kapan saja. Dan ini nomor ponselku, kau bisa menghubungiku tapi diluar jam kerjaku. Apa kau mengerti?" Tanya John sambil memberikan kartu nama miliknya pada wanita yang bernama Gracia itu, Gracia terlihat sangat bahagia dan langsung pamit meninggalkan John.
__ADS_1
John berpikir jika pasien nya tadi itu adalah orang yang sangat baik dan bisa dijadikan sebagai sahabat, terlihat dari wajahnya yang sangat ramah pada siapapun dan John mengakui bahwa ia sangat kagum pada wanita yang tadi ia periksa itu. Tapi ia menepis pikirannya dan kembali berpikir bahwa ia harus profesional dan bersedia membuat para pasiennya nyaman dengan dirinya.